Home Bentara 2020, Tahun Merdeka untuk Korban Pasung

2020, Tahun Merdeka untuk Korban Pasung

85
0
SHARE
2020, Tahun Merdeka untuk Korban Pasung

Keterangan Gambar : Avent Saur

“Saya merasa sudah merdeka tepat pada tahun baru ini. Sudah tujuh bulan, saya merasakan penderitaan yang berat. Hari ini semuanya sudah berlalu.” —Korban Pasung, Johni Dua

Semua orang optimistis untuk melakukan pembaruan diri dan perubahan sosial pada tahun baru. Ya sekalipun sekian sering semuanya itu lebih diwarnai seremoni dan ritus yang sudah biasa dilakukan setiap tutup tahun lama dan mengawali tahun baru.

Dan semua orang memiliki hak dan kebebasan untuk bersikap terhadap momen tersebut. Tetapi juga semua orang memilik tanggung jawab untuk pembaruan dirinya dan pembaruan sosial sekalipun tidak semua orang melakukan tanggung jawab tersebut.

***

Dalam kerangka hak, kebebasan, dan tanggung jawab tersebut, pada akhir tahun 2019, segelintir sukarelawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) yang sejak 2014 menaruh kepedulian terhadap penderita gangguan jiwa di Provinsi NTT, memilik keputusan untuk mengisi momen tutup tahun dan buka tahun baru dengan berjalan-jalan ke wilayah Kabupaten Ngada, Pulau Flores.

Mereka menyusuri jalan-jalan dan lorong di beberapa titip di wilayah Belu, Mataloko, dan wilayah Dadawea, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, untuk menjumpai saudara-saudari yang menderita gangguan jiwa bersama keluarganya.

Beberapa di antara saudara-saudari penderita tersebut sudah belasan tahun menjalani hidup dalam pasungan dan lilitan derita gangguan jiwa yang tak kunjung usai. Tahun terus berganti, tetapi hari-hari hidup mereka terus terbelenggu kayu pasungan pada kaki mereka.

Bertahun-tahun pula, sebagai warga negara, sedikit pun mereka tidak menerima pelayanan medis dari para petugas dan fasilitas-fasilitas kesehatan di wilayah tersebut.

Baca juga: Pelayanan Kesehatan Jiwa di NTT Belum Memadai

Demikian juga sebagai orang beriman, tidak sedikit pun mendapat pelayanan pastoral dari para tokoh agama. Sedikit saja orang yang menyediakan waktu untuk melawati mereka. Lebih banyak waktu, mereka menjalani kesendirian, kesepian sosial, ditinggalkan oleh sesamanya, menjalani penderitaan bersama keluarganya yang selalu dihantui kecemasan saban hari.

Sore hingga malam pada hari kunjungan akhir tahun sukarelawan KKI Ende (Pulau Flores), sedikitnya mereka merasa memiliki kawan dalam hidup saat sukarelawan mendatangi dan menyapa mereka di kamar-kamar dan pondok-pondok pasungan.

Dan mereka pun memulai tahap baru dalam hidup mereka yakni mendapat perawatan dan perhatian seturut kondisinya: mereka mendapat pelayanan medis dan pastoral. Besar harapan, sebagaimana juga mereka dan keluarganya harapkan, kondisi mereka lekas membaru bersama masuknya kita ke tahun yang baru, 2020.

***

Meninggalkan Mataloko, sebuah wilayah pedesaan yang dingin, tempat beberapa institusi keagamaan berdiri tegak (rumah retret miliki Kongregasi Serikat Sabda Allah atau SVD, panti pendidikan calon imam, rumah ibadah yang sudah memasuki usia puluhan tahun, dan beberapa biara perempuan), perjalanan para sukarelawan pada akhir tahun itu terus berlanjut menuju wilayah Soa, Kecamatan Soa, untuk selanjutnya ke Kampung Welas di Kecamatan Wolomeze, wilayah Riung, Kabupaten Ngada.

Di wilayah Soa, para sukarelawan berhenti sejenak ketika angka jam menunjuk angka 11.59 Wita. Saat itulah, selama semenit saja, doa syukur dipanjatkan kepada Sang Waktu; bahwa Tuhan adalah Sang Waktu, dan kita berjalan dalam aliran waktu abadi yang tak akan berhenti. Perjalanan di tapal batas 2019 dan 2020 itu adalah sebuah perjalanan dalam waktu untuk memaknai kefanaan hidup, sebuah perayaan “Tahun Baru OTW.”

Di Kampung Welas, pada dini hari tahun baru itu, penderita yang terpasung sejak Mei 2019, bersama keluarganya menunggu sejak pagi. Dan hari itu, ketika siang tiba, bersama masyarakat, para sukarelawan membebaskan penderita dari pasungan.

Baca berita terkait: Tujuh Bulan Terpasung, Pemuda Riung Dibebaskan pada Tahun Baru 2020

Tak ada yang paling bermakna yang ia sampaikan ketika sudah dilepaskan dari pasungan, di hadapan sekian banyak orang di kampung itu, adalah bahwa “saya merasa sudah merdeka tepat pada tahun baru ini. Sudah tujuh bulan, saya merasakan penderitaan yang berat. Hari ini semuanya sudah berlalu.”

***

Negara kita sudah merdeka puluhan tahun, tetapi belum semua rakyatnya merasakan kemerdekaan itu. Negara mengusir penjajah dari negara kita, tetapi juga melakukan penjajahan terhadap rakyatnya sendiri melalui cara-cara yang tampak halus tetapi mengandung duri: minimnya layanan kesehatan jiwa yang memperkuat pandangan masyarakat bahwa mengatasi gangguan jiwa harus melalui jalur tidak berperikemanusiaan: perdukunan dan pendoaan serta pemasungan.

Oleh Avent Saur, Pemimpin Redaksi Flores Pos.