Home Kupang 5.000 Penyandang Difabel di NTT Belum Peroleh Layanan Pendidikan

5.000 Penyandang Difabel di NTT Belum Peroleh Layanan Pendidikan

145
0
SHARE
5.000 Penyandang Difabel di NTT Belum Peroleh Layanan Pendidikan

Keterangan Gambar : Sekolah Luar Biasa Karya Murni Ruteng, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores.

"Jumlah SLB yang sangat minim di setiap kabupaten ini memunculkan persoalan tersendiri bagi anak-anak berkebutuhan khusus mengakses layanan pendidikan." — Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas PK NTT, Valentinus Balu.

Kupang, Flores Pos — Hingga saat ini, sekitar 5.000 lebih anak dari total 8.000 lebih anak berkebutuhan khusus atau penyandang difabel di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) belum memperoleh layanan pendidikan.

Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas Pendidikan, dan Kebudayaan Provinsi NTT, Valentinus Balu, menyampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Jumat (18/10).

Valens menjelaskan, berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik dan Dinas Sosial, jumlah anak berkebutuhan khusus yang memperoleh layanan pendidikan sebanyak 3.200 anak.

Mereka memperoleh layanan pendidikan di 32 sekolah luar biasa (SLB) yang tersebar di 19 kabupaten dan satu kota.

"Kita tidak tahu persis keberadaan 5.000 anak kebutuhan lainnya yang belum memperoleh layanan pendidikan," kata Valens.

Jumlah SLB

Ia menyampaikan, ada dua kabupaten yang belum mempunyai SLB yakni Sabu Raijua dan Malaka. Namun ada daerah yang memiliki lebih dari satu SLB.

Misalnya, Kota Kupang mempunyai empat SLB, Kabupaten Manggarai mempunyai tiga SLB, Kabupaten Alor dan Sumba Barat masing-masing mempunyai dua SLB. Sedangkan kabupaten lain hanya memiliki satu SLB.

"Jumlah SLB yang sangat minim di setiap kabupaten ini memunculkan persoalan tersendiri bagi anak-anak berkebutuhan khusus mengakses layanan pendidikan," papar Valens.

Ia berargumentasi bahwa dapat dimaklumi bila anak-anak berkebutuhan khusus yang belum memperoleh layanan pendidikan mencapai 5.000 lebih anak.

Dengan hanya memiliki satu atau dua SLB di setiap kabupaten, akan menjadi sangat sulit bagi anak-anak berkebutuhan khusus  terutama yang tinggal di daerah pedesaan dapat mengakses layanan pendidikan. 

"Jangankan anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak normal pun pasti mengalami kesulitan mengakses layanan pendidikan bila pada sebuah kabupaten hanya memiliki satu lembaga pendidikan," papar Valens.

Kebijakan pada Sekolah Reguler

Mengatasi persoalan tentang jumlah sekolah, lanjutnya, sudah ada Permendikbud Nomor 70 Tahun 2009. Semua sekolah reguler mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK diwajibkan menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

Karena, katanya, diyakini bahwa tanpa ada kebijakan ini, anak-anak berkebutuhan khusus yang terdiri dari lima jenis ketunaan yakni tunanetra, tunarunggu, tunawicara, tunadaksa, dan tunagrahita, ditambah autis, jumlahnya lebih banyak lagi yang tidak mengakses layanan pendidikan.

Valens menambahkan, persoalan lain yang dihadapi dalam mengakomodasi layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus adalah tenaga pengajar. Guru-guru umum tentu tidak mampu mengajar anak-anak berkebutuhan khusus.

“Mungkin orang tua juga malu dengan kondisi fisik anak mereka,” tuturnya.

Selain itu, masyarakat juga tidak bisa menerima keadaan anak-anak itu sehingga mereka belum mendapatkan layanan pendidikan.

"Prinsipnya, pemerintah tidak boleh pasrah karena setiap Dinas Pendidikan ada bidang yang menangani secara khusus walaupun jumlah sekolahnya sedikit dan tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada sekolah reguler," tandas Valens.

Angka Cukup Besar

Anggota DPRD NTT dari Fraksi PKB, John Rumat, mengatakan bahwa jumlah 5.000 lebih anak berkebutuhan khusus yang belum mendapat layanan pendidikan, merupakan angka yang cukup besar.

Bila angka ini dibagi merata kepada 22 kabupaten/kota, setiap daerah terdapat 227 lebih anak berkebutuhan khusus yang belum memperoleh layanan pendidikan. 

"Kita minta agar pihak sekolah menjalankan amanat Permendikbud 70 Tahun 2009, khusus untuk sekolah yang di daerahnya ada anak berkebutuhan khusus dalam jumlah yang banyak," kata John.

Penulis: Leonard Ritan
Editor: Avent Saur