Home Ende 8 Pengungsi Papua Inap Semalam di Dinas Sosial Kabupaten Ende

8 Pengungsi Papua Inap Semalam di Dinas Sosial Kabupaten Ende

165
0
SHARE
8 Pengungsi Papua Inap Semalam di Dinas Sosial Kabupaten Ende

Keterangan Gambar : Sejumlah pengungsi asal Papua (Wamena) berbincang dengan para staf Dinas Sosial Kabupaten Ende di tempat penampungan Dinsos Ende, Jumat (18/10) malam.

“Banyak pengungsi yang sedang dalam perjalanan menuju Ende. Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi NTT dan kami selalu siap terima mereka di sini sebelum kembali ke kampungnya masing-masing.” —  Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende, Marmi Kusuma.

Ende, Flores Pos — Sejumlah 8 pengungsi kerusuhan Papua asal Kabupaten Ende menginap semalam di Kantor Dinas Sosial Ende, Jalan Melati, Jumat (18/10). Para pengungsi tersebut diantar oleh Dinas Sosial Kabupaten Sikka dari Maumere, tiba di Ende sekitar pukul 21.00 Wita.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende, Marmi Kusuma, yang ditemui Flores Pos, Jumat (18/10) malam mengatakan, 8 pengungsi Wamena (Papua) tersebut berasal dari Kecamatan Maurole dan Kecamatan Wolowaru. Ada 3 perempuan dewasa, 1 laki-laki dewasa, dan 4 anak balita.

“Satu keluarga 4 orang berasal dari Maurole. Lainnya dari Wolowaru,” kata Kadis Marmi.

Pada Sabtu (19/10) pagi, kata Marmi, para pengungsi diantar Dinsos Ende ke kampungnya masing-masing. “Malam ini, mereka inap di Dinsos Ende,” tutur Jumat malam pekan lalu.

Bantuan Emergensi

Menurut Kadis Marmi yang didampingi para staf Dinas Sosial Kabupaten Ende, ada banyak warga Ende yang tinggal di Papua berencana kembali ke kampungnya masing-masing lantaran situasi Papua yang kurang kondusif.

Baca juga: Bupati Kutai Timur Bahas Nasib 920 Pekerja asal NTT

“Masih banyak yang sedang dalam perjalanan menuju Ende. Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi NTT dan kami selalu siap terima mereka di sini sebelum kembali ke kampungnya masing-masing,” kata Marmi.

Kepada para pengungsi, katanya, pihak Dinas Sosial memberikan bantuan emergensi seperti tempat untuk penginapan dan makanan serta minuman selama menginap di Dinas Sosial. Dinas Sosial juga selalu siap mengantar mereka ke kampungnya masing-masing.

“Kami akan temui pihak desa asal pengungsi agar pemerintah desa dan warga sekitar tahu tentang kedatangan mereka. Mungkin nanti mereka akan kembali ke Papua, itu menjadi tanggung jawab mereka sendiri. Paling kita mengurus hal-hal administratif seturut tugas Dinas Sosial,” tuturnya.

Situasi Mencekam

Bergita Diki, pengungsi Papua asal Kecamatan Wolowaru, mengatakan, pada saat kejadian, rumah miliknya sempat dilempar pakai batu oleh para perusuh. Perusuh juga sempat menyiramkan bahan bakar bensin ke rumahnya.

Menurut Diki, jika polisi dan tentara tidak cepat mencegah aksi para perusuh, maka rumah miliknya juga bakal dihanguskan. beberapa rumah dan toko-toko yang berdekatan dengan rumahnya hangus terbakar.

“Saya sudah 14 tahun di Wamena, Ibukota Kabupaten Jaya Wijaya. Baru kali ini situasi di wilayah kami itu mencekam,” katanya.

Sebelum Diki dan keluarga mengungsi ke Flores, beberapa pekan mereka mengungsi di kompleks tentara. Di kompleks tersebut, banyak warga ditampung agar terlindung dari aksi perusuh.

“Suami saya tetap tinggal di sana. Kalau nanti sudah kondusif, kami akan kembali ke Wamena,” kata guru salah satu SMP di Wamena tersebut.

Pengungsi Dikawal

Pengungsi lain, Yakobus Kota, mengatakan, dalam gelombang pertama pengungsian ini, ada 200 orang berasal dari Provinsi NTT, termasuk asal Ende, 8 orang. Akan ada gelombang berikutnya pada waktu-waktu mendatang.

“Di Wamena, semua warga tinggalkan rumahnya masing-masing lalu berkumpul mengungsi di kompleks tentara dan kepolisian. Namanya tinggal di kamp pengungsian tentu kurang aman bagi anak-anak,” katanya.

Karena itu, Yakobus Kota bersama istri dan dua anaknya memilih untuk meninggalkan Kota Wamena untuk sementara waktu. Jika kondisi memungkinkan, dirinya bersama keluarga akan kembali ke Wamena.

“Berharap tahun depan, kondisi akan pulih. Ini bukan bencana alam, melainkan bencana kemanusiaan. Kita tidak bisa pastikan aman, sesekali bisa muncul kekacauan,” katanya.

Yakobus Kota juga mengatakan bahwa dirinya berada di Wamena sudah sekitar 12 tahun, bekerja sebagai pekerja bangunan, tinggal di kos-kosan. Selain buruh bangunan, Kota juga bekerja sebagai ojek. “Kalau tahun depan pulih, kami akan kembali ke Wamena,” tuturnya.

Penulis: Avent Saur
Editor: Anton Harus