Home Sikka Anomali Iklim, 27 KK di Magepanda Mengonsumsi Ubi Hutan

Anomali Iklim, 27 KK di Magepanda Mengonsumsi Ubi Hutan

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

177
0
SHARE
Anomali Iklim, 27 KK di Magepanda Mengonsumsi Ubi Hutan

Keterangan Gambar : Direktur WTM Maumere Carolus Winfridus Keupung


Maumere, Flores Pos — Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupaung atau yang biasa disapa Win Keupung mengemukakan bahwa dari penelitian yang dilakukan lembaganya di Desa Done belum lama ini ditemukan adanya fakta bahwa ada 27 kepala keluarga (KK) di Desa itu terpaksa mengonsumsi ubi hutan atau yang dalam bahasa setempat disebut ondo akibat gagal panen dan anomali iklim.

“Dari penelitian yang kami lakukan ditemukan adanya fakta di mana ada 27 KK di Desa Done, Kecamatan Magapenda sudah mulai mengonsumsi ubi hutan dalam dua bulan terakhir,” kata Win yang dihubungi Flores Pos, Rabu (9/9/2020).

Win menjelaskan bahwa 27 KK yang kehabisan pangan dan terpaksa harus mengonsumsi ondo atau ubi hutan menetap di dua dusun dengan rincian 25 KK berada di dusun Ladubewa, dan 2 KK lainnya di dusun Watuwa.

“Ke 27 KK tersebut pada umumnya adalah petani lahan kering dengan jenis tanaman yang dikembangkan adalah padi dan jagung. Sayangnya sudah hampir 2 tahun ini dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, para petani mengalami gagal panen. Akibatnya di tahun ini para petani tersebut kehabisan ketersediaan pangan,” kata Win dengan pernyataan yang sama diposting dalam website WTM Sikka.

Siap Drop Beras

Win kepada Flores Pos menjelaskan bahwa WTM setelah mengetahui kondisi warga yang mengonsumsi ubi hutan itu akan melakukan beberapa upaya di antaranya melakukan pendampingan, dan upaya membantu beras yang akan diagendakan untuk didrop pada Kamis (10/9/2020).

“Besok, Kamis, WTM siap mendrop bantuan beras untuk 27 KK yang mengonsumi ubi hutan itu,” kata Win.

Ke depan, lanjut Win, WTM akan mengupayakan pendampingan bagi petani di Desa untuk meningkatkan hasil pertaniannya. Selain itu, lanjutnya, akan dilakukan pengembangan ternak.

Baca juga: Polres Sikka Gencar Memburu 2 Pencuri Uang BLT Desa Wolodhesa Rp161 Juta

“Ini menjadi pilihan agar masyarakat tani bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Kondisi yang dialami sebagian warga tersebut memang cukup memprihatinkan dan membutuhkan respon cepat selain target jangka panjang yang diupayakan,” katanya.

Penelitian Dampak Perubahan Iklim

Dalam laman website resmi WTM, diterangkan bahwa perubahan iklim merupakan fenomena anomali iklim yang berdampak besar terutama terhadap sektor pertanian. Dalam pengembangan pertanian, iklim memang menjadi faktor pendukung utama dan penentu keberhasilan usaha pertanian.

Perubahan iklim ditandai dengan perubahan temperatur udara yang memengaruhi kondisi musim hujan dan kemarau yang berakibat pada perubahan pola musim tanam. Demikian anomali iklim menimbulkan kejadian ekstrem seperti ketidaktentuan musim, kekeringan, dan serangan hama penyakit yang merugikan sektor pertanian. 

Dampak kekeringan panjang pun makin terasa oleh masyarakat saat ini baik kebutuhan akan air bersih maupun gagal panen. Di desa Done, Kecamatan Magepanda, Sikka, NTT, terdapat 27 KK yang kehabisan pangan dan terpaksa harus mengonsumsi ondo atau ubi hutan yang beracun. Dari 27 KK tersebut, 25 KK berada di dusun Ladubewa dan 2 KK lainnya di dusun Watuwa. 

27 KK tersebut pada umumnya adalah petani lahan kering dengan jenis tanaman yang dikembangkan adalah padi dan jagung. Sayangnya sudah hampir 2 tahun ini dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, para petani mengalami gagal panen. Akibatnya di tahun ini para petani tersebut kehabisan ketersediaan pangan.

“Kondisi yang terjadi di tengah pandemi covid-19 ini dijumpai, saat Wahana Tani Mandiri (WTM) melakukan kegiatan penelitian dalam kerjasamanya dengan Inobu. Kegiatan penelitian yang dilakukan yaitu penelitian ‘Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim’ serta penelitian ‘Perlindungan Sumber Daya Air’. Kegiatan ini dilakukan di beberapa desa dan kelurahan di Kabupaten Sikka dengan narasumber di antaranya kelompok tani dan petani,” kata Win.

Untuk diketahui, ondo atau ubi hutan (Dioscorea hispida) termasuk suku gadung-gadungan atau Dioscoreaceae. Bentuknya bulat lonjong, mirip sirsak berwarna coklat muda, dengan bintik-bintik pada umbi. Untuk bisa mengonsumsi ondo, butuh keahlian untuk mengolahnya secara baik. Hal ini karena ubi ondo mengandung racun yang bisa membuat orang yang mengonsumsinya sakit atau bahkan sampai meninggal dunia.

Sejumlah penelitian menyebutkan, getah ubi ini mengandung zat toksik yang dapat terhidrolisis hingga terbentuk asam sianida (HCN). Efek HCN yang dirasakan kala memakan ubi hutan tanpa pengolahan baik antara lain: tidak nyaman di tenggorokan, pusing, muntah, mengantuk dan kelelahan. Ondo harus diolah dengan baik agar bisa dikonsumsi dengan aman dan tidak menimbulkan masalah bagi tubuh.