Home Opini Antara Guru Profesional dan Nasib Abadi

Antara Guru Profesional dan Nasib Abadi

Catatan atas HUT PGRI Ke-74

1,764
0
SHARE
Antara Guru Profesional dan Nasib Abadi

Keterangan Gambar : Oleh Yosef Amasuba, Kepala SMP Negeri 1 Atadei dan Pembina Agupena Kabupaten Lembata

Dalam memperingati ulang tahun ke-74 PGRI, barangkali PGRI sendiri patut merefleksikan diri: sampai berapa jauh telah mengantarkan jajaran guru menjadi profesional dalam tugas pengabdiannya sebagai bagian dari upaya bangsa ini untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia?

Dalam sidang kelima di Berlin, Jerman, 22-26 juli 2007, Education International (EI) menempatkan Indonesia sebagai negara yang mengabaikan profesi guru. Bahkan prestasi kita sejajar dengan sebagian besar negara Afrika. Sungguh tak bisa dibayangkan andai kata tokoh pendidikan sekelas Ki Hajar Dewantara mendengar berita tersebut, pastilah beliau akan kecewa.

Secara umum, kita harus mengamini pendapat EI tersebut. Betapa tidak sejak akhir 1980-an kinerja guru kita sudah dinilai tidak terampil. Hal itu karena Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) tidak lagi memproduksi guru yang memiliki jiwa mengajar. Ditambah lagi kenyataan bahwa profesi guru bergaji rendah dan tak bergengsi. Akibatnya, mutu pendidikan di level dasar, lalu level menengah, dan tinggi tergolong rendah.

Baca juga: Transparansi Pengelolaan Dana BOS

Jabatan guru memang bukan jabatan basah, demikianlah kenyataannya. Profesi (kendati belum profesional) guru selalu mencari identitasnya yang asli. Antara usaha mengabdi kepada bangsa dan negara, dan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Profesi ini dari dulu sampai sekarang masih saja dianggap kurang menarik. Padahal, jika disimak lebih mendalam dan menyikapinya tidak dari segi komersial, jabatan guru merupakan jabatan yang mengasyikkan. Karena bila siswa libur guru juga libur.

Tetapi bukan di situ poinnya. Justru lebih dari itu, dan tak terlalu berlebihan, barangkali karena “seninya” atau “fitrah”  yang tidak mungkin terpisahkan dari kehidupan manusia di mana pun di bumi ini, dari zaman ke zaman, begitu seterusnya sampai umat manusia ini musnah.

Keluhan yang muncul dari profesi ini selalu ada dari waktu ke waktu. Jawaban atas semua keluhan tersebut sampai saat ini memang tetap belum memuaskan. Misalnya, saja tentang profesionalisme guru yang ditargetkan berkualitas, namun hingga kini harapan tersebut tinggal harapan. Berbagai upaya pembenahan secara periodik dan berkelanjutan terus dilakukan. Tetapi toh hasilnya masih belum memuaskan semua pihak. Mengapa demikian?

Membicarakan profesionalisme guru ibarat menggelar “dosa warisan” yang dapat ditelusuri dari akar kesejarahannya. Abad ke-18 dan 19 boleh dikatakan sebagai kondisi puncak profesi yang satu ini.

Baca juga: Kelola Dana BOS: Antara Kecerdasan Manajerial dan Tabiat Personal

Di Eropa Barat, misalnya, guru-guru pada masa itu sangat berkualitas. Masyarakat menyebutnya sebagai guru elite. Walaupun para guru berangkat dari kelompok masyarakat strata sosial bawah, profesi ini menjadi ambisi puncak pada masa itu sehingga masyarakat kebanyakan menyerbu sekolah-sekolah guru. Hal ini memberi peluang didapatnya raw in put yang memang terbaik di antara yang baik-baik. Kondisi seperti ini bukan tak pernah terjadi di Indonesia.

PGRI: Sejarah dan Perjuangannya

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) genap 74 tahun. Kehadiran PGRI yang hanya 100 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, jelas tidak bisa dilepaskan dari upaya untuk mencapai  tujuan kemerdekaan. Dalam hal ini  bidang keguruan menjadi salah satu kunci bidang pendidikan. Sebab, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi salah satu  tujuan pokok kemerdekaan, pendidikan memegang peranan amat strategis. Sedangkan, yang menjadi motor pendidikan (formal) adalah guru.

Oleh karena itu, HUT PGRI pada 25 November 2019 adalah suatu hari yang mahapenting bagi Korps Guru di Indonesia karena pada hari itu, pada 74 tahun yang lalu di Surakarta telah diikrarkan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Ikrar itu disepakati bersama dalam Kongres Guru yang pertama, dihadiri oleh berbagai organisasi guru yang semula tercerai-berai seperti PGI (Persatuan Guru Indonesia), PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda), PGD (Persatuan Guru Desa), PGN (Persatuan Guru Normalschool), PGB (Persatuan Guru Bantu), dan lain-lain.

Baca juga: Ketimpangan di Balik Dana BOS

Kelahiran PGRI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan seluruh bangsa Indonesia dalam rangka mewujudkan cita-cita nasional masyarakat yang adil dan makmur dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dalam suasana perjuangan bersenjata yang sedang berkobar dengan hebatnya di Surabaya, Jakarta, Semarang, Bandung, dan Ambarawa, para guru peserta kongres bersepakat untuk membentuk wadah yang bernama PGRI. Hari itu, 25 November 1945, pukul 09.00 pagi, di Gedung Habiprojo, Singosaren, Surakarta, PGRI memperkenalkan diri kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia.

Amin Singgih sebagai Ketua PGRI pilihan kongres didampingi Rh. Kurnan sebagai  Wakil Ketua PGRI serta Jayengsugianto sebagai Penulis, memperkenalkan diri dan membacakan telegram ke Surabaya yang berisikan PGRI mendukung sepenuhnya perjuangan arek-arek Suroboyo dalam bertempur melawan penjajah. Dan dari kalangan guru tidak sedikit yang ikut.

Sementara Pengurus Besar PGRI sedang melangsungkan perkenalan, beberapa pesawat terbang musuh berdatangan dan membombardir RRI Surakarta yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Gedung Habiprojo. Begitulah suasana perjuangan fisik yang melatarbelakangi kelahiran PGRI.

Nasib Abadi

Dalam suasana perang kemerdekaan melawan penjajah pada November 1945, para guru yang sedang berkongres sepakat menetapkan 3 tujuan PGRI saat itu. (1) Mempertahankan Proklamasi negara kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, (2) mengisi dan mewujudkan cita-cita Proklamasi dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (3) membela dan memperjuangkan nasib para guru khususnya dan para buruh pada umumnya.

Tujuan tersebut sampai dengan Kongres PGRI XVI, tetap dirumuskan dalam Anggaran Dasar Bab IV Pasal 4, dengan penambahan satu butir lagi yakni yang berkaitan dengan peningkatan mutu profesi guru. Komitmen organisasi yang dirumuskan sejak didirikannya PGRI, hingga sekarang masih tetap relevan. Terutama tujuan butir dua dan lebih-lebih yang tertuang dalam butir tiga yaitu nasib guru.

Upaya peningkatan kesejahteraan guru sudah dijabarkan oleh PGRI sejak PGRI didirikan hingga mencapai usia 74 tahun. Namun demikian, semua guru masih merasakan bahwa upaya tersebut belum memperoleh hasil yang maksimal. Nasib  guru masih merupakan nasib abadi.

Analog dengan nasib pegawai negeri yang ditulis Suara Karya terbitan 16 November yang lalu, maka profil guru adalah gaji pas-pasan, rumah gubuk reot, semuanya sarat dengan kesederhanaan. Sebenarnya pemerintah juga telah lama mengusahakan peningkatan kesejahteraan guru, dari sisi gaji, kenaikan pangkat, tunjangan fungsional, sertifikasi, nonsertifakasi, dan tunjangan guru daerah terpencil.

Berbagai upaya peningkatan kesejahteraan guru secara konvensional dengan mengandalkan usaha pada pemerintah saja tidak akan menjamin tercapainya tujuan tersebut. Hal ini dikarenakan adanya berbagai keterbatasan anggaran Pemerintah  dan banyaknya sektor pembangunan yang harus ditangani. Memang diakui, pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak, terutama pemerintah. Sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan di Indonesia harus bisa membarui dan membebaskan.

Dalam konteks itulah PGRI boleh dikatakan merupakan kunci bagi pengembangan dan peningkatan kualitas para guru. Dan kualitas para guru pada gilirannya amat ditentukan oleh pelbagai faktor yang dalam istilah sekarang terangkum dalam ungkapan yang disebut  profesionalisme. Profesional dalam segala aspek yang menentukan berkualitas tidaknya pelaksanaan tugas sebagai guru.

Maka dalam memperingati ulang tahun ke-74 PGRI, barangkali PGRI sendiri patut merefleksikan diri: sampai berapa jauh telah mengantarkan jajaran guru menjadi profesional dalam tugas pengabdiannya sebagai bagian dari upaya bangsa ini untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia?

Dengan peranan guru yang begitu strategis, seyogyanya pelbagai faktor yang menentukan profesional tidaknya guru harus mendapat perhatian yang lebih besar dari PGRI. Ulang tahun adalah momentum untuk berhenti dan menoleh sejenak perjuangan yang telah dilakukan selama ini guna mengambil hikmah demi menatap masa depan.

Kiranya HUT PGRI Ke-74 ini menjadikan organisasi ini benar-benar sebagai wadah para guru untuk memperjuangkan nasib dan meningkatkan profesionalismenya. Akhirnya, kita ucapkan selamat ulang tahun.

Oleh Yosef Amasuba, Kepala SMP Negeri 1 Atadei dan Pembina Agupena Kabupaten Lembata.