Home Sikka Belasan Relawan PAPHA Kolisia B Membersihkan Sampah di Pantura Sikka

Belasan Relawan PAPHA Kolisia B Membersihkan Sampah di Pantura Sikka

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

276
0
SHARE
Belasan Relawan PAPHA Kolisia B Membersihkan Sampah di Pantura Sikka

Keterangan Gambar : Para relawan PAPHA Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda sedang memungut sampah di sepanjang Pantai Kolisia B, Minggu (6/9/2020). 


Maumere, Flores Pos — Belasan anak muda dan karang taruna yang tergabung dalam Relawan Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka membersihkan sampah di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Desa Kolisia, Kabupaten Sikka, Minggu (6/9/2020).

Aksi pemungutan sampah ini dilakukan relawan PAPHA Desa Kolisia B usai dibekali pelatihan “Analisisi kerentanan iklim dan kapasitas” dan “Sosialisasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Peluncuran Program Peningkatan Kapasitas” yang diselenggarakan PAPHA Maumere di Kolisia yang berlangsung baru-baru ini.

Sesuai pantauan Flores Pos, para relawan PAPHA dari Desa Kolisia B di bawah koordinasi Bernadeta Yefrita dengan penuh semangat menyusuri pantai dan memungut aneka sampah yang berserakan sepanjang pantai Desa Kolisia B.

Aneka sampah seperti botol dan gelas aqua, plastik, pecahan kaca, kertas koran, dan pembalut wanita, dan jenis sampah lainnya yang berserakan di sepanjang pantai dipungut dan diamankan di dalam karung dan dus yang mereka siapkan.

Setelah itu, para relawan memilah sampah-sampah yang bisa didaur ulang dan bernilai ekonomi seperti gelas dan botol aqua, karton, plastik, dan botol bir di tempat tersendiri untuk kemudian didaur ulang.

Sementara, sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang diamankan dalam wadah khusus untuk kemudian dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wairii, Kecamatan Magepanda.

Siap Wujudkan Lingkungan Bersih

Koordinator Relawan PAPHA Desa Kolisia B Bernadeta Yefrita kepada Flores Pos, Senin (7/9/2020) menjelaskan bahwa bakti sosial pembersihan sampah sepanjang pantai Desa Kolisia B yang mereka lakukan itu sebagai wujud konkret komitmen karang taruna di desa itu pasca mereka mengikuti aneka kegiatan yang diselenggarakan PAPHA Maumere di antaranya kegiatan “Pelatihan analisis kerentanan iklim dan kapasitas” dan “Sosialisasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Peluncuran Program Peningkatan Kapasitas” di Kolisia pada 29 dan 30 Agustus 2020 lalu.

”Setelah kegiatan, peserta yang juga relawan PAPHA Desa Kolisia B menyepakati untuk melakukan aksi pembersihan sampah di Kolisia dan di tempat lainnya, serta menaman minimal 5 anakan pohon dalam setiap minggu. Kegiatan perdana kami lakukan pada Minggu (6/9/2020),” kata Yefrita.

Yefrita berharap agar aksi yang mereka lakukan dapat memotivasi elemen warga lainnya, khususnya kaum muda untuk selalu berpartisipasi aktif menyelamatkan lingkungan dan menjaga kebersihan sehingga nyaman dan sehat bagi warga.

Baca juga: PAPHA Maumere Gencar Mencegah Kerusakan Lingkungan di Flores

”Kami mengajak elemen warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, dan mengelola sampah-sampah yang bernilai ekonomi dengan cara mendaur ulang sehingga bisa menghasilkan rupiah,” kata Yefrita.

Latar Belakang

Direktur PAPHA Flores, Bernardus Lewonama Hayon atau yang biasa disapa Narto kepada Flores Pos menjelaskan latar belakang mengapa PAPHA berkomitmen untuk memberikan advokasi kepada kaum muda untuk mengikuti aneka pelatihan di antaranya “Pelatihan analisisi kerentanan iklim dan kapasitas” dan Sosialisasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Peluncuran Program Peningkatan Kapasitas” agar mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat bumi sehingga tidak berisiko bagi manusia.

Narto menggarisbawahi latar belakang komitmen PAPHA itu berawal dari adanya fakta bahwa Kabupaten Sikka merupakan kabupaten dengan indeks resiko bencana tertinggi di NTT dan menempati peringkat 59 dari 479 kabupaten/kota di Indonesia.

Narto mengakui bahwa pengaruh fenomena monsoon menjadikan wilayah Kabupaten Sikka dan sebagian besar kabupaten di NTT mengalami kekeringan. Di sisi lain penggunaan air tanah secara berlebihan mengakibatkan cadangan air menipis dan cenderung habis. Pada 27 September 2017, lanjut Narto, Bupati Sikka mengeluarkan pernyataan rawan pangan akibat bencana kekeringan dan badai di 33 Desa di Kabupaten Sikka yang kemudian menjadi 50 desa yang tersebar di 11 kecamatan di akhir 2017.

Tahun 2019, urainya, BMKG Stasiun Klimatologi Kupang melaporkan 9 kabupaten mengalami kekeringan ekstrim termasuk Kabupaten Sikka, bahkan Kecamatan Magepanda merupakan wilayah yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori kekeringan ekstrem (>60 hari). Kabupaten Sikka pada awal tahun 2020 ini mengalami kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD), per 16 Maret 2020 data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan setidaknya terdapat 1.292 kasus atau 38% di seluruh NTT dan 5% nasional.

”Bahkan kabupaten terbanyak kedua yakni Kabupaten Pringsewu Lampung tidak mencapai angka 1000 kasus. Korban meninggal kasus DBD di Sikka mencapai 14 orang. Oleh kementerian kesehatan RI dijelaskan bahwa kejadian ini dipicu oleh permasalahan pengelolaan sampah yang tidak baik, Ditemukannya botol – botol, gelas dan tempat - tempat bekas minuman dibuang begitu saja oleh masyarakat, drainase yang buruk dan lingkungan yang tidak bersih,” kata Narto.

Berbagai fakta yang tersaji di atas, lanjut Narto, dapat ditarik akar persoalan yang dihadapi antara lain kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang dampak perubahan iklim dan drainase serta lingkungan yang tidak bersih bahkan hal – hal praktis tentang bagaimana mengurangi persoalan air bersih dan sampah plastik. Di sisi lain rencana pembangunan yang belum mengarusutamakan adaptasi perubahan iklim turut mempengaruhi persoalan kekeringan dan banjir sampah yang mengakibatkan KLB DBD dan rawan pangan.

Narto mengakui bahwa Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) melalui salah satu program strategisnya yakni pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, memandang perlu untuk dilakukan penyadaran dan peningkatan kapasitas kepada masyarakat tentang pentingnya adaptasi perubahan iklim dan upaya konkret berkontribusi pada adapatasi perubahan iklim tersebut. Sesuai dengan visi PAPHA, maka kaum muda– di mana sesuai dengan definisi WHO, adalah seseorang yang berusia antara 15 hingga 24 tahun sehingga seorang anak termasuk di dalamnya– menjadi sasaran yang strategis dari upaya–upaya tersebut. Anak dan perempuan khususnya kaum muda perempuan menjadi pihak yang paling rentan mengalami dampak dari perubahan iklim sehingga perlu menjadi perhatian untuk diutamakan dalam kegiatan ini.

Narto menambahkan bahwa sasaran kegiatan ini terfokus di Kelurahan Waioti di kecamatan Alok dan Desa Kolisia B di kecamatan Magepanda dengan alasan bahwa Desa Kolisia sebagai perwakilan wilayah rawan pangan akibat kekeringan, dan Kelurahan Waioti sebagai perwakilan kelurahan rawan banjir dan sampah plastik.

Baca juga: Puluhan Orang Muda Sikka Mengikuti Pelatihan Analisis Kerentanan Iklim dan Kapasitas

”Kaum muda, khususnya karang taruna dan OMK dari dua lokasi sasaran kegiatan ini mendukung kegiatan yang diselenggarakan PAPHA,” kata Narto.

Sesuai pemberitaan media ini sebelumnya, Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) Maumere dan elemen kaum muda Kabupaten Sikka, Provinsi NTT gencar melakukan advokasi dan terus berkomitmen melakukan upaya-upaya konkret mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup dan segala bentuk kegiatan penambangan di Kabupaten Sikka, khususnya; dan Flores-Lembata umumnya.

Komitmen PAPHA dan elemen kaum muda untuk terus melakukan pencegahan kerusakan lingkungan dan aktivitas penambangan di Flores-Lembata ini disampaikan dalam aksi tindak lanjut “Pelatihan analisis kerentanan iklim dan kapasitas” dan “Sosialisasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Peluncuran Program Peningkatan Kapasitas” Kaum Muda Tentang Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Masa Depan yang Lebih Baik” yang berlangsung di Kolisia B, Kecamatan Magepanda, Sabtu dan Minggu (29-30/8/2020) lalu.

Sesuai pantauan Flores Pos, dalam rapat aksi tindak lanjut yang dipandu Direktur PAPHA Bernardus L. Hayon, dan Koordinator Program PAPHA Titon Nau, menggarisbawahi beberapa komitmen bersama di antaranya agar semua elemen kaum muda yang menghadiri kegiatan pelatihan menjadi relawan yang siap mengatasi masalah kebersihan di lingkungan tinggal masing-masing, siap mendaur ulang aneka sampah menjadi aneka produk yang bernilai ekonomis, rutin melakukan pembersihan lingkungan agar terhindar dari sampah yang berdampak pada aneka penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, diare, dan aneka penyakit lainnya; terciptanya keharmonisan alam dan biota lainnya; dan mencegah segala bentuk perusakan lingkungan lainnya termasuk aktivitas penambangan.

Direktur PAPHA Bernardus L. Hayon atau yang biasa disapa Narto, dan Koordinator Program PAPHA Titon Nau, pada kesempatan ini meminta kaum muda menerjemahkan pelbagai rencana tindak lanjut itu di lingkungan masing-masing, dan menularkannya kepada kaum muda lainnya agar bersama-sama melakukan aksi konkret dalam upaya menyelamatkan lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekitarnya agar tidak terjadi kerusakan.

”Kami berharap agar aksi-aski tindak lanjut yang disepakati dalam kegiatan ini bisa berkembang meluas dan bisa menjadi perilaku dan kebiasaan komunitas dalam upaya mwujudkan lingkungan yang bersih. Mari kita bersatu untuk menyelamatkan lingkungan tinggal kita dan mencegah terjadi kerusakan alam dengan cara apa pun,” pinta Narto.

Sementara Koordinator Program PAPHA Titon Nau pada kesempatan ini menyebut beberapa tujuan dari kegiatan yang diselenggarakan PAPHA di antaranya agar peserta mengidentifikasi dan melakukan analisis tentang kerentanan terhadap perubahan iklim yang terjadi di wilayah mereka, peserta mengidentifikasi dan melakukan analisis tentang kapasitas yang dimiliki untuk melakukan mitigasi dan adaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi diwilayah mereka; agar peserta merancang rencana aksi untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi di wilayah mereka, dan agar peserta terus terlibat dalam aksi konkret mencegah kerusakan lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekitarnya.