Home Sikka Belum Dimanfaatkan, Embung Ladogahar di Kabupaten Sikka Ambruk

Belum Dimanfaatkan, Embung Ladogahar di Kabupaten Sikka Ambruk

352
0
SHARE
Belum Dimanfaatkan, Embung Ladogahar di Kabupaten Sikka Ambruk

Keterangan Gambar : Embung di Dusun Natawulu, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, ambruk pada 5 Desember 2019 lalu.

Maumere, Flores Pos — Proyek embung yang dibangun dengan dana Rp120 juta dari anggaran Dana Provinsi NTT tahun 2019, berlokasi di Dusun Natawulu, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, ambruk atau jebol sebelum dimanfaatkan oleh petani setempat ketika hujan perdana mengguyur wilayah itu pada5 Desember 2019 lalu. Embung ini dikerjakan secara swakelola oleh Kelompok Kalvari di Desa Ladogahar.

Disaksikan media ini di lokasi embung pada Rabu (15/1/2020), embung ambruk pada bagian selatan sepanjang 3 meter, sedangkan 2 meter lainnya retak.

Kepala Desa Ladogahar, Arkadius Arias, dan tokoh masyarakat Ladogahar, Kristianus Raja, yang juga berada di lokasi embung mengaku prihatin dengan kondisi embung yang ambruk sebelum dimanfaatkan warga.

Baca juga: Puting Beliung Robohkan Ruang Kelas MIS Darat Pantai di Kabupaten Sikka

Kades Arkadius mengakui bahwa embung yang dibangun dengan dana Rp120 juta tersebut untuk mendukung kegiatan sekitar 20 petani di sekitar embung yang selama ini mengembangkan tanaman hortikultura khususnya pengembanan tomat, lombok, dan jenis hortikultura lainnya.

“Selama ini petani susah payah membeli air tangki untuk menyiram tanaman hortikultura. Prihatin dengan kondisi ini, pemerintah berupaya membangun embung agar para petani bisa memanfaatkan air embung untuk menyiram tomat, lombok atau tanamam hortikultura lainnya. Sangat disayangkan, sebelum petani memanfaatkan embung ini, bangunan ini sudah ambruk,” kata Kades.

Kades berharap agar para pihak yang bertanggung jawab atas pembangunan embung tersebut segera mencari solusi agar sarana yang ada bisa dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

Pengelola Kecewa

Ketua Kelompok Kalvari yang dipercaya sebagai pengelola proyek swakelola ini, Firmus Mitan, yang ditemui di kediamannya di Natawulu, Desa Ladogahar, mengakui bahwa pihaknya turut kecewa atas jebolnya embung yang dibangun dengan biaya Rp120 juta tersebut.

“Sebagai pengelola, saya juga turut kecewa dengan jebolnya embung ini. Sebab pembangunan ini untuk jangka panjang demi mendukung pengembangan hortikultura petani di desa ini,” kata Firmus kepada wartawan, Rabu (15/1/2020) siang.

Baca juga: Sejumlah Paket Proyek di Sikka Tidak Akan Selesai Tepat Waktu

Firmus mengakui bahwa pembangunan embung ini selalu di bawah pengawasan para pihak terkait di antaranya konsultan pengawas, konsultansi perencana, PPK, dan pihak-pihak terkait lain.

Pihaknya telah melaporkan bencana ambruknya embung itu kepada Dinas Pertanian Provinsi melalui Kadis Pertanian Sikka, PPK, dan pihak terkait lain.

Upaya Rehab

Ditanya apa hasil dari konsultasi yang telah dilakukannya, Firmus mengatakan bahwa pada awalnya ada saran agar pembangunan ini direhab lagi. “Upaya rehab setelah ada beberapa fisik bangunan retak sebelum jebol. Tetapi langkah selanjutnya belum diketahui pasca-ambruknya embung pada 5 Desember 2019 lalu,” katanya.

Baca juga: Sikka Peringkat Satu Kabupaten Risiko Bencana di NTT

Meski demikian, Firmus tetap berkomitmen untuk melakukan komunikasi dengan para pihak terkait dengan harapan agar embung ini bisa dimanfaatkan para petani untuk pengembangan hortikultura.

“Kita tetap berupaya agar pembangunan embung ini tuntas sehingga bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan hortikultura oleh petani di desa ini,” katanya.

Penulis: Wall Abulat
Editor: Avent Saur