Home Nagekeo Beras Petani Mbay Menumpuk, Bulog Siap Beli Rp 8.300

Beras Petani Mbay Menumpuk, Bulog Siap Beli Rp 8.300

Penulis: Risa Roga/ Editor: Arsen Jemarut

511
0
SHARE
Beras Petani Mbay Menumpuk, Bulog Siap Beli Rp 8.300

Keterangan Gambar : Padi hasil panenan petani Mbay masih disimpan di tempat penampungan.


Mbay, Flores Pos — Pihak Perum Bulog Kantor Cabang Bajawa menyatakan bahwa pihaknya siap membeli beras para petani Mbay yang menurut pemberitaan, telah menumpuk akibat tidak adanya aktivitas pasar mingguan.

Demikian disampaikan Pimpinan Cabang Perum Bulog Kantor Cabang Bajawa Ibrahim Wairoy kepada Flores Pos, Kamis (21/5/2020).

Baca juga: Pemda Belum Beli Beras Petani, Ketua DPRD: Kami Akan Panggil untuk Rapat Kerja

"Bulog siap membeli berapun produksi beras milik petani Mbay, tetapi dengan harga sesuai ketetapan pemerintah dan kualitas sesuai standar beras medium," katanya.

Ibrahim melanjutkan bahwa harga sesuai ketetapan pemerintah adalah Rp 8.300 per kilogram, diterima di pintu gudang.

"Kami siap beli beras kualitas medium dengan harga Rp 8.300 per kilogram. Beras medium adalah beras dengan kadar air 14 persen, menir 2 persen dan butir patah maksimal 20 persen," jelasnya.

Ibrahim menyatakan bahwa harga beli dapat menjadi lebih tinggi hanya jika ada subsidi dari Pemda Nagekeo.

Baca jugaHujan Angin di Mbay Robohkan Tanaman Padi

"Pada awal Bulan Mei 2020, Pemda Nagekeo pernah melakukan pembicaraan dengan pihak kami untuk mensubsidi pembelian beras petani sehingga harga beli dapat menjadi Rp 10.000 per kilogram. Tetapi sampai saat ini, belum ada tindak lanjut dari Pemda Nagekeo," ungkapnya.

Menanggapi pernyataan pihak Bulog Bajawa, para petani di wilayah persawahan Mbay menyatakan bahwa dengan harga tersebut, petani akan sangat dirugikan.

Hal itu diungkapkan oleh petani di wilayah persawahan KM 2.2 Kiri Pintu Langedhawe, Fransiskus Dapa dan Donatus Na Nuwatiwa.

Fransiskus Dapa menyatakan bahwa harga Rp 8.300 berarti pemerintah tidak berpihak pada kesejahteraan petani.

Baca jugaTembok Saluran Irigasi Jebol, Jalan Produksi Terancam Putus

"Biaya pengolahan sawah sangat besar, belum terhintung biaya panen dan giling padi. Bagaimana mungkin kami harus jual hanya Rp 8.300 per kilogram? Kami rugi besar," katanya.

Fransiskus menyatakan bahwa dirinya akan menahan padinya untuk dijual langsung ke Pemda Nagekeo seharga Rp 12.000 ribu per kilogram.

"Katanya pemda mau beli Rp 12.000 per kilogram, mengapa sekarang jadi Rp 8.300 saja? Sementara beras saya adalah adalah beras kualitas bagus. Lebih baik saya tunggu harga beras kembali normal," ujarnya.

Sementara Donatus Na Nuwatiwa menyayangkan sikap Pemda Nagekeo yang dianggapnya tidak berpihak pada kaum kecil.

"Padi saya seluas 3/4 hektar semuanya roboh diterjang hujan angin. Setelah kerugian tersebut, masa saya harus jual hanya seharga Rp 8.300 saja? Dengan harga demikian, petani mau makan apa?," tandasnya.

Donatus mengharapkan agar DPRD Nagekeo dapat menyuarakan kesulitan yang tengah melanda petani.

"Anggota DPRD, jangan hanya datang waktu minta suara atau reses. Kalau kamu butuh suara kami, kamu masuk sampai di tengah bedeng. Saat ini petani susah kamu menghilang," ungkapnya.

Donatus mengharapkan agar segera ada solusi bagi petani. "Pasar sudah tutup, pembeli dari luar kabupaten tidak datang lagi, sedangkan semua harga barang meningkat. Masyarakat susah, tolong bantu kami," harapnya.*