Home Gaya Hidup Bisikan Itu Tak Terbendung

Bisikan Itu Tak Terbendung

- Kisah Panggilan Bruder Theodorus Richardus Goran Gapun, SVD

85
0
SHARE
Bisikan Itu Tak Terbendung

Keterangan Gambar : Bruder Ari (duduk paling kanan) berpose bersama teman-temannya.

Tidak ada yang enteng dalam menjalani hidup ini. Apalagi ketika Bruder Theodorus Richardus Goran Gapun, SVD atau Br. Ari bergumul dengan keputusan antara melanjutkan pekerjaan sebagai desainer ataukah masuk ke dalam situasi baru di biara.

Pergumulan itu berat. Dalam pekerjaan, ia sudah merasa nyaman. Dengan gajinya, ia bisa membantu orang tua, sedikitnya membalas perjuangan Bapak Alexander dan Mama Hilaria Teten Amuntoda yang telah membiayainya kuliah ilmu komunikasi di Bandung, 2006-2011.

Setelah bergulat cukup panjang dan ditopang oleh dukungan orang tua, Putra Bungsu dari dua bersaudara ini pun mampu mengambil keputusan besar yakni masuk biara. Rasanya keputusan besar itu juga tepat. Bisikan Tuhan itu sedikit pun tak terbendung. “Saya merasa nyaman tinggal di biara dengan segala suka dukanya,” tutur Bruder kelahiran Kupang, 7 Februari 1986 ini.

Sukses yang Tertunda

Masih segar dalam ingatannya, ketertarikan untuk masuk biara sudah terbersit kala ia duduk di bangku sekolah dasar. Ia ingin seperti imam yang ia pandang dengan penuh takjub tatkala imam memimpin ritus ekaristi.

Dari tahun ke tahun, dalam pendidikannya hingga SMP, ia simpan ketertarikan itu di kedalaman sanubarinya. Maka, ketika beranjak dari bangku SMP, ia mengikuti tes masuk Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur. Dan lulus.

Namun, perjuangannya terhenti hingga akhir semester pertama. Ia ikhlas. Orang tua juga ikhlas. Putra dari ayah pegawai negeri sipil dan ibu penjahit ini pun kembali ke kota kelahirannya untuk melanjutkan pendidikan di SMKN 2 Kupang.

Hidup di luar seminari rupanya tak sedikit pun membuat rasa tertarik hidup membiara tadi luluh. Hidup membiara selalu membayang-bayangi hari demi hari kegiatan belajar mengajar. Dan ia pun bertekad agar usai tamat SMA, ia lekas masuk biara.

Waktu pun tiba. Ia mengikuti tes masuk salah satu kongregasi religius di Kupang. Namun, pil pahit kegagalan sekali lagi ia harus telan dengan berat hati. Ia pun nganggur sekalipun cuma setahun.

Merasa bahwa tujuan perjalanan hidupnya entah diarahkan ke mana, ia pun menerima tawaran orang tua untuk memulai kuliah. Awalnya terasa berat, tetapi toh ia mampu menyelesaikannya hingga tuntas.

Sukses di Luar, Sukses di Dalam

Namun, tuntasnya kuliah sama sekali tidak membuat ketertarikan akan hidup membiara itu sirna. Dengan mudah ia bekerja. Bahkan sudah memiliki pacar yang dikiranya bakal menjadi calon pendamping hidupnya.

Suatu ketika, ia membongkar-bangkir laci meja ayahnya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah buku kecil. Isinya, perihal kisah hidup membiara seorang bruder SVD. Sontak rasa ingin hidup membiara bangkit seketika. Semakin mendalam ia membaca kisah itu, dan betapa ia rindu segera memulai sebuah hidup baru di dalam biara dengan konsekuensi meninggalkan pekerjaan sekaligus pacarnya.

Tahun 2012, ia memulai masa hidup membiara di Biara Santo Konradus Ende. Jalannya mulus. Setahun kemudian, ia melanjutkan masa novisiat di Novisiat Sang Sabda Kuwu, Manggarai. Terhitung sejak 2012 hingga kini mengikrarkan kaul kekal dalam SVD, ia sangat menikmati proses demi proses. Semuanya mulus, baik pada masa Yuniorat I dan II, maupun masa probasi (persiapan kaul kekal) Januari-Agustus 2019.

Ia bertutur begini: “Saya ikuti suara hati saya. Dalam suara hatilah, Tuhan terus berbisik. Saya merasa senang dan hati saya sangat tenteram menjalani hidup di biara. Ada sesuatu yang buat saya merasa nyaman dan terus bertahan. Sesuatu itu adalah doa, dan Tuhan mengabulkannya.”

“Saya harus tetap setia pada kaul-kaul dan panggilan suci yang telah saya pilih ini.”

Komitmen ini ia mantapkan pada 15 Agustus 2019 dalam ekaristi pengikraran kaul untuk selamanya yakni hidup murni, miskin, dan taat.

Proficiat Bruder Ari atas ikrar kaul kekal dalam SVD. Salam dalam Sang Sabda.

Oleh Avent Saur