Home Opini Ekspektasi di Balik Unipa Science Competition 2019

Ekspektasi di Balik Unipa Science Competition 2019

1,295
0
SHARE
Ekspektasi di Balik Unipa Science Competition 2019

Keterangan Gambar : Yohanes Sudarmo Dua, Dosen Pendidikan Fisika Universitas Nusa Nipa Maumere,  Alumnus School of Physics and Astronomy, the University of Western Australia.

Penyelenggaraan Unipa Science Competition 2019 diharapkan dapat menciptakan atmosfer kompetisi akademik yang sehat, yang diharapkan berkorelasi positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan di kawasan kita.

Warsawa, 1967. Prof. Czeslaw Scislowski tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Prof. Rostislav Kostial dan Prof. Rudolf Kunfalvi.

Tiga ahli Fisika yang masing-masing berasal dari Polandia, Czechoslovakia (sebelum terpecah menjadi Republik Czech dan Slovakia), dan Hungaria tersebut, rupanya tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan.

Pasalnya, impian besar mereka untuk menyelenggarakan Olimpiade Fisika tingkat internasional untuk para pelajar sekolah menengah (secondary school students) akhirnya terwujud. Di ibu kota negara kelahiran Paus John Paul II itu, kompetisi yang hingga hari ini dikenal dengan sebutan the International Physics Olympiad (IPhO) lahir.

Meski hanya diikuti oleh lima negara, IPhO perdana tersebut ternyata begitu cepat menyedot perhatian dunia dan langsung mendapat tanggapan positif dari negara-negara lain. Dalam waktu yang relatif singkat, IPhO pun menjelma menjadi salah satu kompetisi intelektual paling bergengsi bagi para pelajar sekolah menengah di dunia.

Baca juga: Antara Guru Profesional dan Nasib Abadi

Pada tahun 2019 ini, the 50th IPhO baru saja dilaksanakan di Tel Aviv, Israel. Sebanyak 364 kontestan dari 78 negara termasuk Indonesia terlibat dalam kompetisi tahunan ini.

Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa IPhO layak disebut sebagai kompetisi yang prestisius. Pertama, mereka-mereka yang terlibat adalah para pelajar terbaik yang telah melalui proses seleksi yang sangat ketat di negara mereka masing-masing. Di Indonesia, misalnya, proses seleksinya bahkan dimulai dari seleksi tingkat sekolah, tingkat kabupaten, tingkat provinsi, hingga tingkat nasional. Tidak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa kompetisi ini adalah pertarungan para jenius dari berbagai negara.

Kedua, selain merupakan ajang unjuk kemampuan para kontestan, IPhO memberikan kesempatan kepada para profesor pendamping dari negara-negara di dunia untuk saling bekerja sama dan berbagi pengalaman mengenai berbagai riset yang mereka lakukan; hal yang tentunya sangat penting bagi perkembangan sains dan teknologi.

Baca juga: Transparansi Pengelolaan Dana BOS

Ketiga, selain perolehan medali, keikutsertaan dalam IPhO memberikan manfaat tersendiri bagi para kontestan. Para kontestan yang bersinar di ajang ini biasanya akan mudah mendapat golden ticket ke perguruan-perguruan tinggi terkemuka dunia.

Sebagai contoh, Evelyn Mintarno. Setelah berpartisipasi sebagai duta Indonesia di IPhO 2002 dan menyabet medali perunggu, Evelyn Mintarno berhasil mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di Stanford University Amerika Serikat dan menjadi asisten peraih Nobel Fisika 1996, Doglas D. Osheroff.

Contoh lain adalah Nelson Tansu, alumnus Tim Olimpiade Fisika Indonesia 1995 yang meraih S3 di Wisconsin University saat berusia 25 tahun. Kini Nelson bekerja sebagai profesor fisika di Lehigh University Amerika Serikat.

Masih terlalu banyak contoh alumni IPhO lainnya yang sejak IPhO pertama kali digelar hingga saat ini telah menyebar dan berkarya di berbagai negara di dunia serta telah berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca juga: Pentingnya Psikotes untuk Siswa

Maumere, Pulau Flores, 2019. Pada 25-26 Oktober yang lalu, dimotori prodi pendidikan fisika, pendidikan kimia dan pendidikan biologi, Universitas Nusa Nipa untuk pertama kalinya menyelenggarakan Unipa Science Competition (USC) bagi para pelajar SMA/MA sedaratan Flores dan Lembata. Kegiatan yang mengusung tema Literasi Sains, Gen Z, dan Revolusi Industri 4.0 tersebut diikuti oleh 45 tim (20 sekolah) dari lima kabupaten di daratan Flores-Lembata, yakni Kabupaten Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata.

Setelah melalui babak penyisihan I dan II, babak semifinal dan babak final, tim asal SMAK Frateran Ndao Ende akhirnya berhasil mencatatkan diri sebagai the first winner, sedangkan juara II dan III diraih oleh SMAK Frateran Podor Larantuka dan SMA Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere.

Bila dicermati secara seksama, dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan sejenis USC di kawasan Nusa Tenggara Timur memang jarang kita jumpai. Kalau toh ada, regularisasi penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut belum terlalu diperhatikan. Satu-satunya kompetisi bidang sains yang regular dilakukan adalah lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang merupakan program pemerintah pusat (apakah sekolah-sekolah kita benar-benar mempersiapkan para peserta didik untuk mengikuti OSN atau tidak menjadi pertanyaan menarik yang bisa ditelusuri lebih lanjut).

Pada satu sisi, fakta empiris menunjukkan bahwa dalam upaya mendongkrak peningkatan kualitas pendidikan, dunia pendidikan membutuhkan berbagai katalisator, salah satunya adalah tersedianya atmosfer kompetisi akademik yang sehat, yang bisa didapatkan, antara lain dengan mengikutsertakan sekolah-sekolah dalam berbagai kompetisi akademik. Dalam hal ini, kehadiran Unipa Science Competition diharapkan dapat memenuhi ekspektasi di atas.

Dengan menimba inspirasi dari kompetisi-kompetisi sains kelas dunia seperti The International Physics Olympiad, penyelenggaraan Unipa Science Competition 2019 diharapkan dapat menghadirkan beberapa hal positif.

Pemicu untuk Go Beyond Comfort Zones

Bila IPhO menjadi ajang pertarungan para jenius dunia, USC minimal dapat menghadirkan motivasi bagi para pelajar berbakat di wilayah Flores-Lembata untuk berani go beyond their comfort zones. Hal ini dapat dilakukan, antara lain dengan memperhitungkan level kesukaran soal dan cakupan materi yang diujikan dalam kompetisi ini.

Ada pun materi yang dilombakan adalah materi dengan level kesukaran setingkat Ujian Akhir Nasional, Ujian Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, dan Olimpiade Sains Nasional, dengan cakupan materi kelas X, XI, dan XII.

Baca juga: Kelola Dana BOS: Antara Kecerdasan Manajerial dan Tabiat Personal

Jadi, bila seorang peserta didik kelas XI, misalnya, ingin berpartisipasi dalam kompetisi ini, yang bersangkutan tentu harus mempelajari ulang materi kelas X dan harus berusaha mempelajari materi kelas XII (yang kebanyakan mungkin dilakukan secara mandiri).

Selain itu, yang bersangkutan juga harus mempelajari materi-materi yang mungkin tidak diajarkan secara mendalam di sekolah mereka seperti materi-materi untuk seleksi masuk perguruan tinggi negeri, olimpiade sains, dan lain-lain.

Dengan demikian, USC diharapkan mampu memacu para peserta didik untuk dapat keluar dan bahkan bergerak maju mengalahkan comfort zone mereka dan yang terpenting, para peserta didik berbakat yang terlibat dalam kompetisi ini dapat memetik buah dari kerja keras yang mereka lalui.  

Menakar Kualitas Diri  

Kehadiran Unipa Science Competition diharapkan juga menjadi kesempatan bagi sekolah-sekolah terutama di daratan Flores-Lembata untuk dapat berkompetisi secara sehat. Untuk tujuan tersebut, soal-soal tes yang diujikan dalam Unipa Science Competition adalah soal-soal yang telah dipersiapkan sebaik mungkin (qualified tests) sehingga mampu menggambarkan kualitas atau kemampuan para kontestan.

Baca juga: Ledalero dan Kontekstualisme Filsafat

Karena hasil yang diraih para kontestan adalah cerminan dari proses pembelajaran yang telah mereka tempuh di sekolah mereka masing-masing, torehan para kontestan di Unipa Science Competition harusnya dapat digunakan oleh sekolah-sekolah yang terlibat untuk mengukur kualitas pembelajaran di sekolahnya masing-masing, juga untuk proses refleksi dan pembenahan sesuai target dan ekspektasi sekolah tersebut.

Kesempatan Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Bila di ajang IPhO, para profesor pendamping dari berbagai negara dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai riset-riset yang mereka lakukan, hal yang mirip sebenarnya dapat juga dilakukan oleh para guru pendamping di ajang USC.

Kesempatan mendampingi para kontestan USC seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para guru pendamping untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman mengenai banyak hal, seperti proses pembelajaran di sekolah masing-masing, strategi menghadapi ujian akhir nasional, hingga berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian tindakan kelas, dan lain sebagainya.

Bagi para guru pendamping, ajang USC bisa dijadikan semacam academic reunion untuk saling bertukar pikiran, saling berbagi dan saling menguatkan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan profesi mereka.

Reward Unipa untuk Anak Tanah yang Berbakat

Bercermin pada apa yang dialami alumi IPHO di mana mereka menjadi incaran universitas-universitas terkemuka dunia, para pengambil kebijakan di Universitas Nusa Nipa Maumere seharusnya juga dapat memberikan reward khusus kepada para peserta USC yang berniat melanjutkan studi di Universitas Nusa Nipa.

Misalnya, para finalis USC yang hendak melanjutkan studi di Universitas Nusa Nipa akan diberikan keringanan biaya pendidikan saat berkuliah di Universitas Nusa Nipa. Hal ini penting untuk dilakukan, selain sebagai bentuk komitmen Universitas Nusa Nipa untuk terus berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia anak tanah, juga merupakan cerminan upaya Unipa untuk meyakinkan putra-putri daerah yang berprestasi bahwa bersama Unipa pun mereka dapat mengembangkan bakat dan kemampuan mereka; mereka dapat tumbuh dan besar “di dan bersama Unipa” untuk Indonesia dan dunia.

Sekali lagi, penyelenggaraan Unipa Science Competition 2019 diharapkan dapat menciptakan atmosfer kompetisi akademik yang sehat, yang diharapkan berkorelasi positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan di kawasan kita.

Lebih dari itu, kompetisi ini juga diharapkan tidak sekadar menjadi ajang persaingan antarpeserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain, tetapi juga lebih merupakan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk bersaing dengan versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Oleh Yohanes Sudarmo Dua, Dosen Pendidikan Fisika Universitas Nusa Nipa Maumere,  Alumnus School of Physics and Astronomy, the University of Western Australia.