Home Sikka Empat Ibu Hamil asal Wairbukan di Sikka Melahirkan di Tebing Bebatuan

Empat Ibu Hamil asal Wairbukan di Sikka Melahirkan di Tebing Bebatuan

Penulis: Wall Abulat / Editor: Anton Harus

147
0
SHARE
Empat Ibu Hamil asal Wairbukan di Sikka Melahirkan di Tebing Bebatuan

Keterangan Gambar : Seorang ibu muda, warga Kampung Wairbukan di Dusun Wodong, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, yang pernah mengalami partus di jalan bebatuan. Gambar diambil pada Sabtu (27/6/2020).


Maumere, Flores Pos — Kampung Wairbukan yang berpenduduk 48 kepala keluarga di Dusun Wodong, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka hingga saat ini belum memiliki akses jalan raya untuk dilalui kendaraan bermotor roda dua dan roda empat.

Kondisi tidak adannya akses transportasi tersebut menyulitkan para ibu hamil (bumil) asal Wairbukan yang hendak mau partus saat dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Kabar terbaru, empat ibu hamil terpaksa melahirkan di jalan setapak pada tebing bebatuan dalam beberapa tahun terakhir saat dalam perjalanan menuju puskesmas terdekat.

Fakta adanya ibu hamil yang melahirkan di jalan bebatuan dan medan yang ekstrem ini disampaikan Pemangku Adat Wairbukan, Bernadus Brebo, yang juga Ketua RT 017 A, Dusun Wodong, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete kepada awak media ini pada Sabtu (27/6/2020). Informasi itu juga dikatakan oleh seorang ibu yang pernah partus di jalan beberapa waktu lalu.

Bernadus Brebo mengakui akses jalan menuju dan keluar Kampung Wairbukan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sangat berisiko bagi warga setempat khususnya para ibu hamil.

“Akses jalan di kampung ini hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kondisi jalan juga agak sulit, tanjakan atau tebing bebatuan. Ini sangat berisiko bagi warga, terutama para ibu hamil."

Dalam beberapa tahun terakhir, ada empat ibu hamil yang terpaksa melahirkan di jalan karena terpaksa berjalan kaki dan membutuhkan waktu yang lama ke puskesmas dalam kondisi jalan yang berat,” kata Brebo.

Seorang ibu muda yang pernah terpaksa partus di jalan bebatuan saat dilarikan ke puskesmas terdekat, Ibu Liberta (25 tahun), kepada awak media ini di Kampung Wairbukan, mengaku kejadian tersebut dialaminya saat melahirkan anak kedua bernama Theresia Nona. Itu terjadi pada 6 November 2019 lalu.

Pada saat itu, lanjutnya, karena ada tanda-tanda hendak melahirkan, dirinya diantar oleh keluarga ke puskesmas. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak tebing bebatuan.

Saat di tengah jalan, lanjutnya, dirinya melahirkan. Usai melahirkan, petugas kesehatan memotong tali pusat.

"Si bayi digendong ke puskesmas, sementara saya digotong,” kata Liberta mengisahkan kembali kejadian yang dialaminya saat melahirkan di jalan.

Butuh Jalan Raya

Warga Wairbukan meminta agar pemerintah membangun jalan raya di wilayah itu agar bisa dilewati kendaraan bermotor roda dua.

“Saya sudah beberapa kali usulkan kepada pemerintah agar bangun jalan atau semenisasi untuk bisa dilewati kendaraan roda dua," tuturnya.

Akses jalan dengan kendaraan roda dua, katanya, sangat penting selain untuk memudahkan akses jalan saat mengantar para ibu yang hendak melahirkan, juga untuk membawa hasil komoditas mete dari kampung ini.

"Jadi kami butuh jalan untuk bisa dilalui kendaraan roda dua,” tutur Brebo.

Terus Berjuang

Brebo juga berkomitmen akan memperjuangkan akses pembukaan jalan raya di wilayah itu. Perjuangan itu harus disampaikan kepada Dinas Kehutanan Provinsi NTT karena jalan memungkinkan untuk dibangun harus melewati kawasan hutan lindung.

“Semoga Dinas Kehutanan Provinsi NTT dan Pemkab Sikka bisa merespons perjuangan kami," tuturnya.*