Home Opini Flores dalam Filsafat Peta

Flores dalam Filsafat Peta

Oleh Felix Baghi, SVD / Dosen Filsafat STFK Ledalero

1,213
0
SHARE
Flores dalam Filsafat Peta

Keterangan Gambar : Felix Baghi, SVD

"Peta tidak saja menyajikan ukuran sebuah ruang geografis, atau pertunjukan visualisasi riil kehidupan orang-orang yang berdiam di dalamnya. Lebih  daripada itu, peta membuka sebuah narasi diri kita sebagai orang Flores yang nyata." — Felix Baghi, SVD


PADA DASARNYA peta membantu kita untuk menemukan "tempat kita" di muka bumi ini. Peta menunjuk ke mana kita pergi, dari mana kita berasal, dan di mana kita berada. Lebih penting lagi, peta menjelaskan siapakah kita.

Peta memberi isyarat tentang historisitas dan identitas siapakah kita. Dengan kata lain, peta membantu menghidupkan memori dan mengenal jati diri kita. Karena itu, peta memberi kita rasa percaya diri.

Rasa percaya diri sebagai orang Flores, misalnya, muncul ketika kita mengidentifikasi diri kita dengan seluruh geografi dan kultur kita sebagai orang Flores. Kita berada di tengah pluralitas geografi, budaya, sosial, agama, dan lain sebagainya. Dan kita menyadari bahwa Flores adalah satu pulau dari sekian banyak pulau yang tak terhitung jumlahnya di Indonesia.

Baca juga: Tolak Tambang, Tutup Lubang Kebohongan

Ketika orang Portugis membaptis pulau itu dengan sebutan "Flores", mereka menghendaki agar eksistensi Pulau Flores dan para penghuninya bukan saja secara geografis diakui, melainkan terlebih secara ontologis diafirmasi. Ada semacam sertifikasi afirmasi tentang kelahiran Pulau Flores yang harus diakui melalui sertifikasi sosial dan politis.

Kita mendengar bahwa secara politis, pernah muncul wacana untuk mendirikan Provinsi Flores. Namun kita harus melihat bahwa dasar wacana ini harus diteliti secara mendalam dan dipertimbangkan secara matang, baik dari dimensi geografis, historis, politis, dan ekonomis, maupun religius dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, kita harus menempatkan peta keberadaan kita bukan hanya dari dimensi geografis, melainkan juga dari segi eskatologis, dalam kaitan dengan masa depan Flores di tengah arus deras perubahan yang sedang terjadi.

Posisi Pulau Flores amat vital. Katakanlah "a vital crossroads" karena keberadaannya di antara arus komersial di jalur timur dengan pengaruh Bugis dari Makassar dan arus pariwisata di jalur barat dengan perkembangan turisme di Labuan Bajo.

Selain itu, perlu disadari bahwa secara geografis, Flores bukan saja suatu "terminus" arus pasar dan turisme dari Timur dan Barat. Flores adalah "a vital crossroads" tentang suatu kehidupan yang tidak pernah akan mati.

Baca juga: Ujian Moratorium Tambang!

Melihat Flores sebagai sebuah pulau berarti melihatnya secara ontologis sebagai "suatu keberadaan" yang eksistensinya selalu jelas dari posisinya sendiri. Hal ini tentu turut mendukung keyakinan metafisis kita tentang keindahan Flores sebagai suatu "pemberian".

Sebagai pemberian, cara kita memandang peta Pulau Flores harus juga seperti ini, "To look at the map means to seeing the world from above". Sama halnya seperti Tuhan, dengan kemahakuasaan-Nya, melihat segala sesuatu yang berada di segala tempat dan memiliki kekuasaan untuk mengatur segala sesuatu", cara kita melihat Pulau Flores sebagai geografi kehidupan kita pun tidak boleh dipisahkan dari cara kita menjaganya sebagai pemberian Tuhan yang mahabaik.

Secara ekonomis, kita memang mengagumi kesatuan sintesis antara geografi, eksplorasi, perdagangan, perjalanan, sejarah, budaya, komersial, ilmu, dan seni. Namun di atas semuanya, peta Flores harus dilihat lebih jauh sebagai manifestasi metafisis yang membuka kesadaran kita tentang realitas yang "di seberang" sana (invisible). Kita  mengagumi, juga mensyukuri keberadaan kita di Pulau Flores sebagai suatu keberadaan yang unik karena sebuah pemberian dari atas.

Peta dapat juga membuka kesadaran dan pengetahuan kita, dan karena itu, peta adalah sebuah teks yang perlu diinterpretasi. Apakah orang Flores mampu menginterpretasi dirinya? Tentu ini adalah tugas kita sebagai orang Flores. Kita perlu menyadari dan mengerti diri kita sebaik mungkin.

Selain itu, eksistensi Flores sebagai peta tidak saja "merepresentasi", tetapi lebih daripada itu, ia "mempresentasikan" suatu dunia. Katakanlah, peta Flores mempresentasikan dunia keindahan Flores yang  incomparable.

Lebih jauh, peta juga menghadirkan sebuah "landmarks" karena melalui peta kita memiliki dasar untuk  transformasi dari dunia fisik ke dunia peta yang konseptual.

Selain itu, kita juga perlu merasa yakin bahwa peta juga membuka kesadaran tentang kekuatan ideologi kita, retorika, dan cara kita mengerti diri kita sebagai orang Flores. Semuanya menyatu dengan budaya dan religiositas  kita yang khas.

Peta tidak saja menyajikan ukuran sebuah ruang geografis atau pertunjukan visualisasi riil kehidupan orang-orang yang berdiam di dalamnya. Lebih daripada itu, peta membuka sebuah narasi diri kita sebagai orang Flores yang nyata. Lewat narasi, Pulau Flores sebagai suatu ruang kehidupan dikisahkan, dan dengan demikian, "space is recounted" sebagai sesuatu yang khas. Dapatkah orang Flores mengisahkan dirinya sebagai orang Flores yang unik?

Kita yakin bahwa peta bisa menarasikan tata kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Katakanlah semacam diskursus geografis tentang Flores secara sosial, politis, dan ekonomis dalam terang keyakinan diri sebagai orang Flores.

Hanya ketika orang sanggup mengapresiasi asal usulnya, kebudayaannya, tempat asal, dan keyakinannya, orang itu sanggup memandang dunia di mana dia berada sebagai kesatuan di dalam perbedaan (unity in diversity). Karena itu, ruang kehidupan di Flores perlu juga dipandang sebagai hasil dari suatu kekuatan imajinasi sosial.

Kita perlu menginterpretasi peta Flores dari aspek "narasi grafik tentang sebuah ruang kehidupan". Di sini, dalam hubungan dengan Flores, kita tidak hanya memetakannya secara geografis dan ekonomis belaka, tatapi lebih daripada itu, kita harus merekam kembali dan menarasikanya secara benar. Misalnya, atas dasar "gambaran apa” (image) orang Flores mendirikan Provinsi Flores? Mengapa banyak orang menolak tambang di Flores?

Di sini, kita membutuhkan dasar imajinasi sosial bersama yang baik dan bijaksana untuk kepentingan kita bersama sebagai orang Flores dan orang Indonesia.*