Home Flores Timur Gubernur Laiskodat Menilai Pulau Solor Mahal di Dunia

Gubernur Laiskodat Menilai Pulau Solor Mahal di Dunia

Penulis: Frans Kolong Muda / Editor: Elton Wada

742
0
SHARE
Gubernur Laiskodat Menilai Pulau Solor Mahal di Dunia

Keterangan Gambar : Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat disambut secara adat di Riangsungse, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Selasa (28/7/2020) pagi.


Larantuka, Flores Pos — Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat dalam lawatan perdananya di Pulau Solor secara terbuka menilai bahwa Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur (Flotim) merupakan salah satu aset daerah yang memiliki nilai yang sangat mahal di mata dunia (investor).

Solor memiliki nilai yang mahal di mata investor karena memiliki potensi alam yang luar biasa untuk budidaya pengembangan tanaman kelor, potensi pertanian lahan kering, peternakan, panorama alam pariwisata dan kelautan yang kaya berbagai jenis ikan.

Gubernur Laiskodat menyampaikan penilaiannya itu ketika menyampaikan sambutannya di hadapan ribuan tamu dan atau hadiran yang hadir dalam kegiatan kunjungan kerja di Kabupaten Flotim yang terpusat di lokasi objek wisata pantai Riangsunge, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Selasa (28/7/2020) pukul 10.00-12.00 Wita.

Baca juga: Pembangunan 3 RKB SDN Lamaole Belum Rampung, Masyarakat Lewotanaole Mengeluh

Para hadirin yang hadir kala itu berasal dari berbagai unsur birokrat Pemprov dan Anggota DPRD NTT, Pemkab dan Anggota DPRD Flotim, para kepala desa dan ketua BPD se-kabupaten Flotim, para tokoh pendidik, tokoh adat/masyarakat, tokoh perempuan, para tenaga medis dan masyakarat Solor.

Gubernur Laiskodat berada di "Pulau Batu" Solor sejak Senin (27/7/2020) sore dan bermalam di Villa Fortuna, Desa Ongalereng, Solor Barat. Pada Selasa pagi gubernur bersama rombongan pejabat Pemprov dan 3 anggota DPRD NTT, Bupati Flotim, Antonius Hubertur Gege Hadjon, Wabup Agustinus Payong Boli beranjak dari Villa Fortuna melintasi jalan provinsi sembari menikmati kondisi jalan yang buruk untuk melanjutkan kunjungan kerja.

Agenda kunjungan kerja hari itu adalah meninjau lahan sekaligus menanam secara simbolis anakan tanaman kelor (merunggai: moringa eliefera) di hamparan lahan tidur (lahan kering) di daerah Kretentukan (Liko), Solor Barat sebagai lahan budidaya tanaman kelor pada musim hujan 2020/2021.

Kegiatan budidaya tanaman kelor di Solor merupakan program pemulihan ekonomi masyarakat akibat pandemi covid-19 yang dilakukan instansi pengguna anggaran Dinas Perkebunan dan Peternakan, Kabupaten Flotim Tahun Anggaran 2020. Dari Kretentukan gubernur melanjutkan perjalanan ke tempat pertemuan dan tatap muka di pantai wisata Riangsunge.

Baca juga: Pasar Tradisional Enatukan dan Ritaebang di Flotim Kembali Dibuka

Namun sebelum sampai di lokasi, gubernur sempat menyambangi dan melepaskan anak penyu/tukik di lokasi penangkaran tukik di pantai Pedan Wutun, Kelurahan Ritaebang.

Dalam sambutannya di hadapan pemimpin birokrat Pemprov dan Pemkab Flotim, Angggota DPRD NTT daerah pemilihan Flotim, Alexander Ofong, Ana Kolin dan Thomas Tiba, Bupati Flotim, Anton Hadjon, Wabup Agus Payong Boli, Ketua TP PKK Flotim, Ny. Lusia Barek Hayon Hadjon, para kepala desa dan ketua BPD se-Kabupaten Flotim dan para tokoh pendidik, tokoh agama, tokoh masyarakat Solor serta undangan lainnya, Gubernur Laiskodat mengatakan bahwa pembicaraan tentang Provinsi NTT mesti berawal dari permasalahan di daerah ini.

Pemerintah, katanya, tidak mampu mengurus semua permasalahan di daerah ini. Kerja di NTT terlalu banyak sehingga pemerintah, katanya, tidak tahu mengerjakan apa. Kendati demikian, di awal pembicaraannya itu, ia mengangkat permasalahan pembangunan jalan raya provinsi di NTT. Dengan tegas Gubernur Laiskodat menyatakan bahwa seluruh jalan provinsi termasuk jalan provinsi di Solor dalam masa pemerintahannya hingga 2023 akan dibangun tuntas.

Baca juga: Ketua Komisi B DPRD Flotim: Tidak Merata Distribusi Armada dan Sarana Penangkapan Ikan

"Tidak ada masalah lagi soal jalan provinsi dalam masa pemerintahan saya. Ada anggaran. Pemerintah NTT siapkan anggaran sekitar Rp900 miliar bangun jalan raya provinsi di NTT," ucapnya memberi kenyakinan penuh pada masyarakat.

Ekonomi dan Pendidikan: Dua Kendala Utama

Lebih lanjut Gubernur Laiskodat pun mengatakan bahwa persoalan atau kendala paling serius di NTT adalah ekonomi dan pendidikan. Usaha-usaha apa yang mesti dibangun, berapa banyak, dan warga masyarakat sekolah atau tidak. Janganlah kita banyak bicara, katanya lagi, kalau kasus anak stunting masih tinggi.

Untuk mengentas stunting, tandas gubernur, pemerintah kabupaten mesti menyiapkan peraturan bupati agar para kepala desa setiap bulan melaporkan kepada bupati seberapa banyak ibu hamil. Jika ada masalah ibu hamil dan banyi yang dilahirkan maka pemerintah wajib melakukan intervensi memulihkan anak stunting sampai dengan zero kasus.

Baca juga: Inilah Delapan Poin Komitmen Bersama Gempur Stunting di Flores Timur

Gubernur Laiskodat pun mengingatkan Pemerintah Flotim untuk terus menekan kasus stunting. Dalam mengatasi berbagai persoalan di daerah, pemerintah mulai dari desa, kecamatan, dan kabupaten harus melakukan desain yang baik. Pemerintah bekerja, katanya, harus didukung data yang valid, harus ada korelasi antara pendapatan dan kerja.

Dua insentif yang mesti diterapkan pemerintah adalah insentif psikologi dan insentif finance. Selain itu, dibutuhkan pula birokrat yang paham tentang entrepreneurship (usaha). Pemerintah harus memiliki data base yang valid dalam melaksanakan programnya secara baik agar berhasil menyejahterakan masyarakat.

Potensi Laut

Gubernur Laiskodat pada momen tersebut juga berbicara tentang kekayaan laut di Flotim. Dia menegaskan bahwa dalam mengelola potensi laut khususnya usaha perikanan yang menghasilkan uang yang banyak, maka hal pertama yang harus diketahui adalah market (pasar) ikan di dunia.

Menurut Gubernur Laiskodat, Perairan Flotim dan Solor, sedikitnya produksi ikan dalam setahun yang berpotensi pasar diprediksikan dapat menghasilkan uang sekitar Rp1 triliun. Ikan pasaran dunia jenis kerapu tikus dan bandeng yang menjadi idola konsumen di mancanegara bisa dikembangkan atau dibudidayakan di perairan Solor.

Baca juga: Desa Pantai Oa di Flotim Kembangkan Pariwisata dan Kelautan

Pemerintah daerah mesti melirik kekayaan sumber daya alam kelautan dan potensi yang terkandung di dalamnya sebagai upaya membangun usaha menghidupkan perekomiman masyarakat daerah.

"Laut kita ini memiliki potensi besar. Karena itu, perlu desain yang fokus dari pemerintah daerah," kata Gubernur Laiskodat mengingatkan.

Budidaya Kelor

Pada kesempatan itu Gubernur Laiskodat juga berbicara tentang budidaya merunggai/kelor. Menurut gubernur, tanaman kelor merupakan "pohon ajaib" yang pernah menyelamatakan bangsa Afrika dari krisis pangan dan gizi buruk.

"Merunggai merupakan jenis pohon ajaib yang mengandung gizi tinggi. Masyarakat Solor harus bangga karena merunggai Solor punya nama besar, salah satu jenis tanaman endemik yang dicatat dunia. Kebutuhan akan merunggai di dunia meningkat dan saat ini dunia lagi kampanye tentang kelor. Rasa enak dan nilai gizi kelor Solor melampaui kelor yang tumbuh di daerah lain di dunia. Tanaman kelor sekali ditanam dapat bertahan hidup hingga 60 tahun. Dalam pengembangan budidaya kelor di daerah ini perlu kolaborasi antara Pemprov, Pemkab/kota, Pemerintah Kecamatan, dan Pemerintah Desa," ungkapnya.

Laiskodat berharap agar masyarakat Solor dan Flotim umumnya harus mengonsumsi kelor untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah pandemi covid-19.

"Covid telah membuat dunia sama dengan NTT yang miskin. Orang NTT jangan takut mati. Mati bagi orang NTT sudah biasa. Orang kita sudah biasa hidup dengan virus sejak dulu, bukan baru sekarang. Kita janganlah takut. Orang NTT harus semangat saat semua yang lain sedang takut dengan covid. Mari kita kerja, hidup bersih, dan makan bergizi dari hasil alam yang kita miliki. Jangan kita jauh dari alam," ajaknya.

Di akhir sambutannya Gubernur Laiskodat menyatakan bahwa sesungguhnya Pulau Solor, mahal di dunia.

"Kalau ada investor luar yang datang membangun daerah ini janganlah kita usir mereka. Tahun depan orang dari luar banyak yang datang. Mari kita membangun Solor ke depan yang lebih maju," pesannya.

Visi-Misi Bupati Flotim

Bupati Flotim, Anton Hadjon dalam sekapur sirihnya di awal tatap muka bersama Gubernur Laiskodat, menjelaskan bahwa Visi Pemerintahan Flotim di bawah kepemimpinan Anton-Agus adalah "Flotim Sejahtera dalam Bingkai Desa Membangun, Kota Menata."

Namun tidak sebatas visi itu. Pemkab Flotim pun, katanya, membangun infrastruktur dan pembangunan lainnya tidak hanya di desa tetapi juga di kota. Dalam konteks pembangunan ini, pemerintahan Anton-Agus mendorong seluruh elemen masyarakat untuk secara bersama-sama membangun Lewotana Flotim demi mempercepat kesejahteraan Flotim.

Anton Hadjon juga memaparkan misi pemerintahannya yakni: pertama. menyelamatkan orang muda. Kedua, menyelamatkan infrastruktur seperti pembangunan jalan berhotmiks untuk ruas jalan kabupaten di Solor. Ketiga, menyelamatkan Tanaman Rakyat dengan meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan, dan mengajak masyarakat mencintai bahan pangan dan menu lokal. Keempat, menyelamatkan Laut. Laut Flotim kaya potensi ikan dan hasil budidaya laut lainnya.

Dalam acara tatap muka di pantai wisata Riangsunge tersebut, dilakukan pula serah terima dana kredit kepada sejumlah pengusaha mikro kecil di Flotim. Serah terima dana kredit itu diserahkan langsung oleh Dirut Bank NTT, Hari Alexander Riwu Kaho.