Home Nagekeo Guru Garis Depan Terus Berjuang Gerakkan Literasi di Nagekeo

Guru Garis Depan Terus Berjuang Gerakkan Literasi di Nagekeo

Festival Literasi Kabupaten Nagekeo 2019

260
0
SHARE
Guru Garis Depan Terus Berjuang Gerakkan Literasi di Nagekeo

Keterangan Gambar : Para Guru Garis Depan berfoto bersama Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Festina Andriati.

"Saya mengapresiasi gerakan literasi yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Festival Literasi yang digelar selama empat hari adalah puncak dari semua gagasan untuk kembali menggelorakan semangat baca-tulis," — Guru Garis Depan (GGD), Dian Lamanepa.

Mbay, Flores Pos — Festival Literasi Kabupaten Nagekeo yang Digelar di Kota Mbay selama 4 hari, yaitu 27-30 September 2019, memperlihatkan sebuah cerita berbeda.

Jika kebanyakan stan pameran menjual berbagai jenis produk seperti makanan, tenunan, dan lain sebagainya, tidak demikian dengan stan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo.

Tidak terlihat aktivitas jual beli atau kegiatan menawarkan produk tertentu. Yang tampak adalah sekelompok anak sekolah yang sedang serius membaca.

Baca berita terkait: Festival Literasi Kabupaten Nagekeo Tahun 2019: Dari Nagekeo, NTT Bacarita

Di sekitar mereka terlihat para Guru Garis Depan yang selalu siap jika sewaktu-waktu anak-anak tersebut membutuhkan penjelasan.

Interior stan dibuat sangat menarik. Selain terdapat pojok baca dan pohon literasi, terdapat rak-rak buku yang sangat menarik perhatian.

Rak buku tersebut terbuat dari kayu mentah. Bentuknya unik dan sederhana, untuk menapung puluhan buku bacaan.

Rak buku sederhana tersebut sesederhana makna gerakan literasi dalam benak 56 Guru Garis Depan yang bertugas di Kabupaten Nagekeo.

Gelorakan Semangat Baca-Tulis

Dian Lamanepa, seorang Guru Garis Depan (GGD) mengatakan, literasi yang sejati adalah kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Perempuan yang masih sangat muda tersebut telah meninggalkan Adonara, daerah asalnya untuk mengajar Bahasa Inggris di SMPN I Aesesa Satap Malabay, Desa Tedamude, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

"Saya mengapresiasi gerakan literasi yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Festival Literasi yang digelar selama empat hari adalah puncak dari semua gagasan untuk kembali menggelorakan semangat baca-tulis," katanya.

Namun demikian, Dian mengatakan bahwa dirinya bersama 55 Guru Garis Depan lainnya berkomitmen untuk menggerakkan semangat berliterasi dengan cara paling sederhana.

Baca berita terkait: Festival Literasi Nagekeo 2019: Parade Esu Kose, Kisah Kasih yang Tak Berhingga

"Kami ingin agar generasi muda Nagekeo kembali mencintai aktivitas membaca dan menulis. Kerinduan itulah yang selalu kami kampanyekan di setiap tempat tugas kami," katanya.

Dian mengatakan, para Guru Garis Depan selama ini telah melakukan banyak kegiatan untuk mendorong peningkatan semangat baca-tulis.

"Kami telah laksanakan Program MEAN yakni Mengedukasi Anak Negeri di Desa Keliwatulewa. MEAN itu untuk mengedukasi semua anak usia sekolah yang berada di daerah-daerah yang termasuk dalam kategori daerah terdepan, terluar, dan tertinggal," kata Dian.

"Kami juga telah laksanakan Kemah Literasi di Desa Rendu Ola. Di sekolah tempat kami mengajar, kami terus dorong anak-anak didik untuk mencintai buku," jelasnya.

Dian juga mengatakan, walaupun dunia sedang dalam tahap "Go Digital", para GGD berkomitmen untuk mengembalikan marwah literasi pada  semangat baca-tulis.

"Karena itu, kami ambil bagian dalam festival ini. Pada stan ini, anak-anak diberikan ruang untuk membaca. Kami turut dampingi mereka untuk pastikan bahwa mereka tidak hanya membaca, tetapi juga memahami tulisan yang mereka baca. Kami semua siap berikan penjelasan, jika ada pertanyaan dari anak-anak," katanya.

Tentang Rak Buku Kayu, Dian mengatakan bahwa rak tersebut adalah contoh paling sederhana bahwa untuk berliterasi, tidak diperlukan biaya yang besar.

"Kalau ada niat, kita dapat hasilkan hal berguna dari barang-barang sederhana di sekitar kita. Jadi, mari kita gelorakan kembali gerakan baca-tulis. Tidak perlu tunggu sampai punyai rak buku yang bagus, tidak perlu tunggu banyak buku, baru memulai. Mari kita berliterasi dengan apa yang ada di sekitar kita. Ayo membaca dan menulis," katanya.

Dominan Pertunjukan Budaya

Sementara itu, Abdul Rahim Kenta, Guru Garis Depan lain yang berasal dari  Gorontalo, Pulau Sulawesi, mengatakan bahwa setelah penyelenggaraan Festival Literasi, Kabupaten Nagekeo harus mampu mempertahankan semangat berliterasi.

"Saya menyaksikan sendiri, banyak kegiatan yang digelar dalam panggung festival ini. Sejujurnya, sesuai pengamatan saya, kegiatan yang dominan adalah kegiatan budaya," ungkapnya.

"Tentang lebih banyak pertunjukan budaya, itu bukan sebuah masalah. Tetapi karena festival yang dilaksanakan judulnya Festival Literasi, tentu kita harus pertahankan marwah dari literasi tersebut, yang pada dasarnya adalah kegiatan baca-tulis," urai Guru BK pada SMPN I Aesesa Selatan Satap Jawakisa tersebut.

Setiap Pagi Baca 15 Menit

Abdul mengatakan bahwa dirinya mengharapkan agar ada tindak lanjut yang nyata, yang perlu dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo agar kegiatan literasi tersebut tidak berhenti pada tataran seremoni.

"Khusus di sekolah kami, selain gerakan wajib membaca 15 menit setiap pagi, kami juga wajibkan anak-anak agar membaca buku di perpustakaan sekolah pada jam istirahat," katanya.

Dirinya berharap agar Pemerintah Kabupaten Nagekeo dapat mengemas berbagai kegiatan literasi dalam bentuk yang dapat menarik minat anak-anak dan generasi muda.

"Saya perlu sampaikan bahwa ketersediaan buku terutama di perpustakaan sekolah merupakan salah satu cara meningkatkan minat membaca dan menulis. Khusus untuk sekolah saya, telah 3 kali mendapat bantuan buku dari kelompok pemerhati literasi di Jawa. Sedangkan dari Pemda Nagekeo, kami belum pernah mendapatkan bantuan. Padahal kita semua sedang mendorong peningkatan minat membaca," katanya.

Abdul mengakhiri pernyataannya dengan menyebutkan bahwa dirinya dan 55 Guru Garis Depan Kabupaten Nagekeo siap menjadi pejuang literasi.

"Sampai kapan pun, kami akan terus gemakan semangat literasi agar anak-anak Nagekeo kembali mencintai buku. Dengan gemar membaca buku, pasti mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan kreatif," katanya.

Hidupkan Semangat Membaca

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo, Tarsisius Djogo, mengatakan, pihaknya mengapresiasi berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh para Guru Garis Depan.

"Saya mengapresiasi hal-hal baik yang telah mereka lakukan. Memang para GGD berkomitmen untuk menggerakkan semangat berliterasi dengan cara yang paling sederhana," katanya.

"Hal tersebut tercermin dari isi stan ini. Ada pojok baca-tulis, ada pohon literasi GGD, ada permainan rakyat, ada buku hasil karya para guru dari Nagekeo yang telah diterbitkan, antara lain yang berjudul Menggapai Mimpi Membangun Sekolah yang Berkualitas," katanya.

Terkait Festival Literasi, Tarsisius menyampaikan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi langkah baik yang ditempuh Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo untuk mendorong semangat berliterasi.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sendiri berkomitmen untuk mendorong semangat literasi dengan kembali menghidupkan semangat membaca buku.

“Setiap sekolah di Kabupaten Nagekeo, kami wajibkan untuk membaca buku 15 menit setiap pagi sebelum kegiatan belajar-mengajar. Khusus untuk kegiatan selama festival, kami dorong semangat membaca dengan menyediakan buku bacaan.”

“Pengunjung khususnya anak-anak dapat bebas membaca di sini, membaca gratis. Harapan kami, dengan konsep tersebut, generasi muda dapat kembali mencintai buku," kata Tarsisius.

Penulis: Risa Roga
Editor: Anton Harus