Home Nagekeo Hujan Angin di Mbay Robohkan Tanaman Padi

Hujan Angin di Mbay Robohkan Tanaman Padi

Penulis: Risa Roga/ Editor: Arsen Jemarut

134
0
SHARE
Hujan Angin di Mbay Robohkan Tanaman Padi

Keterangan Gambar : Salah satu titik di areal persawahan KM 1.6 Tengah Aeramo yang roboh dihantam hujan angin yang melanda Kota Mbay, Senin-Selasa (18-19 /05/2020).


Mbay, Flores Pos — Tanaman padi siap panen pada lahan seluas hampir 3 hektar milik para petani di areal persawahan KM 1.6 Tengah Aeramo, roboh dihantam hujan angin yang melanda Kota Mbay, Senin-Selasa (18-19 /05/2020).

Salah seorang pemilik sawah Lazarus Rae menyatakan bahwa dirinya sempat merasa was-was saat hujan deras bersama angin kencang mengguyur Kota Mbay pada Senin, (18/05/2020) malam hari.

Baca juga: Sambil Menangis, Warga Alorawe Tanyakan Kepastian Pembangunan Jembatan

"Memang saya sempat merasa khawatir terhadap keadaan tanaman padi milik saya sebab hujan sangat deras ditambah angin kencang. Pagi harinya saat saya datang ke sawah ternyata hampir semua padi saya telah roboh," katanya.

Lazarus menyatakan bahwa dirinya merasa sangat sedih sebab tanaman padi pada lahan seluas satu hektar tersebut sebenarnya akan dipanen beberapa hari ke depan.

"Dengan keadaan sebagian besar padi roboh seperti ini, sudah pasti hasil panenan saya menurun drastis. Perkiraan saya, panenan akan berkurang sekitar dua ton," katanya sedih.

Baca juga: Petani Tagih Janji Pemda Nagekeo terkait Pembelian Beras, Ini Sikap DPRD Nagekeo

Lazarus mengungkapkan bahwa biasanya dari lahan seluas satu hektar, dirinya dapat memanen padi sebnyak 6 ton. "Kalau sudah roboh begini, mungkin panenan saya hanya akan mencapai 4-4,5 ton saja. Itu pun kalau hujan angin tidak terjadi lagi," tambahnya.

Lazarus menyatakan bahwa, sebelum padinya roboh, pikirannya sudah lebih dulu kalut. Pasalnya harga beras saat ini di Kota Mbay, dianggapnya sangat tidak berpihak pada kemakmuran petani.

Baca juga: Warga Mbay Minta Pemda segera Membeli Beras Petani

"Sabtu lalu di pasar saya cek harga beras hanya Rp 9000 per kilogram. Mau jadi apa kalau harga segitu, sementara untuk panen nanti saya harus bayar biaya sewa mesin Rp 3.000.000 per hektar, belum termasuk biaya pengolahan dan kebutuhan hidup di tengah masa pandemi yang serba menyulitkan," ungkapnya.

Emanuel Tema, salah seorang petani di Aeramo menyatakan keprihatinannya terhadap musibah yang menimpa Lazarus dan beberapa orang petani lainnya. Eman beruntung sebab dirinya telah memanen padinya beberapa hari yang lalu, sehingga terhindar dari masalah tersebut.

"Kasihan mereka. Sudah mengeluarkan modal usaha untuk bertani dan saat hendak dipanen malah padinya roboh terkena hantaman hujan angin," ungkapnya.

Eman berharap agar Pemda Nagekeo tidak abai terhadap nasib petani. "Kami paham bahwa pemerintah sedang sibuk mengurus pencegahan virus corona. Namun ada hal yang juga perlu diperhatikan yaitu bahwa masyarakat sedang hidup dalam kesulitan," ujarnya.*