Home Sikka Kadis Mauritz Sesalkan Ulah Warga yang Membuang Bangkai Babi di Kantor Distan Sikka

Kadis Mauritz Sesalkan Ulah Warga yang Membuang Bangkai Babi di Kantor Distan Sikka

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

132
0
SHARE
Kadis Mauritz Sesalkan Ulah Warga yang Membuang Bangkai Babi di Kantor Distan Sikka

Keterangan Gambar : Bangkai babi besar yang dibungkus dalam karung dan dibuang oleh pemiliknya di depan Kantor Dinas Pertanian Sikka, Kamis (30/7/2020).


Maumere, Flores Pos — Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Sikka Mauritz da Cunha menyatakan penyesalannya atas ulah oknum warga pemilik babi yang membuang bangkai babi besar di depan Kantor Dinas Pertanian (Distan) Sikka yang terletak di Bagian Utara Pasar Alok Maumere, Kecamatan Alok, Kamis (30/7/2020).

“Saya dan jajaran Kantor Distan sangat menyesalkan ulah oknum pemilik babi yang membuang bangkai babi di depan Kantor Distan Sikka,” kata Kadistan Mauritz, Kamis siang.

Kadistan Mauritz meminta seluruh elemen warga Sikka, khususnya pemilik babi agar jangan membuang babi mati atau bangkai babi di sembarang tempat.

“Stop buang babi mati atau bangkai babi di sembarang tempat. Kalau ada kasus kematian babi, maka kasus itu dilaporkan ke Dinas Pertanian, dan babi yang mati lalu dikuburkan atau dibakar,” kata Kadistan Mauritz.

Baca juga: Kematian Babi di Kabupaten Sikka Meningkat Lima Kali Lipat

Kadis Mauritz menegaskan bahwa tugas Dinas Pertanian cq Bidang Kesehatan Hewan bukan untuk menguburkan babi mati, tetapi memantau kondisi kesehatan hewan, termasuk babi dan melakukan sosialisasi, dan menggandeng semua pihak untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan.

“Sekali lagi, saya minta agar warga tidak boleh membuang babi mati dan bangkai babi di sembarang tempat,” tegas Kadistan Mauritz.

Ditemukan di Beberapa Titik

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) Dokter Maria Margaretha Siko atau yang biasa disapa Dokter Metha menambahkan bahwa ulah warga yang membuang babi mati atau bangkai babi mati ditemukan di beberapa titik di seluruh Sikka dalam beberapa pekan terakhir seperti di jembatan Wairhubing Kota Maumere; di Jalan Raya Pantura Flores tepatnya di Waerii Kecamatan Magepanda pada Rabu (29/7/2020) dan terbaru di depan Kantor Distan Sikka pada Kamis (30/7/2020).

“Kasus pembuangan babi mati dan atau bangkai babi ini ditemukan di beberapa lokasi. Yang terbaru penemuan seekor babi mati di tengah jalan raya Pantai Utara (Pantura) Flores, tepatnya di Waerii, Kecamatan Magepanda pada Rabu (29/7/2020); dan penemuan bangkai babi di depan Kantor Distan Sikka pada Kamis (30/7/2020),” kata Dokter Metha.

Menurut Dokter Metha, pembuangan bangkai babi di depan Kantor Distan mungkin karena pemiliknya marah setelah babinya mati.

“Mungkin ada yang marah dengan kami, sehingga ada oknum buang bangkai babi di depan Kantor Dinas Pertanian Sikka,” kata Dokter Metha kesal.

Dokter Metha mengakui pihak Keswan yang dibantu beberapa warga setempat telah menguburkan atau membakar babi yang dibuang di sembarang tempat dalam beberapa hari terakhir.

“Babi yang ditemukan di Jalan Pantura telah dikuburkan. Sementara bangkai babi yang ditemukan di depan Kantor Pertanian dibakar,” kata Dokter Metha.

Seperti diberitakan media ini sebelumnya, kematian babi yang diduga akibat serangan Hog Cholera dan African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Kabupaten Sikka selama Juli 2020 ini meningkat lima kali lipat bila dibandingkan dengan kematian babi pada bulan Juni sebelumnya. Selama periode 1 hingga 23 Juli 2020 ini, jumlah babi yang mati sebanyak 1.202 ekor, sementara selama bulan Juni 2020 jumlah kematian hanya 226 ekor.

Baca juga: Warga Sikka Dilarang Membuang Babi Mati dan Bangkai Babi di Sembarang Tempat

Demikian data yang diterima Flores Pos dari Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Sikka Mauritz melalui Kabid Kesehatan Hewan, Dokter Metha, Rabu (29/7/2020).

Dokter Metha menjelaskan bahwa kematian babi selama periode Juli ini jauh lebih besar bila dibandingkan kematian selama bulan Februari hingga Juni 2020. Untuk Februari total kematian hanya 21 ekor, bulan Maret 15 ekor, April 6 ekor, Mei 69 ekor, dan Juni 202 ekor.

“Dengan data ini maka total babi yang mati selama periode Februari hingga 23 Juli 2020 terdata 1.534 ekor,” kata Dokter Metha.

Sementara Kadistan Mauritz kepada media ini menjelaskan bahwa 1.534 ekor babi yang mati ini tersebar pada 17 dari 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka, dengan kasus tertinggi ada di Kecamatan Nita sebanyak 364 ekor, berikutnya Alok Barat 217 ekor; Alok Timur 172 ekor; Alok 142 ekor; Kewapante 140 ekor; Mego 116 ekor; Tanawawo 106 ekor; Koting 95 ekor; Lela 78 ekor; Kangae 36 ekor; Waigete 21 ekor; Nelle 14 ekor; Bola 11 ekor; Magepanda 10 ekor; Doreng 5 ekor; Hewokloang 4 ekor, dan Talibura 1 ekor.