Home Ende Keluarga Berharap Hasil Autopsi Tidak Dibelokkan

Keluarga Berharap Hasil Autopsi Tidak Dibelokkan

- Kasus Kematian Ansel Wora

283
0
SHARE
Keluarga Berharap Hasil Autopsi Tidak Dibelokkan

Keterangan Gambar : Keluarga dan sebagian umat yang menghadiri Ekaristi 40 hari kematian Ansel Wora, Selasa (10/12).

 

“Sejak awal, kami sudah menduga bahwa saudara kami dibunuh. Karena itu, autopsi harus dilakukan untuk memastikannya. Tetapi, kami berharap hasil autopsi ini tidak dibelokkan,” - Hendrik Seni


Ende, Flores Pos - “Hingga saat ini, penyebab kematian saudara kami Ansel Wora belum jelas. Autopsi sudah dilakukan, tetapi setelah hampir dua minggu berlalu, belum juga diketahui hasilnya. Pihak berwenang belum menyerahkan hasil autopsi itu kepada keluarga. Meski demikian, sejak awal kami sudah menduga bahwa saudara kami mati dibunuh. Autopsi ini dilakukan hanya untuk menegaskan itu. Kami berharap hasil autopsi itu tidak dibelokkan.”

Hendrik Seni, kakak sulung Almarhum Ansel Wora, menyampaikan ini di kediamannya di Jalan Udayana, Ende, Selasa (10/12) malam, usai perayaan Ekaristi mengenang 40 hari kematian Ansel Wora.

Menurut Hendrik, upaya membuka kembali kubur dan mengangkat jenazah untuk kepentingan apa saja adalah hal yang tidak lazim dalam konteks budaya Lio. Tetapi, tegasnya, autopsi harus dilakukan demi memastikan penyebab kematian adiknya, sekaligus menyingkap seluruh rencana dan praktik kejahatan yang telah menghilangkan nyawa saudaranya.

“Sejak awal, kami sudah menduga bahwa saudara kami dibunuh. Karena itu, autopsi harus dilakukan untuk memastikannya. Tetapi, kami berharap hasil autopsi ini tidak dibelokkan,” kata Hendrik Seni. 

Pelaku Tidak Bernurani

Hal yang sama disampaikan sebelumnya oleh Pater Markus Tulu, SVD, ketika ia didaulat selebran utama P. Eman Weroh, SVD untuk berkhotbah pada perayaan Ekaristi tersebut.

Menurut Markus, kematian Ansel Wora adalah kematian yang tak wajar. Hal itu bisa dibaca dari sikap orang-orang yang menjemput Ansel dari rumahnya dalam keadaan sehat, tetapi mengantar kembali dalam keadaan mayat tanpa sepatah kata penjelasan pun yang disampaikan kepada keluarga.

“Kalau sampai dengan saat ini belum ada orang yang dengan rendah hati mau memohon maaf dan memberikan penjelasan kepada keluarga tentang kematian Ansel, maka ini adalah kebiadaban. Dan patut dapat diduga, kematian Ansel adalah pembunuhan berencana, yang dilakukan oleh orang-orang yang tak bernurani, entah untuk tujuan apa,” tegas Markus.

Baca juga: Kita Dukung Kinerja Polres Ende

Dan, lanjut Markus, praktik kejahatan ini harus diungkap dan diusut tuntas atas nama kemanusiaan.

“Katanya, Ende ini Kota Pancasila, tetapi nilai-nilai Pancasila sama sekali tidak diamalkan. Katanya bertuhan dan beradab, tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai itu. Bagaimana bisa para penguasa diam terhadap peristiwa kematian Ansel yang sangat janggal ini? Tentang kematian Ansel, ucapan turut berdukacita dari para penguasa tidaklah cukup. Apalagi membiarkan orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas nyawa Ansel bebas berkeliaran. Dan kita, orang-orang beriman, kita tidak bisa hanya berdoa dan merayakan ekaristi. Kita tidak bisa hanya berhenti di sini. Dalam konteks masa adventus, kita diajak untuk saling memaafkan dan menciptakan kedamaian. Tetapi, damai dan maaf tanpa keadilan adalah semu, tidak lebih daripada kemunafikan dan kepura-puraan. Keadilan harus ditegakkan,” kata Markus.

Aksi Teatrikal

Usai doa penutup Ekaristi, kru Teater Mata Ende mementaskan sebuah teater yang sungguh memukau umat yang menghadiri Ekaristi malam itu. Meski tanpa tema dan judul yang terartikulasi, pesan teater singkat itu sangat jelas dan kuat. Kursi kekuasaan yang kosong, yang dilatari plakat simbol keadilan, menggambarkan absennya para penguasa yang seharusnya menegakkan keadilan bagi warganya yang mati tak wajar. Dan kealpaan itu menambah perih luka dan duka batin keluarga serta para warga pencari keadilan. Hal itu tampak dalam jeritan histeris para pelakon yang membuat sejumlah umat meneteskan air mata.

Teater singkat arahan Beny Laka dan Rikin Raja itu dilakonkan di atas panggung kecil dengan setingan cahaya kontras terang gelap. Sebuah gambaran tentang kondisi Ende yang sesungguhnya, yakni gencarnya kampanye nilai-nilai Pancasila pada satu sisi dan meningkatnya aksi pembunuhan berencana tanpa peri kemanusiaan di sisi lain.

Dalam kondisi seperti ini, mencari kebenaran dan keadilan bukanlah perkara gampang. Kebenaran tersembunyi dalam nurani gelap para pembunuh serta pemimpin yang apatis, bungkam, dan tak peduli, yang untuk menyingkapnya harus membutuhkan kerja keras.  Hal ini terungkap lewat liukan tarian seorang pelakon dengan lilin bernyala di tangan. Mencari kebenaran dan keadilan di Kota Pancasila ini ibarat mencari jarum yang terlempar ke dalam sebuah ruangan suram.

Lantas, apakah kita harus berpasrah seperti seorang pelakon lelaki yang terpekur dalam pangkuan seorang pelakon wanita setelah lelah menjerit-jerit penuh kemarahan?

Tidak. Kebenaran harus diungkapkan dan keadilan harus ditegakkan. Dan untuk memulihkan peradaban Ende yang kini terluka, demikian kata Lori Gadi Djou, Ende harus kembali dibuat lebih ramah pada kemanusiaan dan kehidupan pada umumnya. Nilai-nilai kearifan lokal harus kembali diangkat dan dipromosikan, termasuk melalui panggung seni. Karena itu, komunitas-komunitas seni seperti Teater Mata harus dikembangkan dan dibiayai oleh pemerintah.

Selain itu, event-event seni dan olahraga harus sering digelar untuk meningkatkan integritas diri warga masyarakat. Orang yang hanya bekerja dan bekerja tanpa menyeimbangkannya dengan berolahraga dan menikmati karya-karya seni akan mudah mengalami depresi dan mudah terhasut untuk melakukan kejahatan.

Pantauan Flores Pos, Ekaristi yang dipimpin Pater Eman Weroh itu dihadiri 200-an umat Katolik yang berdomisili di Kota Ende dan sekitarnya. Dan tampak hadir pula sejumlah keluarga Muslim yang ingin mendokan keselamatan jiwa Ansel Wora, sekaligus memohon campur tangan Tuhan agar hasil autopsi Ansel tidak dibelokkan dan misteri kematiannya segera terungkap.

Oleh Amandus Klau
Editor: Avent Saur