Home Sikka Kematian Babi di Kabupaten Sikka Meningkat Lima Kali Lipat

Kematian Babi di Kabupaten Sikka Meningkat Lima Kali Lipat

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

137
0
SHARE
Kematian Babi di Kabupaten Sikka Meningkat Lima Kali Lipat

Keterangan Gambar : Seekor babi mati tergeletak di ruas jalan Pantai Utara (Pantura) Maumere-Kota Baru, Kabupaten Ende tepatnya di Wairii, Kecamatan Magepanda, Rabu (29/7/2020).


Maumere, Flores Pos — Babi yang diduga mati karena serangan Hog Cholera dan African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Kabupaten Sikka selama Juli 2020 ini meningkat lima kali lipat bila dibandingkan dengan kematian babi pada bulan Juni sebelumnya.

Selama periode 1 hingga 23 Juli 2020, jumlah babi yang mati sebanyak 1.202 ekor, sedangkan selama bulan Juni 2020 jumlah kematian hanya mencapai 226 ekor.

Demikian data yang diterima Flores Pos dari Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Sikka Mauritz da Cunha melalui Kabid Kesehatan Hewan, dr. Maria Margaretha Siko atau yang biasa disapa Dokter Metha, Rabu (29/7/2020).

Baca juga: Hog Cholera dan ASF Serang Sikka, Peternak dan Pengusaha Babi Terancam Merugi Rp 213 Miliar

Dokter Metha menjelaskan bahwa kematian babi selama periode Juli ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan kematian selama bulan Februari hingga Juni 2020. Pada Februari, katanya, total kematian hanya mencapai 21 ekor, bulan Maret 15 ekor, April 6 ekor, Mei 69 ekor, dan Juni 202 ekor.

“Dengan data ini maka total babi yang mati selama periode Februari hingga 23 Juli 2020 terdata 1.534 ekor,” kata Dokter Metha.

Peta Persebaran Kematian Babi

Sementara Kadistan Mauritz da Cunha kepada media ini menjelaskan bahwa 1.534 ekor babi yang mati tersebut tersebar pada 17 dari 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka dengan kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Nita sebanyak 364 ekor; diikuti Alok Barat 217 ekor; Alok Timur 172 ekor; Alok 142 ekor, Kewapante 140 ekor; Mego 116 ekor; Tanawawo 106 ekor; Koting 95 ekor; Lela 78 ekor; Kangae 36 ekor; Waigete 21 ekor; Nelle 14 ekor; Bola 11 ekor; Magepanda 10 ekor; Doreng 5 ekor; Hewokloang 4 ekor, dan Talibura 1 ekor.

“Hanya ada 4 Kecamatan yang belum ada kasusnya yakni Kecamatan Palue, Mapitara, Paga, dan Waiblama,” kata Kadistan Mauritz.

Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian

Kadistan pun meminta elemen warga untuk gencar melakukan sosialisasi terkait pencegahan dan pengendalian kematian babi yang diakibatkan oleh penyakit Hog Cholera dan ASF atau Demam Babi Afrika. Upaya tersebut seperti tidak memperjualbelikan babi sakit dan babi mati, dilarang mengonsumsi dan mengedarkan dan atau menjual daging babi yang sakit dan mati kepada tetangga atau orang lain; tidak tergiur dengan harga ternak yang murah, dan membeli daging babi yang murah.

Baca juga: ASF Serang 17 Kecamatan, Bupati Sikka Minta Elemen Warga Lakukan Hal Ini

Sisa makanan rumah tangga dari menu babi dan sisa cucian daging babi, katanya, juga tidak boleh diberikan kepada ternak babi. Selain itu dilarang pula membuang bangkai babi, dan alat dari kandang babi yang mati atau sakit. Alat tersebut dianjurkan untuk dimusnahkan.

“Selain itu, pemilik babi mesti rutin membersihkan kandang dengan menggunakan rinso, rutin memandikan babi, dan pemilik babi mesti gunakan pakaian khusus saat memberi makan babi,” kata Kadistan Mauritz.

Pengadaan Vaksin

Seperti pemberitaan media ini sebelumnya, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sikka membuka pelelangan untuk pengadaan 18.000 dosis vaksin Hog Cholera. Pengadaan vaksin dimaksudkan untuk mengendalikan kasus kematian babi yang disebabkan oleh Hog Cholera.

Hal itu dikemukakan oleh Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Sikka Mauritz da Cunha ketika ditemui Flores Pos di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Mauritz mengakui bahwa upaya pengadaan vaksin Hog Cholera dilakukan setelah diketahui bahwa sebagian besar babi yang mengalami kematian di Kabupaten Sikka dalam beberapa bulan terakhir dipicu oleh Hog Cholera.

“Kita buka pelelangan secara resmi untuk mendapatkan rekanan yang bisa mengadakan vaksin untuk kepentingan pencegahan dan pengendalian kematian babi yang disebabkan oleh Hog Cholera,” kata Kadistan.

Kadistan juga mengakui bahwa bila sudah ada rekanan yang memenuhi syarat untuk mengadakan vaksin, maka diharapkan rekanan dimaksud segera mendatangkan vaksin sehingga upaya penyuntikan vaksin Hog Cholera ke babi di beberapa kecamatan zona merah di Kabupaten Sikka segera dimulai.

“Langkah yang kita ambil ini untuk menyelamatkan babi-babi yang masih hidup,” kata Kadistan.