Home Kolom Kerancuan Spiritual: Antara Jembatan Rindu dan Jurang Kebencian

Kerancuan Spiritual: Antara Jembatan Rindu dan Jurang Kebencian

Penulis: P. Kons Beo, SVD / Misionaris SVD, tinggal di Collegio San Pietro - Roma

131
0
SHARE
Kerancuan Spiritual: Antara Jembatan Rindu dan Jurang Kebencian

Keterangan Gambar : P. Kons Beo, SVD

"Tak pernah ada paradigma spiritual yang benar, yang lahir dari hati yang berantakan dan dari pikiran yang berdebu," - Pater Kons Beo, SVD.


Mulanya biasa saja

Tidak ada yang istimewa dalam kenyataan hidup masyarakat Yahudi. Masyarakat memang telah dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok tertentu. Kelaziman kelompok sosial seperti ini berimbas pada hak, wewenang, serta kuasa tertentu. Tak cuma sebatas pada hak-hak istimewa, kelompok-kelompok itu juga memiliki tampilan perilaku khusus. Semuanya amat berpengaruh pada penilaian publik.

Adalah lumrah jika kaum Farisi, para ahli Taurat, serta kelompok para imam didaulat di tempat-tempat terhormat. Kelompok ini diamini oleh khalayak memiliki aura rohani yang pantas; mereka memiliki hak untuk mengajarkan jalan, kebenaran, dan hidup; mereka memegang kendali untuk menyatakan bahwa orang-orang berdosa telah ‘bebas dan sembuh’. Di sisi lain, ada kelompok para pemungut cukai. Inilah salah satu kelompok kaum pendosa. Stigma pendosa tersemat oleh karena pekerjaannya. Memeras bangsa  sendiri dan bekerja demi penjajah Roma dengan sendirinya menggiring kelompok pemungut cukai ke barisan manusia duri dalam daging.

Lihatlah, ketika, misalnya, para elitis Yahudi ini, seturut pengamatan Yesus, suka mencari dan mendapatkan kehormatan di tempat-tempat umum, dengan memakai tali sembayang yang panjang-panjang, suka disapa sebagai rabi di keramaian seperti di pasar (Mat 23:5-7), justru sebaliknya kelompok kaum pendosa, termasuk para pemungut cukai, menjadi sasaran amukan penilaian miring dari masyarakat. Tetapi, sekali lagi, itulah paradigma ‘yang sudah seperti itu.’ Biasalah!

Yang biasa itu justru adalah masalah

Kenyamanan pada jabatan dan kedudukan yang tinggi bagi kelompok istimewa ini berpengaruh pada keyakinan menang mutlak dalam kompetisi moral spiritual. Artinya, segala yang baik, benar, dan saleh adalah kemutlakan bagi kelompok-kelompok elite. Sementara kelompok rendah jelas tetap merayap di lintasan tak berdaya. Ternyata apa yang telah menjadi  kebiasaan ini diteropong oleh Yesus dengan satu pandangan baru. Sikap korektif Yesus ini tentu amat menantang.

Baca juga: Paul Arndt dan Religiositas Masyarakat Ngada

Perumpamaan ‘perjumpaan doa’ di Bait Allah oleh penginjil Lukas diawali dengan kata-kata, “Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini” (Luk 10:9). Sebenarnya, terhadap si Farisi itu sulit dikatakan bahwa ia ‘bersalah’. Kaum agamis radikal ini jelas mempraktekkan doa, menjalankan sedekah, serta serius dalam berpuasa. Tiga kebajikan utama Yahudiah ini, terlepas dari motivasi, diamalkan ‘sungguh-sungguh’. Pelan-pelan menjadi persoalan serius ketika si Farisi itu ‘terlibat dalam doa di kenisah.’ Bagaimana ia harus menunjukkan sikap hatinya. Hatinya sungguh terjerat oleh perangkap ‘aku’ (ego), yang memaksa Allah untuk ‘menonton dan menikmati parade kesalehannya’. Allah yang seharusnya menjadi muara praktik kesalehan dikudeta hanya untuk menjadi pengagumnya.

Tak berhenti pada sikap mengobok-obok takhta kerahiman Allah, si Farisi itu, oleh ego-centered-nya menjadi tak terbendung untuk menistakan sesama dalam diri si pemungut cukai. “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini” (Luk 18:11). Si Farisi jelas merasa puas dengan ‘doa batinnya’ itu.

Apa yang menjadi keyakinan kaum elitis Yahudi ini memang harus diruntuhkan. Mitologia spiritual yang suram ini sepatutnya dipadamkan. Sejatinya terang kesalehan tak ditentukan oleh seberapa jumlah praktik kesalehan itu dilakukan. Kerohanian dan praktik kesalehan juga berurusan dengan motivasi, yakni adanya gerak batin yang damai. Itulah damai yang lahir dari niat lurus hati penuh syukur. Ia bukanlah satu perasaan diri saleh yang dangkal karena penilaian keji terhadap orang lain.

Bait Allah haruslah menjadi rumah damai. Di dalamnya orang pertama-tama datang untuk mengoreksi sikap batinnya terhadap Allah, untuk membangun dan menjaga relasinya yang terukur dengan sesama. Semuanya dipadatkan dalam doa penuh syukur. Tak pernah ada paradigma spiritual yang benar, yang lahir dari hati yang berantakan dan dari pikiran yang berdebu. Memanglah si Farisi itu sekian rindu menuju Bait Allah untuk melaporkan segala kehebatan dan kekuatannya. Sayangnya ia masih juga membawa ‘kebencian dan ketaksukaannya pada sesama karena pemujaan terhadap ego-nya yang sekian menebal. Seperti itu kah sebuah kerohanian?

Menelisik usaha mencari kedaulatan spiritual

Seperti apakah satu ziarah dan gerak spiritual itu? Gerakan kerohanian kini bukanlah sesuatu yang baru. Kaum muda di pelbagai belahan dunia, misalnya, sudah gerah untuk diarahkan ke ‘bait Allah’. Sebagai gantinya, mereka ingin tampil otonom untuk memilih tempat sendiri atau bahkan menciptakan ‘bait Allah’ kerohaniannya sendiri. Mari kita seriusi apa yang diteliti oleh David Tacey terhadap kaum muda di Australia. Kehausan akan spiritualitas diyakini tidak akan lagi ditemukan dalam gereja-gereja bergaya tradisional yang cuma berupaya untuk menjaga tradisi.

Gereja ‘pola lama’ ini ‘dibenci’ oleh karena gaya otoritarian dalam pengajaran dan karena terlalu setia pada ritus-ritus mati gaya dan kaku. Kaum muda di Australia itu, seturut Tacey sungguh merasa tidak nyaman lagi akan tema tentang adanya pemisahan badan-jiwa, tentang iming-iming surga atau ancaman neraka. Di masa postmodern ini sungguh dituntut adanya satu spiritualitas yang mengakrabi unsur badani dan seksualitas. Yang terjadi kini, seturut pengamatan Diarmuid O’Murchu adalah bahwa romantisme agama dan spiritualitas semakin menjadi buram dan renggang. “Agama secara perlahan-lahan akan menghilang karena spiritualitas sekarang ini sedang mekar di luar agama-agama besar dunia” (1997). Mengutip padangan Mircea Eliade, malah diyakini bahwa apa yang disebut “institusi-institusi religius cenderung menjadi fosil, legalistik, dogmatis, dan otoritarian.”

Tetapi, yang menjadi nyata adalah kehausan akan spiritualitas tak pernah redup. Namun, sekali lagi, rasa dahaga itu tidak ditemukan dalam ‘bait Allah’ apa pun. Mari kita renungkan apa yang ditulis oleh Albert Nolan (2006), “Tetapi apa pun sebutan yang kita pilih, ada sebuah kehausan yang sangat kuat akan spiritualitas sekarang ini tidak didapat pemenuhannya di dalam gereja kita, di masjid, di sinagoga, atau di tempat-tempat ibadah.”

Maka pertanyaan kita adalah di mana sebenarnya ditemukan keteduhan spiritual sesungguhnya dan bagaimana harus menggapainya?

Pencarian citra kesalehan yang berujung badai dan kegelisahan

Patutlah diduga bahwa memang si Farisi itu ke Bait Allah untuk mencari ‘damai’. Yakinlah bahwa ia juga memiliki kerinduan untuk berjumpa dengan Allah. Tetapi, sayangnya, ia tak menjumpai kedamaian yang seharusnya. Saat ia menistakan sesamanya, terutama si pemungut cukai itu, yang ditampilkan sebenarnya adalah kegelisahan hatinya. Ingin berjumpa dengan Allah, namun yang ia temukan adalah ego-dirinya. Bait Allah cumalah tameng suci untuk menyudutkan sesama yang lain. Tetapi, sebenarnya si Farisi itu telah ‘rela merampok’ ketakberdayaan dan kelemahan si pemungut cukai untuk menampakkan ‘kesalehannya’ sendiri. Bukankah dalam keseharian ada yang suka sekali mengibarkan bendera ‘kesalehannya’ dengan tegah memakai kerapuhan dan kelemahan orang lain sebagai tiangnya?

Baca juga: Investasi Kemanusiaan versus Pragmatisme Politik

Kita perlu mengoreksi sikap keberimanan dan kerohanian yang pincang. Allah tidak lagi menjadi DIA, kepadanya manusia berteduh. Dengan Allah seperti itu manusia seharusnya semakin rendah hati dan sungguh ceria dalam hidupnya. Manusia salah memakai ‘Allah’ sebagai sarana untuk mencari kenikmatan, keuntungan pribadi, popularitas, terkesan saleh, dan berbagai macam kepuasan surgawi lainnya. Dan terasa lebih mengerikan lagi bahwa kerohanian yang berbaju agama telah tiba pada karakter ekslusif yang melengserkan pengampunan dan belaskasih dalam tampilannya. Radikalisme dan fundamentalisme melahirkan sikap intoleran dalam bidang apa pun, dan merasa tak nyaman bila tak bersenjatakan kekerasan.

Sekian banyak orang berbondong-bondong mencari untuk menjumpai Allah. Entah melalui doa dan puasa, pun melalui pengajaran. Tetapi, yang dijumpai dan dibangun, sekali lagi, adalah ego-dirinya dan tonjolan identitas kelompok. Bila harus disusuri lebih jauh, penggiringan opini suram yang sudah berjalan massif telah menjadi fakta tak terbantahkan. Kita tenggelam dan larut dalam euforia spiritual  awan gemawan yang mudah rapuh. Gampang tertiup ke sana ke mari. Tak kokoh. Era postmodern tak serta merta membuat manusia melek akan kebenaran. Saat peradaban manusia semakin maju, sama sekali tak berarti bahwa manusia semakin enteng dan jitu dalam membaca tanda-tanda zaman.

Ironia pencerahan kini semakin terasa lucu dan menggelikan, tetapi sungguh dinikmati. Secara konkret, yang mau dikatakan adalah bahwa seseorang bisa saja mengklaim diri  berguru sampai ke ujung dunia, tetapi sayangnya ia kembali sambil tetap pada tampilan picik dan sempit. Seseorang bisa saja beruar-uar telah menemukan dengan cerdas kebenaran di negeri anta beranta. Sayangnya, ia kembali pulang sambil membawa gelondongan kepalsuan, kebohongan,  serta rupa-rupa jualan tipu daya. Seseorang bisa saja terkesan berpiawai dalam hal-hal surgawi nan suci, tetapi sebenarnya hatinya telah terjerat oleh ketamakan akan harta dan kekayaan. Apa yang amat dibenci oleh Yesus semasa hidup-Nya adalah kemunafikan (Mt. 23:1-36) dan penyesatan (Mrk. 9:42). ‘Kegaduhan spiritual’ tetaplah mendera saat tiada lagi  kesadaran akan perbedaan antara pencerahan dan penyesatan.  

Kembali pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah

Salah satu ciri hidup yang benar adalah tinggal dalam kedamaian. Kerinduan akan rasa seperti itu mendesak siapa pun untuk mengejarnya. Kerohanian yang sehat adalah jaminan untuk alam seperti itu. Tetap menjadi keyakinan bahwa perjumpaan dengan Allah adalah pangkal untuk kembali dalam keteduhan hati.

Mencari dan merindukan kedamaian dalam Allah sambil tetap bersahabat karib dengan suara penuh kebencian, rasa hati penuh ketakutan, kecemasan atau kegelisahan adalah kesia-siaan. Merasa nyaman dengan mendera hati sesama bukanlah kenyamanan yang sesungguhnya. Itulah yang dialami si Farisi di dalam ‘doanya.’ Karena itu, kata-kata Yesus pada akhir perumpamaan itu terasa jelas, “Aku berkata kepadamu: Orang ini (pemungut cukai) pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sebab orang lain itu (si Farisi) tidak…” (Luk 18:14).

Si Farisi tetap dalam hati penuh kegaduan. Ironinya, hal itu terjadi dalam Bait Allah, yang adalah ‘rumah keteduhan perjumpaan dengan Allah.’ Ia kembali tetap dalam kehampaan. Hal sebaliknya dialami oleh si pemungut cukai. Ia  menemukan buah kerohanian yang sebenarnya. Ia kembali sebagai orang yang dibenarkan Allah; karena ia bebas dari upaya membenarkan diri sendiri dan terutama ia tak terjebak dalam usaha menciptakan kesalehannya sendiri dengan menistakan sesamanya.

Ziarah kerohanian kita belum berakhir. Hati kita tetap penuh rindu untuk mencari keteduhan batin. Sepantasnya kita berziarah bersama sebagai manusia pengembara yang berlangkah bersama pula. Yesus tak cuma hadir sebagai guru yang mengajarkan kebenaran serta yang  menunjukkan jalan dan kehidupan. Tetapi bahwa Ia itu sendirilah adalah: Jalan – Kebenaran – dan Kehidupan (Yoh 14:6 Itulah Jalan-Kebenaran-dan Kehidupan yang menemani ziarah duka nan kelabu dari kedua murid menuju Emaus. “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Luk 24:32). Keteduhan hati dan kerohanian Yesus berakar kokoh karena Ia mememiliki jembatan kesunyian untuk ‘semalam-malaman berdoa kepada Allah Bapa-Nya”. Tetapi Yesus juga setia untuk selalu menjadi ‘sahabat para pemungut cukai dan orang-orang berdosa” (Luk 7:34). Kita, sekali lagi, tetap merindukan hati penuh sukacita, tetapi bebas dalam meniti jembatan kecemasan, ketakutan, dan penuh amarah murka.*