Home Bentara Ketika Alat Berat Rusak

Ketika Alat Berat Rusak

47
0
SHARE
Ketika Alat Berat Rusak

Keterangan Gambar : Ilustrasi alat berat.

Alat berat mesti selalu ada dan dalam kondisi baik. Para tenaga juga mesti selalu ada dan selalu bersedia jika dibutuhkan.

Bencana tanah longsor sudah biasa terjadi pada musim hujan. Di Flores apalagi. Potensi longsor cukup tinggi.

Bencana teranyar terjadi di jalur Watu Cie-Deno, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, lantaran hujan lebat disertai angin. Longsor itu di Kampung Ngari, Desa Golo Nderu, 30 Januari 2020 (malam hari).

Dalam bencana itu, selain jalan putus, dapur milik seorang warga juga ikut ambruk. Lalulintas kendaraan jadi macet.

Warga yang terdampak bencana itu mencakup warga Desa Poco Lia, Lento, Pocong, Wejang Mawe, dan Desa Golo Nderu. Supaya lalulintas warga tetap berjalan, mereka berganti kendaraan.

Beberapa hari ini, berkat upaya warga yang secara manual mengatasi jalur tersebut, lalulintas kendaraan roda sudah bisa lancar sekalipun selalu waspada. Kendaraan roda empat belum.

***

Agar jalur itu bisa diakses kembali oleh warga di beberapa desa tersebut, membutuhkan alat berat adalah sesuatu yang harus dipenuhi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Timur sudah mendapat laporan tentang bencana tersebut, tetapi belum bisa melakukan sesuatu lantaran alat berat milik BPBD sedang rusak.

Entah sampai kapan, warga diminta menunggu, dan menunggu dengan sabar. Sabar hingga kapan, hingga alat berat itu kembali membaik.

Setidaknya, ini menunjukkan bahwa BPBD belum siap siaga bencana khususnya terkait longsor yang mendampak putusnya akses transportasi.

Selain membutuhkan alat berat, warga juga mengajukan permintaan kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur agar membangun tembok penahan tanah di jalur tersebut. Permintaan ini juga tentu tidak serta merta dikabulkan sebab sebuah pembangunan membutuhkan waktu perencanaan dan anggaran. Karena itu, warga tetap diminta agar menunggu, dan menunggu dengan sabar.

***

Sebagai daerah berpotensi bencana tinggi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG ) Nusa Tenggara Timur sudah jauh-jauh hari memberikan peringatan tentang adanya risiko bencana beraneka bentuk termasuk longsor di wilayah Flores. Dan Manggarai Timur adalah salah satu kabupaten yang disebutkan BMKG dalam rilis pada awal Januari 2020.

Menurut BMKG, anomali suhu permukaan laut di wilayah Samudra Hindia Selatan Nusa Tenggara berkisar +1.5 ?C hingga +4.0?C. Hal ini bisa meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan angin kencang.

Selanjutnya, kondisi ini dapat berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang yang berpotensi mencapai lebih 30 kilometer per jam.

Kurang lebih, inilah yang terjadi di wilayah Watu Cie-Deno, Kecamatan Poco Ranakan, Manggarai Timur, pada 30 Januari 2020 tersebut.

Seperti mengulang apa yang telah diingatkan oleh BMKG ini, pihak BPBD Manggarai Timur mengutarakan peringatan yang sama. “Para pengendara kendaraan roda dua dan empat mesti tetap waspada dari bahaya longsor dan pohon tumbang. Berhentilah saat hujan turun, cari rumah warga atau warung untuk berhenti sejenak, tidak boleh nekat melintas saat hujan, apalagi sertai angin dan petir.”

Baik peringatan BMKG maupun BPBD Manggarai Timur, sebenarnya bukan terutama untuk masyarakat agar waspada, melainkan yang paling utama adalah untuk BPBD Manggarai Timur itu sendiri.

Bahwasanya untuk mengatasi jalur dan warga yang terkena dampak bencana, BPBD Manggarai Timur semestinya sudah siap siaga mana kala pihaknya diperlukan oleh masyarakat, termasuk terkait bencana di jalur Watu Cie-Deno, Kecamatan Poco Ranaka tersebut.

Alat berat mesti selalu ada dan dalam kondisi baik. Para tenaga juga mesti selalu ada dan selalu bersedia jika dibutuhkan.

Oleh Avent SaurPemimpin Redaksi Flores Pos.