Home Opini Ledalero dan Kontekstualisme Filsafat

Ledalero dan Kontekstualisme Filsafat

2,073
0
SHARE
Ledalero dan Kontekstualisme Filsafat
Ia bisa saja belum dikenal tetapi yang pasti, ia sudah dihidupi sebagai sebuah nilai atau kebajikan. Di sinilah kebijaksanaan yang perlu dicintai dan mestinya merupakan inti berfilsafat sebenarnya.

Sewaktu menjadi mahsiswa filsafat di STFK Ledalero, sepertinya ada dua penilaian tak tertulis yang berkembang di antara para mahasiswa. Di satu pihak, mahasiswa yang ‘cerdas’ (di atas rata-rata), yang rajin, dan tekun melahap aneka pemikir modern, biasanya memilih tema skripsi yang mengangkat pemikir tertentu dengan gagasannya yang bisa diterapkan dalam konteks lokal.

Untuk maksud itu, berbagai buku baik lokal, nasional, maupun internasional harus ‘dikuasai’ untuk mengetahui pemikiran yang sebenarnya. Selain itu, akses kepada sumber utama akan menjadi ukuran kedalaman materi tersebut.

Baca juga: Simposium Internasional STFK Ledalero Hadirkan Profesor dari Chicago

Pada lain sisi, mahasiswa yang ‘biasa saja’, umumnya mengambil tema budaya lokal untuk diangkat menjadi skripsi. Ada keyakinan, tema itu lebih mudah. Memang diharuskan membaca buku tertentu sebagai penopang teori, tetapi bab inti akan menadi bagian yang dikuasai penulis.

Pemahaman ini biasa saja hanya pada periode saya, atau bahkan hanya menjadi kesan pribadi. Namun inspirasi sederhana ini menjadi latar belakang catatan saya ini, khususnya dalam rangka perayaan 50 tahun STFK Ledalero: bagaimana menjadikan pemikiran filsafat lebih kontekstual? Apa peran filsafat di tengah dunia yang begitu terbawa holeh berita hoaks tanpa memberi ruang untuk menjadi lebih kritis?

Filsafat Kontekstual

Baik Reza A.A. Wattimena dalam Protopia Philosophia dalam Berfilsafat secara Kontekstual maupun Franz Magnis Suseno dalam Berfilsafat dalam Konteks, melihat pentingnya mengembangkan filsafat secara kontekstual.

Bagi Wattimena, sebagai pecinta kebijaksanaan, para filosof mestinya tidak sekadar bersandar pada ide-ide utopis besar dalam waktu singkat. Filosof perlu juga secara protopis yakni bertekun dalam kompleksitas hidup dan berusaha melampaui berbagai tantangan secara perlahan tetapi pasti.

Magnis Suseno melalui buku yang lebih merupakan kumpulan karangannya yang memuat refleksi filosofis dari permasalahan sosial tertentu, berusaha menyadarkan bahwa berfilsafat begitu penting dalam kehidupan. Berhadapan dengan dunia yang serba teknokratis dan pragmatis, kita butuhkan keterampilan berfilsafat. Dari sana diharapkan, muncul pemikiran kritis agar setiap orang dapat menentukan aksinya sebagai jawaban atas tuntutan konteks yang ada.

Hal seperti ini mengingatkan apa yang ditekankan oleh Karl Popper tentang ‘the context of discovery’ sebagai prinsip dan tanggung jawab yang mesti dikembangkan oleh para filosof. Mereka tidak sekadar berkutat menjustifikasi/membenarkan apa yang sudah menjadi gagsan besar para pemikir hebat yang notabene sekadar bersifat aplikatif, tetapi juga perlu secara berani (dengan keberanian intelektual), menawarkan gagasan baru.

Gagasan seperti ini akan menarik karena ia memiliki kebaruan dan (diharapkan) kesesuaian dengan konteks. Hal itu berbeda dengan pemikiran aplikatif yang merupakan kesimpulan dari penerapan pemikiran orang lain meski orang itu sehebat apa pun. Memang pada konteks penerapan atau justifikasi sebagai pembenaran, seseorang bisa dijuluki ‘ikut perkembangan zaman’, oleh karena mengikuti indikator yang secara universal sudah diakui. Selain itu, dengan mudah mengukur level seseorang dari tahapan yang sudah dicapai.

Meski demikian, apa yang ingin diterapkan karena tidak keluar dari dalam, akan membutuhkan proses penyesuaian yang hasilnya belum tentu maksimal. Hal itu berbeda dengan konteks penyibakan yang merupakan refleksi yang lahir dari konteks tertentu. Ia kemudian diangkat ke tataran yang lebih tinggi karena dari segi konteks sudah terbukti. Ia kemudian ditawarkan sebagai alternatif.

Pada tahapan ini, ia bisa saja belum dikenal tetapi yang pasti, ia sudah dihidupi sebagai sebuah nilai atau kebajikan. Di sinilah kebijaksanaan yang perlu dicintai dan mestinya merupakan inti berfilsafat sebenarnya.

Pedagogi Publik

Perayaan HUT Emas STFK Ledalero, tentu menjadi begitu penting, tidak saja untuk memberi kesaksian tentang pentingnya berfilsafat di era ‘milenial’ seperti ini, tetapi juga terutama menghadirkan pertanyaan reflektif, bagaimana agar filsafat bisa hadir sebagai sebuah cara berpikir kontekstual yang bisa membawa alternatif tidak saja bagi Gereja di NTT tetapi juga bahkan mendunia?

Pertama, perlu terus menghidupkan kemampuan untuk ‘bertanya’. Seorang filosof selalu bercirikan terus menggugat dan bertanya tentang hidup. Ia menggugat banyak orang untuk tidak berhenti pada apa yang ia punyai tetapi perlu menerobos melampaui batas-batas demi mencapai sebuah kebenaran dan kebaikan yang lebih baik.

Yang perlu dijaga, apakah pertanyaan itu lahir dari kebutuhan banyak orang? Apakah yang ia anggap penting untuk ditanyakan sungguh relevan dengan konteks yang ada?

Dalam banyak hal, banyak filosof dan teolog yang begitu indah menulis, menggagas jawaban bagus, dan runtut yang kemudian ditampilkan sebagai pemikiran alternatif. Sayangnya, pertanyaan itu kerap hanya penting bagi dirinya untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi nyaris dirasa penting oleh orang sederhana.

Problem bertanya seperti ini pernah menjadi sentral kritik atas teologi sistematik-dogmatis di Amerika Latin. Para teolog dikritik karena bergulat membahas tentang ‘jenis kelamin malaikat’ yang menjadikan diskusi begitu menarik. Sayangnya, bagi masyarakat sederhana, pertanyaan tidak terbayang dan tidak akan pernah ditanyakan secara alamiah, kecuali mereka ‘dipaksakan’.

Pada konteks berpikir seperti ini, mestinya tema-tema (yang diangkat dalam skripsi) yang lahir dari nilai budaya lokal memiliki tempat yang lebih tinggi karena di sana tersibak secara kontekstual nilai-nilai yang sudah dihidupi. Namun hal ini tidak bisa terjadi dengan sendirinya kalau tidak diimbangi dengan penelitian sosiologis dengan proses yang ketat dan runtut. Kita berasumsi, metode penelitian, statistika, filsafat sosial merupakan contoh pemahaman yang perlu dikuasai sebelum meneliti atau mengambil tema penelitian.

Hanya dengan demikian seseorang tidak sekadar mengangkat hal-hal yang oleh Karl Popper hanya berada pada tahapan dunia 1 berupa asumsi-asumi atau pengamatan subjektif. Ia perlu melangkah kepada karya-karya besar yang didalami agar pada gilirannya dapat terinspirasi untuk melakukan dalam konteks berbeda dengan model dan metode yang berbeda pula.

Kedua, filsafat perlu hadir sebagai sebuah pedagogi publik. Sangat dirasakan dewasa ini, berita hoaks sudah dianggap biasa. Akses mudah bagi semua orang untuk memublikasikan apa pun yang dianggap menarik (meski tidak bernilai) mendorong agar terus dikembangkan sikap kritis dalam masyarakat secara umum. Kehadiran para filosof dalam dunia seperti ini sangat dirasakan. Dengan keterlibatan mereka baik dalam tulisan, rapat, diskusi, hingga secara proaktif terlibat dalam pendidikan baik di sekolah maupun universitas merupakan antara lain celah yang bisa digunakan untuk dapat ‘menggarami’ dunia yang kian galau oleh tendensi seperti ini.

Pada tahapan yang lebih jauh, meminjam Sekolah Frankfurt, para filosof perlu terlibat dalam pengambilan keputusan karena disadari, dalam banyak hal, kepincangan itu sudah ‘didesain’ dari hulu. Keterlibatan pada tahapan pengambilan keputusan akan memungkinkan lebih cepat tersebarnya kebaikan. Pada tahapan ini keterlibatan dalam bidang politik, baik eksekutif maupun legislatif sekadar mengambil dua contoh, merupakan medan yang patut diapresiasi. Melaluinya diharapkan agar secara sosial terdapat gerakan yang lebih luas dan publik untuk dapat mendidik masyarakat agar kebaikan umum bisa lebih segera terwujud.

Harus diapresiasi, dari 6000 lulusan yang telah melewati pendidikan di STFK Ledalero, hampir 70 persen yang menjadi awam telah melakukan banyak hal sebagai kerasulan nyata tidak saja untuk masyarakat NTT tetapi juga Indonesia. Selain itu, keterlibatan para tertahbis tidak saja dalam karya seputar altar tetapi juga dalam masyarakat untuk berpedagogi secara kritis, sudah banyak dilakukan.

Tetapi kebutuhan global mengharuskan keberanian intelektual untuk lebih berkomitmen secara kontekstual melahirkan pemikiran alternatif lahir dari kebajikan lokal. Para mahasiswa filsafat pada gilirannya tidak sekadar menjadi pelahap pemikiran asing yang ingin diterapkan tetapi juga secara sosiologis terdorong untuk menjadi pemikir lokal yang sukses mengangkat ke dunia luar kekayaan pemikiran dan budaya. Cara menulis yang sederhana, mudah dicerna, tanpa terlalu terpikat pada term filosofis yang hanya dipahami lingkup terbatas menjadi antara lain indikator tentang kontekstualisasi yang sudah bisa dijalankan.

Semoga usia emas ini menjadi momen kontekstualisasi filsafat. Ad multos annos STFK Ledalero.

Oleh Robert Bala, Alumnus STFK Ledalero, Angkatan 1989