Home Opini Media dan Sensitivitas Moral

Media dan Sensitivitas Moral

133
0
SHARE
Media dan Sensitivitas Moral

Keterangan Gambar : Ilustrasi. Sumber gambar:

https://www.dakwatuna.com/2011/08/28/14303/hukum-menonton-televisi/#axzz5xLqYtTJ9

Televisi adalah salah satu media hiburan yang amat digemari oleh masyarakat. Di antara beragam penemuan, televisi adalah salah satu penemuan yang cukup bermanfaat dalam sejarah manusia.

Sekian bermanfaatnya televisi, hingga siaran, tayangan, iklan, dan pemberitaannya berhasil mengaduk-aduk emosi masyarakat, menciptakan pro dan kontra, menimbulkan simpati, antipati, bahkan pertikaian dalam tubuh sosial kita.

Pada skala politis, masyarakat dibuat kebingungan dengan pertemuan mendadak dua tokoh nasional pada 13 Juli, yang baru saja bertarung habis-habisan pada pemilihan presiden kali lalu, Jokowi dan Prabowo.

Pertemuan dua tokoh ini terbilang mengagetkan dan sederhana sebab masing-masing tim pemenangan kampanye dan masa pendukung tidak diberitahu secara luas rencana pertemuan ini, pun keduanya bertemu di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT), Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Berita lain yang juga terbilang ‘tiba-tiba’ adalah tertangkapnya Komedian Tri Retno Prayudati alias Nunung oleh Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, Jakarta, 19 Juli. Nunung dan suaminya ditangkap di kediaman mereka karena kasus narkoba. Kisah Nunung yang ditayangkan secara eksklusif oleh sebuah stasiun televisi swasta mengagetkan masyarakat.

Pengakuannya yang berderai air mata menimbulkan beragam perasaan dan tafsiran: mengapa Nunung harus berbuat seperti itu?

Terlepas dari isi berita, berita-berita yang dilaporkan melalui media audio-visual ini menempatkan media dalam peran yang besar. Media memiliki posisi strategis dalam relasi sosial-kebudayaan. Ia terhitung sebagai pilar keempat demokrasi.

Media berada pada titik poros dinamika sosial masyarakat. Ia terlibat sedemikian sehingga sebuah berita dengan cepat menciptakan sebuah sudut pandang dan sikap dalam diri masyarakat.

Ada pun term media yang dipakai pada tulisan ini mengacu pada media hiburan searah yaitu televisi, meskipun beberapa akan ditemukan dipakai secara campur-aduk dengan pengertian media-media mainstream.

Budaya Media

Tak bisa dinafikan jika produksi budaya selama ini amat dipengaruhi oleh industri media sampai pada level di mana tidak ada produksi budaya yang tak tersentuh atau tak melibatkan media. Budaya-budaya tradisional kemudian dimaknai secara berbeda melalui sentuhan modernitas yang tersaji melalui media. Di sana ada imitasi dan idolatria budaya media.

Namun persoalannya persis terjadi pada sisi ini yakni sentuhan modernitas melalui media kerap membuat makna dari suatu budaya tradisional menjadi berkurang dan bahkan hilang sama sekali. Media mengaburkan nilai intrinsik dari kebudayaan lama, yang dipakai sebagai pijakan hidup bersama.

Di sini media tidak memberikan pendidikan budaya, tidak memberikan signifikansi moral melalui pemberitaan-pemberitaannya. Budaya-budaya tradisional yang menawarkan kekayaan nilai moral digerus secara halus melalui perkembangan media audio-visual. Dominasi media menyebabkan bukan hanya nilai-nilai budaya yang dihancurkan, melainkan juga nilai-nilai moral (Tester, 2009:xi).

Berita-berita yang ditampilkan secara berulang pada akhirnya menjadi kehilangan makna. Televisi berhenti ketika emosi masyarakat digoreng sana-sini. Ia mengemas segala sesuatu sebagai hal yang menarik pada dan untuk dirinya sendiri.

Masyarakat digiring dengan kognisi dan afeksi yang sama, lantas berita-berita itu menguap dan tidak meninggalkan pengaruh di dalam kesadaran moral masyarakat.

Apakah ada pesan moral di balik tayangan atau pemberitaan-pemberitaan televisi menjadi sebuah pekerjaan abadi untuk industri media, sebab keseriusan mengejar rating sering kali melanggar etika media, termasuk etika moral yang juga ada dalam budaya-budaya masyarakat.

Untuk itu, Walter Benyamin menganggap televisi sebagai galeri kuno dan penuh ritus. Ritus-ritus jatuh ke dalam formalisme: kebiasaan berulang yang kehilangan makna.

Memang amat tampak, televisi mampu menciptakan solidaritas moral di antara individu dan masyarakat, sebab ia adalah sarana utama dan paling berpengaruh untuk mewujudkan solidaritas itu.

Namun sering kali apa yang ditawarkannya baik dari sisi kemasan maupun isi berita tidak membawa dampak moral yang cukup penting. Solidaritas itu tidak pernah mendorong orang untuk bertindak atau berlaku secara moral.

Televisi pun jatuh ke dalam statiktisme yang mengangggap manusia tidak lebih daripada deret bilangan yang bisa dihitung. Semakin sering sebuah pemberitaan ditampilkan di televisi atau pun di media-media lain, maka semakin berkurang dampaknya bagi masyarakat.

Justru ia semakin melahirkan sikap tidak peduli pada para pemirsa, hingga kemudian berita itu dianggap biasa-biasa saja, sekadar menjadi bahan cerita/gosip pada jam-jam minum dan jam-jam arisan, dan sebagainya.

Media memproduksi budaya baru (budaya zaman now) dan menggantikan budaya-budaya lama yang dianggap ketinggalan zaman. Akibatnya, masyarakat mengalami gegar budaya: kehilangan sesuatu yang bisa memberi arah dalam hidupnya.

Senada dengan itu, Filsuf Jerman Theodor LW Adorno juga melancarkan kritiknya terhadap produksi media bahwa media menjadikan kita pemalas dan pengecut yang tidak mampu menaikkan audiensnya ke level kemanusiaan yang lebih tinggi atau bahkan tidak mampu untuk berkemauan dan membayangkan apa pun kebutuhan kita dan apa pun bentuk pencerahan (Tester, 2009:162).

Sensistivitas Moral

Tulisan ini mengajak semua penggemar setia televisi untuk bisa mengambil sikap terhadap semua jenis pemberitaan media audio-visual ini sambil bertanya, “apakah ada hubungan antara media dan nilai moral?”

Produk-produk modernitas yang ditawarkan melalui portal ini tidak boleh diterima begitu saja, pun tidak boleh sampai menguburkan daya kritis masyarakat. Sebab produk-produk media kerap ditiru dan dikonsumsi sebagai taken for granted juga.

Pada gilirannya, masyarakat dibentuk untuk menjadi bergantung pada produk-produk yang dihasilkan itu. Hagemoni media mesti dilawan dengan cara mengambil sikap kritis terhadap semua jenis pemberitaan.

Pemberitaan-pemberitaan tidak boleh bermaksud hanya untuk menyentuh kesadaran atau solidaritas moral masyarakat, apalagi hendak mengarahkan audiens pada proses dehumanisasi sebagaimana yang dicurigai oleh Adorno terhadap hegemoni media. Ia harus berjingkrak pada kelas yang lebih high yaitu mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan (action) moral dan berlaku secara moral dalam komunitasnya.

Kalau tidak, maka waktu yang terpakai untuk menonton televisi menjadi sia-sia saja, pun secara ekonomis masyarakat terhitung rugi. Kita dilindas oleh kekuatan media. Maka apa gunanya kita menonton tv, selain hanya untuk menunggu jam ngantuk sebelum beristirahat.

Hal ini sangat penting dan berarti. Pemberitaan dan siaran televisi tidak boleh berhenti pada aspek kognitif semata atau hanya untuk pendidikan moral, sebab budaya dan moralitas adalah konstruksi peristiwa dan tindakan. Peristiwa ditafsirkan dalam hubungan sebab-akibat yang mempunyai ciri struktural: titik awal, tengah, dan akhir.

Televisi memengaruhi audiens pada titik awal, maka yang harus dipikirkan dalam pemberitaan dan siaran mereka adalah sesuatu yang bisa mendorong siaran itu mencapai titik tengah dan titik akhir.

Titik pemahaman (kognitif) harus mendorong orang untuk selanjutnya berlaku secara moral bagi dirinya sendiri (titik tengah), untuk kemudian memiliki sensitivitas moral terhadap kehidupan sosial-masyarakat di mana individu itu tinggal.

Media mesti melibatkan etika moral dalam seluruh perencanaan, organisasi, pemasaran, siaran, dan pemberitaan. Ia tidak boleh hadir hanya untuk mengejar rating dan profit sebanyak-banyaknya. Media harus berpihak pada moralitas.

Oleh Lolik Apung (Warga Kelurahan Pitak, Manggarai, Flores)