Home Opini Menanti Gebrakan Mas Menteri Nadiem

Menanti Gebrakan Mas Menteri Nadiem

108
0
SHARE
Menanti Gebrakan Mas Menteri Nadiem

Keterangan Gambar : Gerardus Kuma Apeutung, Guru Garis Depan (GGD) di SMPN 3 Wulanggitang, Flores Timur.

Walau peran guru sudah tidak diragukan lagi, namun dalam menjalankan tugas pengabdian, guru selalu menghadapi sejumlah masalah. Persoalan tersebut tak pelak membuat nasib dan masa depan guru menjadi suram dan kebebasan dalam menjalankan tugas pun terkekang. Sanggupkah Mas Menteri Nadiem membawa para guru keluarga dari kesuraman dan kekekangan itu?

Ketika Presiden Jokowi mengumumkan kabinet pada periode kedua pemerintahannya yang diberi nama Kabinet Indonesia Maju, publik seperti terhenyak. Kenapa? Salah satunya, adalah ditunjuknya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Penunjukan Nadiem seperti “melenceng” dari tradisi selama ini. Jabatan Mendikbud selalu identik dengan “orang dalam” pendidikan dan atau organisasi tertentu. Mas Nadiem tidak berasal dari kedua-duanya. Wajar publik kaget.

Akibatnya muncul sikap pro dan kontra. Ada yang setuju, ada yang menolak. Suatu reaksi yang lumrah tentu saja. Apalagi baik yang pro maupun kontra tampil dengan argumentasi masing-masing. Pihak kontra merasa khawatir karena tidak memiliki latar belakang dan basis ilmu pendidikan, Mas Nadiem tidak menguasai persoalan pendidikan di Indonesia. Hal ini akan berakibat pada kebijakan yang bisa melenceng dari pada tujuan pendidikan nasional.

Baca juga: Pendidikan Dasar dan Ketidakadilan Negara

Masalah pendidikan Indonesia yang begitu kompleks harus ditangani oleh orang “dalam” pendidikan. Merekalah yang memahami “penyakit” pendidikan, dan karena itu, lebih tahu “obat” yang cocok menyembuhkannya. Memberikan kesempatan kepada “orang luar” untuk mengurus pendidikan hanya akan menambah ruwet persoalan yang sedang dihadapi.

Saya, sebagaimana pihak pro, percaya walau tidak memiliki latar belakang pendidikan, Mas Nadiem mampu membawa perubahan bagi dunia pendidikan. Alasannya, sudah terlalu lama pendidikan diurus “orang dalam” yang cenderung bersikap konservatif. Sikap ini dicirikan dengan keengganan untuk berubah dan terus melanggengkan pakem lama. “Orang dalam” sering terjebak pada comfort zone. Merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Akibatnya, pendidikan kita miskin inovasi. Tidak heran menteri boleh berganti tetapi pendidikan tetap statis.

Persoalan pendidikan Indonesia sudah sangat akut. Karena itu, figur baru yang berani melakukan perubahan sangat dibutuhkan. Pendidikan memerlukan “darah segar” yang tidak takut membuat terobosan, bertindak kreatif, dan berani mendobrak hal-hal monoton yang dipertahankan selama ini. Di sini kehadiran “orang luar” pendidikan merupakan keniscayaan. Figur yang berpikir dan bertindak out of the box. Mas Nadiem adalah jawaban yang tepat.

Ditunjuknya Mas Nadiem sebagai Mendikbud membawa angin segar bagi dunia pendidikan. Sebagai menteri berusia muda, 35 tahun, Mas Nadiem merupakan sosok yang mewakili kaum milenial. Figur Mendikbud ini sudah sangat lekat dengan teknologi. Karyanya dalam membangun perusahan start up dengan aplikasi go-jek sudah tidak diragukan lagi.

Dengan keahliannya di bidang teknologi, Nadiem diharapkan mampu membenahi seabrek persoalan pendidikan di Tanah Air. Sebagaimana diungkapkannya saat ditunjuk menjadi Mendikbud, pendidikan Indonesia merupakan terbesar keempat di dunia dalam hal jumlah sekolah dan murid. Jumlah yang besar dengan kompleksitas persoalan yang berbeda-beda, ditambah dengan luasnya wilayah geografis, ketimpangan dalam hal layanan dan kualitas pendidikan antara kota dan desa, dan wilayah Jawa dan luar Jawa, menuntut kecanggihan teknologi untuk mengatasinya. Ini adalah keahlian Mas Nadiem.

Terlepas dari suara pro kontra tersebut, saya melihat penunjukan Mas Nadiem sebagai Mendikbud memancarkan sinar harapan akan perubahan dalam bidang pendidikan. Siapa pun yang menjadi CEO yang memimpin perusahan dengan ribuan karyawan dalam usia muda bukanlah figur biasa-biasa saja. Ia tentu memiliki visi yang tajam sehingga mampu melakukan revolusi dalam bidang pendidikan.

Pendidikan Bergantung pada Guru

Angin segar perubahan pendidikan mulai terasa tatkala Mendikbud tampil dengan pidato yang menyentak saat peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2019. Pidato hanya dua halaman tersebut menguliti praktik pendidikan di Tanah Air selama ini yang cenderung birokratis-administratif. Tidak menunggu waktu lama, gebrakan lebih besar dilakukan Mas Mendikbud Nadiem. Penghapusan ujian nasional yang merupakan momok menakutkan insan pendidikan yang selama ini hanya sebatas wacana benar-benar dieksekusi. Tahun 2020 merupakan UN terakhir, dan selanjutnya evaluasi atas proses pendidikan akan dilaksanakan melalui asesmen kompetensi minimum dan survei karakter.

Harus diakui bahwa persoalan pendidikan nasional sangat kompleks. Membereskan persoalan ini secara menyeluruh bukan perkara gampang. Lalu bagaimana Mas Menteri harus menyelesaikan masalah pendidikan nasional? Tanpa mengecilkan persoalan lain, yang tentu saja harus dicarikan solusinya segera, hemat saya persoalan guru harus menjadi prioritas Mas Nadiem.

Baca juga: Reformasi Pendidikan: Belajar dari Finlandia dan China

Tidak dapat dibantah bahwa guru memegang peran vital dalam dunia pendidikan. Figur guru tidak bisa dipisahkan dari pada dunia pendidikan. Guru adalah garda terdepan dalam upaya pencerdasan generasi muda, harapan bangsa. Sebagai ujung tombak pendidikan, perannya tidak akan tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Maju atau mundurnya pendidikan sangat bergantung pada sosok guru. Bahkan dalam kurikulum yang jelek sekalipun, pendidikan akan melejit bila ditangani guru yang kreatif.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (pasal 1 ayat 1).

Karena itu, seorang guru dituntut untuk memiliki empat kompetensi yaitu profesional, pedagogi, kepribadian, dan sosial. Artinya, figur guru yang baik adalah orang yang sungguh memahami materi yang akan diajarkan kepada siswa, memiliki kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, memiliki kepribadian yang baik, dan mampu membangun relasi yang baik dengan sesama.

Lilitan Persoalan Guru

Walau perannya sudah tidak diragukan lagi, namun dalam menjalankan tugas pengabdian, guru selalu menghadapi sejumlah masalah. Persoalan tersebut tak pelak membuat nasib dan masa depan guru menjadi suram dan kebebasan dalam menjalankan tugas pun terkekang.

Persoalan yang dihadapi guru seperti upah rendah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa upah guru di Indonesia sangat jauh dari pada layak. Dibandingkan dengan negara lain, gaji guru kita kalah jauh. Kalaupun ada anggapan bahwa kesejahteraan guru sudah membaik, itu hanya guru PNS dan yang sudah bersertifikasi. Sementara guru yang belum bersertifikasi dan berstatus honorer, kehidupannya masih melarat. Upah yang jauh di bawah standar UMR tidak bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Persoalan lain yang selalu dihadapi guru adalah birokrasi yang membelit. Aturan birokrasi seperti membelenggu kebebasan dan menghambat karier guru. Contohnya, kesulitan guru honorer mendapat Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Padahal sebagai nomor identitas, NUPTK merupakan syarat bagi guru untuk mendapat berbagai tunjangan dan atau mengikuti pelatihan serta kegiatan dalam peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

Selain itu, guru juga sering mengalami politisasi. Sebagaimana jamak diketahui, pertarungan politik selalu memakan korban. Dan guru sering dijadikan sebagai tumbal. “Suara” guru yang selalu didengar dan dihargai di kampung-kampung membuat guru dijadikan objek kepentingan politik. Konsekuensinya, apabila tidak berhasil mengamankan kepentingan politik politisi lokal, guru siap “dilempar” ke daerah terpencil dan atau dicopot dari jabatan yang disandang.

Bergantung pada Menteri Nadiem

Tentu masih banyak persoalan guru yang terus diwariskan dari rezim ke rezim tanpa solusi. Kini beban persoalan tersebut diletakkan pada pundak Mas Nadiem. Menjadi imperatif moral bagi Mas Nadiem untuk segera membereskan persoalan tersebut. Makin cepat persoalan itu dibereskan, makin cepat pula wajah pendidikan nasional menjadi cerah. Sebaliknya, membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut akan membuat nasib pendidikan menjadi buram.

Pesan terakhir buat Mas Nadiem, “kehebatan Mas Menteri dalam bidang teknologi sudah tidak diragukan lagi, tetapi kesuksesan Mas Nadiem memajukan pendidikan akan diuji dan dipuji ketika mampu membereskan persoalan pendidikan nasional termasuk persoalan yang mendera guru.”

Oleh Gerardus Kuma Apeutung, Guru Garis Depan (GGD) di SMPN 3 Wulanggitang, Flores Timur.