Home Sikka Menyikapi Kasus Rawan Pangan di Sikka, WTM Tawarkan 4 Solusi

Menyikapi Kasus Rawan Pangan di Sikka, WTM Tawarkan 4 Solusi

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

259
0
SHARE
Menyikapi Kasus Rawan Pangan di Sikka, WTM Tawarkan 4 Solusi

Keterangan Gambar : Direktur WTM Maumere Carolus Winfridus Keupung


Maumere, Flores Pos — Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka Carolus Winfridus Keupung, Jumat (18/9/2020) menawarkan 4 solusi yang mesti dilakukan Pemkab Sikka cq Dinas Ketahanan Pangan dalam menyikapi kasus rawan pangan di Sikka, khususnya terkait fakta lapangan yang menunjukan bahwa terdapat 27 KK di Desa Done, Kecamatan Magepanda yang mulai mengonsumsi ubi hutan karena menipisnya stok pangan di wilayah itu.

Adapun 4 solusi itu antara lain: pertama, seharusnya Pemerintah Kabupaten Sikka khususnya Dinas Ketahanan Pangan memikirkan langkah antisipatif terhadap warga yang sudah perlahan-lahan mengalami kekurangan pangan akibat gagal panen.

Kedua, Dinas Ketahanan Pangan perlu melakukan pemantauan yang jelas kepada semua petani di kabupaten Sikka yang mengalami gagal panen pada tahun ini dan melakukan pengamatan dengan melakukan survei rumah tangga (SRT) dan memberikan informasi yang benar dan jangan cuma bersikap Asal Bapak Senang.

Ketiga, Pemerintah Kabupaten Sikka membenahi sistem penanggulangan bencana dengan mengedepankan kesiapsiagaan yang tinggi untuk mengantisipasi terjadinya rawan pangan.

Baca juga: Wujudkan Ketahanan Pangan di Sikka, Bupati Robi Idong Upayakan Tanam Tiga Kali Setahun

Keempat, pemerintah mengembangkan program yang berorientasi untuk membangun ketahanan dan kedaulatan pangan masyarakat petani di Kabupaten Sikka.

Beberkan Data Kerusakan Jagung

Win dalam rilis resmi yang diterima Flores Pos, Jumat (18/9/2020) juga membeberkan data kerusakan lahan jagung di Kabupaten Sikka musim tanam 2019/2020 akibat serangan hama ulat grayak dan kekeringan.

Ia menjelaskan bahwa dari luas lahan 14.790 hektare (Ha), yang mengalami puso atau gagal panen sebanyak 3.231,5 Ha yang tersebar di 12 kecamatan. Sedangkan yang mengalami kerusakan ringan sejumlah 1.028 Ha dan tersebar di 21 kecamatan.

Dari 21 kecamatan, yang mengalami dampak paling besar adalah Kecamatan Kangae dengan luas gagal panen sebanyak 1.64,5 Ha. Dan yang paling sedikit adalah keacamatan Nele sebanyak 7 Ha. Sementara kecamatan Magepanda dari luas tanam jagung 740 Ha, yang mengalami rusak ringan 47 Ha, gagal panen 41 Ha dan yang tidak berdampak 652 Ha,” katanya.

Dari data ini, lanjut Win, kalau dianalisis secara makro maka kecamatan Magepanda praktis tidak mengalami rawan pangan.

“Namun kalau melakukan kajian dan analisa rumah tangga petani, maka kita akan mendapatkan kondisi rill yang terjadi yakni kekurangan dan kehabisan bahan pangan. Harus diingat bahwa setiap rumah tangga memiliki ketahanan pangan yang berbeda. Kondisi gagal panen akibat kekeringan dan serangan hama penyakit tanaman dan serangan babi hutan yang melanda masyarakat petani lahan kering, ditambah serangan penyakit pada babi akibat virus Afrika dan kematian ayam akibat serangan penyakit tetelo, diperparah dengan pandemi corona yang terjadi, itu memperburuk kemampuan masyarakat tani lahan kering untuk mencukupi kebutuhan pangan,” katanya.

Fakta Lapangan

Win dalam rilis resminya juga menegaskan bahwa data yang dibeberkan lembaga yang dipimpinnya yang menyebutkan bahwa ada 27 kepala keluarga (KK) di Desa Done, Kecamatan Magepanda yang mengonsumsi ubi hutan atau ondo dalam bahasa setempat merupakan fakta lapangan dan bukannya dipelintir atau direkayasa.

Baca juga: Anomali Iklim, 27 KK di Magepanda Mengonsumsi Ubi Hutan

“Perlu kami sampaikan bahwa kasus 27 KK masyarakat Desa Done yang makan ubi hutan itu adalah fakta lapangan yang tidak bisa ditipu, dipelintir atau dimanipulasi,” demikian Win dalam rilis resmi yang disampaikan kepada awak media di Sikka dan yang diterima Matanews.net, Jumat (18/9/2020).

Win mengakui bahwa pemahaman umum masyarakat Kabupaten Sikka apabila berbicara tentang Kecamatan Magepanda, maka semua orang akan mengatakan bahwa Kecamatan Magepanda adalah lumbung berasnya Kabupaten Sikka.

“Lalu mengapa sampai masyarakat dari Kecamatan Magepanda khususnya Desa Done mengalami kekurangan/kehabisan stok pangannya. Bahwa petani di RT 9 dan RT 10 yang paling banyak mengalami rawan pangan/ketidaktahanan pangan adalah petani lahan kering yang mengalami gagal panen yang diakibatkan kekeringan dan serangan hama babi hutan. Khusus untuk wilayah Done, kebanyakan areal usahanya adalah daerah perbukitan yang sering juga diserang hama babi hutan,” kata Win.

Kalau ditelusuri, lanjut Win, tidak semua petani Desa Done berusaha di lahan sawah. Khusus untuk RT 9 dan RT 10 Desa Done, peta pengelolaan usaha taninya sebagai berikut: di RT 9, petani yang menggantungkan hidupnya di lahan basah berjumlah 16 KK dan petani yang menggantungkan hidupnya di lahan kering berjumlah 9 KK; dan di RT 10, petani yang menggantungkan hidupnya di lahan basah berjumlah 8 KK dan petani yang menggantungkan hidupnya di lahan kering berjumlah 44 KK.

“Jadi untuk petani yang lahan basah, saat ini masih terlihat aman walaupun sebenarnya kondisi pengairan tidak mendukung untuk usaha persawahan,” katanya.