Home Bentara Momok Tambang Wae Sano

Momok Tambang Wae Sano

113
0
SHARE
Momok Tambang Wae Sano

Keterangan Gambar : Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. Sumber gambar:

https://zmpulungan.files.wordpress.com/2013/10/tenaga-panas-bumi.jpg

Warga Desa Wae Sano di Manggarai Barat dihantui ketakutan akan dampak drastis dan tragis usaha pertambangan panas bumi di seputaran Danau Sano Nggoang. Selain ketakutan, aneka hal yang menjadi hak keadilan mereka dalam proses adanya usaha pertambangan tersebut belum mereka peroleh.

Atas dasar ketakutan dan hak yang terabaikan, bersama Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Provinsi SVD Ruteng, masyarakat terus berjuang agar usaha pertambangan yang kini memasuki tahap eksplorasi dihentikan.

Pertambangan Wae Sano menguras lahan warga 142.502 meter persegi. Total keluasan seperti itu terhitung sangat besar untuk ukuran wilayah Wae Sano dan sekitarnya.

Karena itu, sebagaimana dampak pertambangan panas bumi pada umumnya, bukan hanya bakal direlokasi dan dengan demikian mereka bakal tercabut dari akar kulturalnya, melainkan juga masyarakat Wae Dano dan sekitarnya akan merasakan turun drastisnya produktivitas pertanian, bahkan bakal kehilangan lahan pertanian.

Selain itu, debit air bukan hanya bakal menurun drastis, melainkan juga berpotensi mengandung racun karena limbah hydrotermal yang bersumber dari pertambangan mengandung kontaminan arsenik, antimon, dan boron.

Demikian juga objek pariwisata danau raksasa Sano Nggoang bakal tercemar dan tidak menarik lagi bagi para wisatawan, sekalipun sekarang memang objek wisata tersebut tampak telantar, tidak dikelola maksimal.

Apalagi jalan menuju objek wisata tersebut masih sebatas telford yang kini sudah mulai termakan usia. Karena itu, adalah sungguh menyakinkan dan bijak jika usaha pertambangan panas bumi di Wae Sano itu segera dihentikan.

Memang tampak mengherankan ketika sudah pada tahap eksplorasi, masyarakat baru menyatakan penolakan. Sebenarnya, ada apa yang terjadi di balik semuanya itu?

Baca juga: Warga Wae Sano di Manggarai Barat Tolak Eksplorasi Panas Bumi

Dikabarkan bahwa Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sudah mengeluarkan izin usaha pertambangan panas bumi Wae Sano. Terkait aspek sosial, izin itu dikeluarkan mengingat masyarakat setempat menyetujui pertambangan tersebut.

Nah apakah yang menyatakan persetujuan tersebut sudah cukup mewakili semua warga Wae Sano dan sekitarnya? Bagaimana proses dan apa saja substansi sosialisasi yang pernah dilakukan pemerintah dan investor buat warga?

Toh warga yang menyatakan penolakan kini bukanlah warga biasa yang aspirasinya tidak patut diperhitungkan. Adanya suara penolakan kini setidaknya menjadi tanda nyata bahwa pada waktu mendatang bakal terjadi ledakan konflik horisontal di antara warga. Apa jadinya usaha pertambangan ini jika masyarakat justru memetik konflik?

Kepada warga, pemerintah pernah menyatakan janji bahwa akan ada sosialisasi ulang, tetapi hingga kini janji tersebut tak kunjung dilakukan, sementara eksplorasi terus dilakukan hingga kini pula.

Sementara itu, kepada pemerintah, warga telah melayangkan surat tertulis agar segera ditanggapi, tetapi hingga kini sekali-kali tanggapan itu belum warga dapatkan. Maka pantaslah warga dan para aktivitas lingkungan hidup menilai bahwa pemerintah telah melakukan kesewenang-wenangan atas rakyatnya sendiri dan memuluskan langkah investor untuk mengonsumsi kandungan lezat bumi Wae Sano.

Sambil menunggu sosialisasi dan tanggapan atas surat tersebut, sekali lagi warga menyatakan komitmen penolakan sekaligus mengutarakan beberapa butir anjuran.

Pertama, kendati eksplorasi panas bumi sebagai energi terbarukan memberikan manfaat kepada masyarakat, namun tidak akan efektif dan efisien bila eksplorasi dan eksploitasi dilakukan di tengah pemukiman warga.

Kedua, pemerintah segera berkonsultasi dengan Kementerian SDM dan PT SMI untuk menghentikan semua prosedur administratif dan aktivitas lapangan. Ketiga, berdasarkan analisis daya dukung dan daya tampung Desa Wae Sano, hadirnya investasi geothermal akan membawa malapetaka pada warga.

Keempat, pemerintah utamakan peningkatan sektor pertanian dan pariwisata. Diharapkan, momok eksploitasi Wae Sano lekas berakhir.

Oleh Avent Saur