Home Feature Nama Itu Abadi (Mengenang Pater Gabriel Goran) - Part 1

Nama Itu Abadi (Mengenang Pater Gabriel Goran) - Part 1

259
0
SHARE
Nama Itu Abadi (Mengenang Pater Gabriel Goran) - Part 1

Keterangan Gambar : Pater Gabriel Goran, SVD

Dalam usia tua dan tenaga yang tersisa, di tengah deraan penyakit yang seolah terus menguliti tubuhnya, pikiran masih segar dengan untaian kata yang dirangkai menjadi kalimat puisi berenergi dahsyat.

Pada pertengahan Juli 2019, saya mampir di Biara Simeon Seminari Tinggi Ledalero, dalam perjalanan ke Waikomo, Kabupaten Lembata, untuk memulai ziarah Oring Literasi Soverdi Bukit Waikomo. Saya bertemu dengan Pater Alex Beding SVD, Imam sulung asal Pulau Lembata yang saat ini berusia 96 tahun. Pendiri SKM Dian dan Kunang-Kunang ini masih tampak segar, bisa berjalan sendirian disanggah tongkat, masih membaca, menulis, dan menerjemahkan dokumen-dokumen sejarah Gereja dan tarekat.

Saya melangkah memasuki kamar Pater Gabriel Goran SVD. Badannya ringkih. Terduduk lemah di atas kursi roda.

Saat melihat saya, ia tersenyum sumringah meski dengan bibir yang miring karena strok. Wajah itu tampak mengalirkan energi yang menggelora. Ia menjabat tangan saya dengan erat. Tangan ini telah mengalirkan rahmat dalam kerja nyata menghijaukan tanah kering kerontang di wilayah Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Kemudian ia menuntun saya di atas kursi roda menuju meja kerja yang berserakan kertas-kertas terlepas. Kertas-kertas berserakan itu penuh dengan tulisan puisi-puisi. Saya tertegun. Kagum. Dalam usia tua dan tenaga yang tersisa, di tengah deraan penyakit yang seolah terus menguliti tubuhnya, pikiran masih segar dengan untaian kata yang dirangkai menjadi kalimat puisi berenergi dahsyat.

Orang-orang ini tetap berkarya sampai akhir. Saat pamit, ia sempat berpesan agar saya mengunjungi rumahnya di Tagawiti, Tanjung, Kecamatan Ile Ape. “Rumah saya sederhana saja. Ada saudari yang tinggal di sana.”

Sosok Sederhana dan Pekerja Keras

Berita kematiannya pada Senin, 27 Januari 2020 dalam usia 78 tahun menghidupkan memori tentang sosok sederhana tetapi pekerja keras ini.

Ketika saya bersama Paul Lamaduli, aktivis LSM Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) mengunjungi kelompok dampingan perempuan migran di Tanjung, saya akhirnya mengujungi rumah kediaman Pater Gabriel Goran SVD. Rumah yang sangat sederhana. Tetapi nama Pater Gabriel Goran SVD begitu harum dan indah dalam tuturan sederhana nan tulus dari orang-orang kampung di wilayah Tanjung khususnya dan Ile Ape umumnya.

Wilayah Ile Ape khususnya Tanjung yang gersang, kering, kini jadi hijau dengan pohon Nimba yang menyeraki lekak lekuk tanah. Pohon ini memenuhi ruas-ruas tanah di wilayah Ile Ape yang menghadirkan kesejukan karena tegar melawan kekeringan, kegersangan, dan kekikiran alam Lembata.

Nimba telah berhasil menaklukkan kegarangan berkas-berkas sinar matahari yang sekian abad telah menempatkan wilayah Ile Ape menjadi apa yang dalam ilmu sosial disebut stereotip, gambaran umum bahwa Ile Ape itu kering, gersang, hanya ditumbuhi rumput-rumput yang terbakar saat musim kemarau ketika bumi disengat terik matahari tanpa ampun.

Tangan Pater Gabriel Goran SVD bersama Pater Vande Raring SVD dan sangat banyak aktivis lingkungan hidup, aparat pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten serta aktivis penanggulangan risiko bencana (PRB) dalam jejaring sinergi dengan warga dan jejaring lain telah berdaya mengubah wajah Ile Ape saat ini menjadi lebih teduh, hijau penuh tanaman yang mengalirkan harapan hidup lebih baik lagi.

Tangan Pater Gabriel Goran SVD terlukis indah di hati nurani orang-orang sederhana seluruh Ile Ape khusus wilayah Tanjung. Seorang imam yang membakar diri: komitmen, gagasan, dan kerja nyata di tengah rakyat sebagai altar Kristus yang konkret dan sesungguhnya.

Relasi pribadi dengan Tuhan melalui doa dan ekaristi telah menggerakkan dia untuk tidak hanya berhenti pada ziarah kekudusan pribadi semata tetapi melahirkan kesalehan sosial melalui tindakan dan keterlibatan yang konkret di ruang altar hidup sosial. [Bersambung ke Nama Itu Abadi (Part 2)]

Oleh Steph Tupeng WitinPerintis Oring Literasi Soverdi Bukit Waikomo, Lembata.