Home Opini New Normal Life

New Normal Life

Oleh Juan de Dios / Peminat Masyalah Sosial, Tinggal di Mangulewa, Kabupaten Ngada

1,063
0
SHARE
New Normal Life

Keterangan Gambar : Juan de Dios

New normal life merupakan kesempatan untuk memberi bukti historis bahwa manusia adalah makhluk berakal budi dan berkehendak, makhluk yang cerdas dan bijaksana, homo sapiens.


SELAMA KURANG lebih tiga bulan, bangsa Indonesia mengalami masa karantina (stay at home) sebagai solusi massal memutuskan mata rantai penyebaran covid-19. Saat-saat “mengurung diri” itu dirasakan dan dinilai menjenuhkan dan merugikan.

Betapa tidak, karena yang terjadi adalah interaksi personal dengan sesama dan alam terbatas, orang kehilangan pekerjaan dan pendapatan ekonomis, juga pelayanan umum ditutup.

Proses belajar-mengajar langsung atau tatap muka di semua lembaga pendidikan terputus, diganti dengan satu metode alternatif yang tidak mudah diterapkan untuk semua peserta didik ataupun para pendidik sendiri.

Tidak ketinggalan lembaga keagamaan sangat ditantang mengikuti dan mewujudkan aturan protokol baik dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) maupun dari pemerintah.

Baca juga: Noda Merah di Zona Hijau (Kekerasan Pol PP terhadap Pedagang Lembata)

Setelah rentang waktu berjuang melawan pandemi covid-19 itu, pemerintah Indonesia sampai pada keyakinan dan keputusan memulai kembali hidup normal. Cukup banyak daerah diizinkan membuka gerbang karantina supaya masyarakatnya bisa melaksanakan aktivitas seperti biasa. Masyarakat tentu sangat gembira mendengar berita tersebut karena dengannya kondisi problematis itu akan segera berakhir.

Namun masyarakat Indonesia perlu memahami bahwa baik langkah-langkah awal memasuki hidup normal maupun langkah-langkah selanjutnya tidak ringan. Hal ini bisa terbaca dari penggunaan istilah resmi dari Pemerintah Indonesia tentang keadaan dan situasi pascacovid-19, yaitu new normal.

New Normal

Kata normal sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan bahwa pandemi sudah mulai  teratasi dan masyarakat bisa kembali menjalani hidup seperti sediakala. Namun, kata new perlu mendapat perhatian khusus. New yang diterjemahkan dengan baru dalam bahasa Indonesia, sebagai adjectiva waktu, memaknai sesuatu yang amat penting.

Pemerintah menghendaki supaya masyarakat memahami bahwa kenormalan post pandemi tidak sama dengan kenormalan ante pandemi covid-19.

Baca juga: Rumah: Zona Nyaman Pendidikan

Pertanyaannya, mengapa berbeda? Berbeda karena yang satu lama dan yang lain baru. Selain itu, perbedaan yang lebih serius terlihat pada kondisi riil seluruh muatan fenomenanya. Pada saat itu bisa jadi kegiatan-kegiatan rutin akan sama tetapi warna, ritme, intensitasnya, permasalahannya, pencapaiannya dan lain-lain belum tentu sama.

Pada pihak manusia, sebagai individu, orang bisa kembali mengekspresikan diri dengan bebas sesuai kehendak pribadinya tetapi mesti disesuaikan dengan satu standar atau model tertentu yang harus ditaati bersama.

Selain kembali digerakkan oleh rutinitas umum, kenormalan pascacovid-19 ditandai dengan dinamika yang sangat khas. Awal Maret 2020, pemerintah “memaksa” masyarakat stay at home untuk menghindari covid-19. Tiga bulan kemudian Presiden Jokowi mengajak masyarakat  Indonesia supaya “berdamai” dengan virus itu. Artinya  covid-19 tidak bisa dimusnahkan seratus persen dari bumi Nusantara dalam rentang waktu tiga bulan. Virus itu masih berkembang di sekitar manusia.

Konsekuensinya, dalam masa new normal, masyarakat bukan hanya bisa beraktivitas di luar rumah seperti biasa, tetapi juga menjaga diri supaya tidak menjadi korban virus dan sedapat mungkin menjadi subjek utama yang proaktif memutuskan rantai penyebarannya.

Baca juga: Roh Kebangsaan dan Pandemi Covid-19

Pada masa karantina massal (stay at home), manusia menjauh dari virus, sedangkan pada masa new normal, manusia sebaiknya seolah-olah hidup berdampingan dengan virus (Prof. Amin Soebandrio).

Sebagai Organisme

Dalam masa new normal ini, manusia mau tidak mau harus menempatkan diri sebagai bagian dari kosmos, bagian dari makhluk hidup-satu organisme yang berkembang biak di planet bumi ini.

Di samping manusia terdapat banyak organisme lain. Salah satunya adalah covid-19, makhluk renik yang sangat menyita perhatian manusia saat ini. “Kebetulan” dua organisme ini “bersentuhan” satu sama lain. Dalam kenyataan, bila berhadapan dengan organisme lain dan lingkungan yang mengitarinya, suatu organisme berusaha menyesuaikan diri dan sedapat mungkin mengatasi segala rintangan untuk mempertahankan eksistensinya (survival).

Kontak yang terjadi antara manusia dan covid-19 itu sebenarnya merupakan dinamika biasa sebagai organisme dalam satu lingkungan atau habitat. Namun ternyata covid-19 hanya bisa hidup dan berkembang dalam tubuh manusia. Akibatnya, manusia mengalami ketidakseimbangan dalam dirinya (sakit). Manusia merasa eksistensinya terganggu dan terancam. Maka terjadilah perlawanan dua organisme itu untuk bisa mempertahankan eksistensinya masing-masing.

Manusia berbeda dengan covid-19 walaupun sebagai organisme keduanya sama, manusia memiliki akal budi dan kehendak. Manusia adalah makhluk yang bisa merasakan, menyadari, dan mengerti. Covid-19 tidak punya kemampuan seperti manusia.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Menstruasi, dan Kalender Haid

Saat ini manusia sadar bahwa covid-19 itu sangat berbahaya. Sebaliknya covid-19 tidak sadar bahwa dirinya dicurigai dan dianggap berbahaya oleh manusia bahkan sedang berusaha untuk memusnahkannya.

Sepintas terlihat manusia dalam hal ini adalah pihak yang sangat beruntung dan berpotensi untuk “mengalahkan” virus karena memiliki “senjata” istimewa untuk mempertahankan diri.

Adaptasi, Sikap, Perilaku, dan Gaya Hidup

Selama tiga bulan, masyarakat Indonesia tidak mampu mengalahkan virus. Menanggapi keadaan tersebut, kepada seluruh rakyat Indonesia, Presiden menyerukan sekaligus menegaskan agar masing-masing pribadi atau individu harus mampu menyesuaikan diri dengan virus supaya damai.

Menyesuaikan diri bukan berarti seperti mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan menunggu sambil berharap datangnya mukjizat pembebasan. Damai bukan berarti diam dan terpaksa menjadikan diri  habitat empuk bagi virus. Yang terjadi adalah “gencatan senjata” dan perlahan-lahan mengakhiri situasi peperangan diganti dengan suasana tenang. Suasana yang tenang memungkinkan manusia bisa melaksanakan rutinitasnya. Perjuangan belum selesai karena musuh masih mendiami dan berkembang biak di wilayah (tubuh) manusia dan mengancam dirinya.

Di sini masyarakat diharapkan memahami dengan baik dan benar bahwa kenormalan yang akan datang itu tetap diwarnai oleh situasi dan sikap  “waspada-berjaga-jaga” terhadap covid-19.

Umumnya manusia menggambarkan dan menunjukkan eksistensinya lewat sikap, perilaku, dan gaya hidup. Adaptasi berawal dari dalam diri, menyentuh sekurang-kurangnya tiga hal tersebut. Definisi sikap beragam, tetapi intinya adalah ekspresi diri sebagai tanggapan atas sesuatu yang berasal dari luar diri lewat satu tindakan atau perbuatan tertentu setelah berasosiasi dengan norma-norma yang berlaku.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa perilaku adalah semua hal yang dilakukan oleh seseorang sebagai reaksi atas dinamika fenomena di luar dirinya (stimulus). Perilaku adalah tindakan nyata.

Gaya hidup adalah pola hidup atau cara orang bertindak atau melakukan sesuatu dalam hidupnya. Semua aktivitas baik terlihat maupun tidak kelihatan di-ciri-kan sesuai pandangan atau kehendak pribadi sehingga berbeda dengan apa yang dilakukan atau dimiliki oleh orang lain.

Tiga hal ini adalah aspek-aspek penting dan utama dari kepribadian manusia yang diibaratkan dengan mesin-mesin penggerak interior untuk melawan virus.

Dalam kenyataan, sering kali tiga aspek kejiwaan manusia tersebut bisa melemahkan bahkan menghilangkan kemampuannya untuk beradaptasi dan hidup berdampingan dengan damai bersama dengan yang lain.

Berhadapan dengan covid-19, peranan tiga aspek ini mutlak diperlukan karena menentukan keberhasilan dari proses adaptasi untuk mencapai tujuan bersama yaitu bebas dari ancaman dan bahaya yang disebabkan oleh virus itu.

Karena itu dalam kondisi hidup yang tidak biasa bahkan terancam seperti saat ini, masing-masing orang diharapkan membuka diri dan perlahan-lahan menumbuhkan semangat baru, kehendak baik, dan tekad yang kuat untuk membentuk sikap, perilaku, dan gaya hidup yang berdaya guna.

Pengalaman “tidak bebas” selama masa karantina di rumah atau di sentrum-sentrum tertentu diharapkan bisa diterima dan dijadikan sebagai bagian dari hidup, sebaliknya sikap melawan dan tindakan memberontak apalagi sikap acuh tak acuh tidak bisa ditoleransi.

Sebagai organisme yang berakal budi dan berkehendak serta yang sedang terancam eksistensinya, manusia diharapkan bahkan dituntut bersikap positif. Manusia tidak punya pilihan lain selain menerima adanya organisme lain yang sangat membahayakan dirinya. Sebaliknya tidak bermartabat kalau bersikap masa bodoh dan menyangkal kebenarannya.

Dalam situasi problematis sosial seperti sekarang ini dan mungkin seterusnya untuk waktu yang tak tentu, setiap orang harus proaktif. Semua harus rela untuk diatur dan diarahkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan yang sangat pribadi atau yang sangat khas pun sebaiknya dipertimbangkan matang-matang sebelum direalisasikan atau diekspresikan supaya tidak berlawanan dengan prinsip bonum commune.

New Normal Life

Pada masa new normal manusia hidup berdampingan dengan covid-19. Di dalamnya, dinamika hidup diciptakan secara khusus untuk mempertahankan eksistensinya. Kesuksesannya sangat bergantung pada kepiawaian manusia melewati proses adaptasi. Adaptasi yang baik dan benar ditunjang oleh sikap, perilaku, dan gaya hidup yang sesuai dengan tuntutan dan aturan yang mengikat.

Penyesuaian itu mencapai titik kesempurnaan bila manusia berada dalam keadaan aman, bebas, dan yang terpenting tidak terancam serta berhasil memutuskan mata rantai perkembangan virus itu.

Menarik bahwa ketika hidup manusia sudah mulai menapaki zaman kemajuan yang disebut dengan milenial, new normal life sepertinya mengingatkan manusia bahwa dirinya adalah bagian dari makhluk ciptaan, sebagai satu organisme seperti organisme lainnya. Manusia rupanya diberikan pelajaran berharga untuk tidak mengabaikan hukum alam, memperhatikan, dan menjaga keseimbangan universal supaya tidak terjadi bencana atau bahaya.  Manusia diberi peringatan agar tidak menganggap remeh kebersamaan dengan makhluk lainnya.

Manusia terbuka kesadarannya bahwa dirinya bisa berubah menjadi habitat bagi organisme lainnya kalau sengaja merusak habitat mereka. Manusia terbuka matanya untuk menemukan dirinya terpaksa bersanding dengan makhluk renik penyebab bahaya karena tak berdaya mengatasinya. Menara milenialisme terancam runtuh.

New normal life merupakan kesempatan untuk memberi bukti historis bahwa manusia adalah makhluk berakal budi dan berkehendak, makhluk yang cerdas dan bijaksana, homo sapiens.

Presiden Jokowi tidak salah menggunakan kata  “berdamai” (berdamai dengan covid-19). Dalam situasi apa pun, apalagi seperti saat ini, manusia membutuhkan kedamaian, ketenangan, dan kebijaksanaan supaya tetap dan bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

Gelombang lautan yang berbuih dan keras menghasilkan ombak yang ganas dan menakutkan. Ketenangan dalam kegaduhan dan pergulatan akan melahirkan kekuatan super, ide-ide inspiratif dan, wahyu immanen untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup di tengah dunia.

New normal life bagi manusia adalah proses pembentukan diri sebagai homo sapiens contra homo homini lupus.*