Home Opini Orang-orang Kampung di Antara Pertarungan Kelompok Pro vs Kontra Tambang

Orang-orang Kampung di Antara Pertarungan Kelompok Pro vs Kontra Tambang

Oleh Carolina D. Djerabu / Warga Manggarai Barat

1,878
0
SHARE
Orang-orang Kampung di Antara Pertarungan Kelompok Pro vs Kontra Tambang

Keterangan Gambar : Carolina D. Djerabu

Jabatan dan kekuasaan sekilas terlihat begitu menarik, tetapi kadang-kadang hanya memberikan kepuasan yang bisa mengenyangkan satu hari, satu minggu, satu tahun atau satu periode.


MENARIK UNTUK melihat dan mengkaji pertarungan antara kelompok pro tambang dan pabrik semen (Pemerintah Daerah Manggarai Timur dan Perusahaan) versus kelompok kontra (kelompok penyeimbang) di tengah ketidakberdayaan masyarakat pemilik lahan tambang dan pabrik semen serta generasinya.

***

Ada beberapa poin analisis yang bagus untuk kita perhatikan. Yang pertama, di satu sisi, Pemda Matim menginginkan kemajuan cepat dan instan dengan menggunakan investasi eksternal atau kekuatan dari luar yang diimposisi di atas kehendak masyarakat pemilik lahan.

Menarik bahwa kekuatan besar ini “diwakili” Pemda Matim dan segala perangkat kaki tangannya, atas nama percepatan pembangunan, telah mengabaikan sebuah prinsip keseimbangan ekologis dan keberlanjutan ekosistem sosial budaya masyarakat setempat. Dan ini tentu saja menimbulkan resistensi dari beberapa kalangan.

Di lain sisi, kelompok kontra tambang atau penyeimbang berusaha untuk menekan Pemda Matim dari sisi transparansi dan pengembangan ekonomi berbasis kekuatan lokal (dari dalam).

Baca juga: Filosofi Negatif dan Kekuatan Kata

Kita tentu bisa mencium aneka kepentingan dalam kelompok penyeimbang ini (ibaratnya satu kereta dengan banyak gerbong muatan) yang tidak mudah dideteksi.

Misalnya, ada orang yang masuk ke gerbong ini mewakili orang terdidik dengan idealismenya sendiri, atau ada orang yang memanfaatkan kesempatan tolak tambang demi panggung politik. Atau juga ada orang yang mengedepankan sentimen primordial tertentu.

Tentu saja ada juga kelompok humanis ekologis yang menolak tambang karena melihat bahwa tambang bukanlah solusi untuk keluar dari ketertinggalan, selain bahwa tambang umumnya tidak sustainable dan ekologis.

Yang kedua, baik kelompok pro maupun kontra tambang berada dan menempatkan diri pada posisi superordinat dan menguasai pertarungan gagasan dan sentimen primordial melalui penggunaan media sosial. Sementara itu, masyarakat lokal yang menjadi pemilik utama kepentingan berada pada titik subordinat (titik bawah) masyarakat yang praktis voiceless, powerless, empoweredless (tanpa suara, tidak punya kekuatan, tidak diberdayakan).

***

Dua realitas ini melahirkan pertanyaan dan gugatan kritis tentang seberapa besar dialektika elitis-digital kita melahirkan keberpihakan empatik sekaligus pemberdayaan terhadap masyarakat yang berkepentingan.

Keresahan ini muncul dari fakta bahwa pertarungan ini ada pada level dunia digital yang sangat jauh dari jangkauan atau kemampuan masyarakat lokal pemilik lahan di mana tambang dan pabrik semen direncanakan akan beroperasi.

Baca juga: Politik Musiman dan Tragedi Olokan

Ini akan menimbulkan persoalan besar ke depan. Sebab hal ini berpotensi mengobjektifikasi (menjadikan objek) masyarakat lokal pemilik lahan sebagai objek perbincangan semata, tanpa memberdayakan mereka untuk dan atas dirinya sendiri.

Sebetulnya, kepentingan siapa pun baik Pemda Matim maupun kelompok penyeimbang, harus mengarah kepada bagaimana caranya agar masyarakat lokal menjadi subjek, tuan atas dirinya dan benar-benar independen. Dan sejauh mana baik jangka pendek maupun jangka panjang PT swasta tersebut berkontribusi kepada masyarakat lokal dan Pemda Matim?

***

Mari kita berkaca pada masyarakat Papua dengan tambang raksasa Freeport atau belajar dari sejarah tambang lainnya, bagaimana dia bermula dan kemudian berakhir.

Papua yang kaya tambang atas kesalahan sejarah oleh para pendahulu telah menelan begitu banyak korban pada masyarakat lokal Papua dalam banyak aspek, tidak hanya nyawa tetapi juga lebih dalam daripada itu meninggalkan perpecahan dan konflik kemanusiaan baik horizontal maupun vertikal berkepanjangan bagi generasi berikutnya.

Apa pun yang diputuskan dan dilakukan pada saat ini terkait tambang dan pabrik semen di Manggarai Timur (Lengko Lolok dan sekitarnya) oleh Pemda Matim, jangan sampai akan diadili oleh generasi berikutnya dan menjadi beban sejarah yang teramat panjang.

Baca juga: Mengendus Bau Korupsi (1)

Jabatan dan kekuasaan sekilas terlihat begitu menarik, tetapi kadang-kadang hanya memberikan kepuasan yang bisa mengenyangkan satu hari, satu minggu, satu tahun atau satu periode. Tetapi ada catatan teramat penting di balik itu. Catatan jejak selalu berbicara tanpa kata-kata.

Apa yang kita tinggalkan pada hari ini akan menjadi catatan sejarah yang panjang pada masa yang akan datang. Apa yang baik yang telah dilakukan para pendahulu pada masa lampau telah membantu kita menjadi orang-orang merdeka.*