Home Opini Orangtua Mendidik Karakter Anak

Orangtua Mendidik Karakter Anak

Oleh Elias Bengaman Making / Guru Kepse SMPN 1 Ile Ape Timur, Lembata

329
1
SHARE
Orangtua Mendidik Karakter Anak

Keterangan Gambar : Elias Bengaman Making

Hadir bersama anak akan menerbitkan energi mental yang lebih segar sehingga kondisi kejiwaan anak tetap terjaga dengan baik. Hadir bersama anak harus menjadi momen untuk menumbuhkan kesadaran belajar dalam diri anak.


SELAMA RENTANG masa gelap pandemi covid-19, ranah pendidikan mendapat tantangan yang mahadahsyat. Aktivitas pendidikan yang berlangsung secara virtual melalui medium internet menempatkan anak pada posisi yang rentan dalam pendidikan karakter.

Dunia pendidikan anak dalam lingkungan sekolah yang ditandai aktivitas belajar bersama teman dan guru, ruang bermain bersama teman-teman sebagai sarana mengenal watak dan karakter yang membangun nilai solidaritas, simpati, empati, kasih sayang, dan sebagainya, selama masa pandemi covid-19 membeku dalam sebuah ruang sempit bernama komputer dan laptop atau gawai.

Tantangan berbahaya lain dari pada penggunaan internet adalah berbagai konten yang jika tidak diawasi oleh orangtua dan guru akan mengantar anak memasuki sebuah dunia “baru” yang menyodorkan mental instan.

Baca juga: Kasus Dana Kompensasi Lahan SMAN 2 Boawae Butuhkan Penyidik? (1)

Kreativitas dan inovasi anak yang direpresentasi melalui kemampuan berpikir, bertanya, berdiskusi, dan berbagi pendapat jadi terhenti. Kita membayangkan sebuah generasi masa depan daerah dan bangsa yang kehilangan horizon pergaulan yang luas. Solidaritas dalam ruang sosial terkunci egoisme. Setiap anak menjadi individualis dan kehilangan jejaring solidaritas dengan orang lain.

Segenap komponen pendidikan khususnya orangtua, guru, dan publik luas mesti bersinergi dalam gagasan besar pendidikan selama masa pandemi covid-19 ini. Memang konteks masa pandemi ini menuntut adaptasi dalam dunia pendidikan khususnya dan semua dimensi hidup umumnya. Anak-anak kita entah terlihat atau pun tidak memasuki sebuah fase masa pendidikan yang tidak normal. Proses pendidikan meniscayakan interaksi langsung antara guru dan peserta didik.

Apalagi bagi anak-anak, jalinan relasi emosional dengan guru menghadirkan nuansa tersendiri yang memungkinkan terbukanya gerbang pergaulan yang lebih luas.

Guru mengabdikan seluruh diri untuk masa depan anak didik. Guru memberi hati untuk memekarkan nurani anak didik. Ada sebuah proses perjumpaan batiniah yang sesungguhnya tidak akan pernah tergantikan oleh medium semodern dan secanggih apa pun.

Selama masa pandemi covid-19, jejaring relasi solidaritas kemanusiaan antara guru dan murid diputuskan secara tragis oleh sebuah virus mungil yang tidak tampak oleh mata manusiawi kita. Euforia dan gelombang ketakutan akan kematian merepresi kesadaran personal dan ruang-ruang sosial kita yang pada gilirannya memaksa segenap elemen di seluruh dunia menempuh kenormalan baru (new normal) yang sesungguhnya sangat tidak normal.

Fokus Karakter

Rentang masa pandemi covid-19 memutuskan jejaring ruang sosial anak yang sebenarnya sangat krusial dalam fase perkembangan psikologisnya. Anak-anak kehilangan ruang sosial untuk berinteraksi, bersosialisasi, bercengkerama dengan orang lain, dan melatih kepekaan sosial.

Baca juga: Keluarga, Pemain Utama Pendidikan Anak

Hasil jajak pendapat Kompas menegaskan bahwa ada risiko sangat besar bagi mental anak-anak yang telah kehilangan ruang sosial untuk berinteraksi. Maka anak akan dihantui rasa bosan, minat belajar menurun karena kehilangan pelecut persaingan. Anak juga bisa menurun kesehatannya karena kurangnya aktivitas fisik dalam relasi dengan sesama teman.

Selain itu, tantangan terbesar adalah makin bertambahnya beban berat bagi mental anak dan hilangnya ruang pendidikan karakter bagi anak-anak karena pertemuan hanya berlangsung secara virtual (Kompas, 32/7/2020). Kondisi akan makin diperparah dengan konteks pendidikan yang berlangsung di daerah-daerah terisolasi dan terpencil yang tidak mendapatkan akses listrik dan jaringan internet yang memadai.

Situasi yang suram selama masa pandemi ini mesti menghadirkan energi baru dalam diri guru dan orangtua yang mendampingi anak-anak untuk memastikan bahwa mereka belajar dengan baik dan memahami kondisi yang sedang terjadi.

Proses pendampingan itu tidak sekadar memantau atau berdiskusi tetapi juga hadir bersama anak dalam keseluruhan proses belajar untuk memastikan bahwa anak mengikuti semuanya dengan baik.

Hadir bersama anak akan menerbitkan energi mental yang lebih segar sehingga kondisi kejiwaan anak tetap terjaga dengan baik. Hadir bersama anak harus menjadi momen untuk menumbuhkan kesadaran belajar dalam diri anak. Dalam dunia pendidikan yang normal, guru hadir bersama anak-anak selama masa pendidikan di sekolah.

Selama masa pandemi, peran untuk hadir bersama anak didik ini diambil oleh orangtua. Inilah momen emas di mana pendidikan pertama dan terutama yaitu di dalam keluarga mendapatkan ruang pemurniannya. Rumah dan keluarga adalah ruang pendidikan yang paling utama. Keluarga disebut seminari dasar. Artinya tempat persemaian nilai-nilai kemanusiaan yang kelak akan menjadi basis dalam pendidikan karakter.

Baca juga: New Normal Life

Guru di sekolah melanjutkan pendidikan karakter yang dibangun di dalam keluarga. Tanggung jawab ini sangat mulia. Apalagi pendidik di bangku sekolah juga adalah ayah dan ibu bagi anak-anak. Proses pendidikan karakter ini berlangsung secara estafet dan tetap berorientasi sama yaitu terbentuknya karakter anak sebagai bekal memasuki ruang pergulatan sosial yang lebih luas dan dahsyat.

Hasil penelitian membuktikan bahwa prestasi dan kesuksesan anak sangat ditentukan oleh peran kehadiran orangtua dan guru yang intens dan terus-menerus tanpa tepian. Proses hadir bersama seperti ini akan membuat anak merasa dipahami, dimengerti, dan disayangi.

Hanya dengan jalan ini, kita semua menjadi “guru” terbaik bagi anak-anak kita yang lahir dari rahim keluarga-keluarga kita. Masa pandemi covid-19 yang membuka gerbang hidup baru bagi seluruh dunia ini mesti makin menginsafkan segenap ekosistem pendidikan di negeri ini agar tidak lengah dalam mendidik anak-anak kita. Peran strategis orangtua dan guru tidak akan pernah tergantikan dengan teknologi secanggih apa pun.

Anak membutuhkan sentuhan kasih sayang dari kita semua. Pendidikan tidak sebatas ranah intelektual tetapi juga hal yang lebih utama adalah ranah karakter. Kita semua harus setia hadir dalam kehidupan anak-anak dengan cinta yang tulus.*