Home Opini Pabrik Semen dan Risiko Ekologis Jangka Panjang

Pabrik Semen dan Risiko Ekologis Jangka Panjang

Oleh Bernadinus Steni / Warga Manggarai Timur, Pegiat Standar Keberlanjutan Tinggal di Jakarta

809
0
SHARE
Pabrik Semen dan Risiko Ekologis Jangka Panjang

Keterangan Gambar : Bernadinus Steni

Ekonomi tambang saat ini tidak hanya di Manggarai Timur. Nampaknya dilakukan sporadis mengikuti investor yang berminat. Pilihan itu dibuat tanpa persiapan dan perhitungan implikasi yang matang.


DAMPAK LINGKUNGAN dari operasi pabrik semen sudah pasti ada. Namun skala kerusakan secara detail tergantung kapasitas ekosistem mikro yang memperhitungkan tingkat goncangan dan adaptasi terhadap perubahan.

Untuk mengantisipasi masalah ini, perusahaan bisa saja menggembar-gemborkan sedemikian rupa intervensi teknologi dengan perhitungan canggih. Tetapi pengalaman empirik pabrik semen sudah bisa memberikan indikasi kecenderungan umum yang terbaca secara cepat di sejumlah tempat.

Fakta Studi Ilmiah

Studi di sejumlah pabrik semen di wilayah Ariyalur, India (Rames et al., 2014) menemukan rusaknya kualitas komposisi tanah, air, dan tanaman yang berada di wilayah tersebut. Keberadaan pabrik semen mengakibatkan adanya kandungan bahan limbah di tanah, air, dan bahkan pada tanaman di sekitar lokasi pabrik semen.

Limbah menyebabkan proses biomagnifikasi yaitu proses perpindahan polutan yang mengikuti arah dari rantai makanan yang akhirnya akan terakumulasi pada rantai makanan paling atas yaitu manusia.

Baca juga: Pabrik Semen, Janji Manis, dan Ironi Pembangunan

Buangan pabrik yang mengalir ke sungai dan laut memengaruhi rantai makanan di wilayah tersebut. Dampaknya pun tidak hanya terurai secara lokal, tetapi juga lintas teritorial, mengikuti perpindahan rantai makanan.

Di subsahara Afrika, penelitian lain (Adeyanju dan Okeke, 2019) mengindikasikan bahwa debu semen menyebabkan morbiditas pada manusia atau rentan terhadap penyakit, kerusakan kronis pada paru-paru, kelahiran prematur, psikastenia (gangguan jiwa), gangguan endokrin, dan infertilitas.

Tingkat keparahannya tergantung pada durasi paparan, konsentrasi dan unsur-unsur debu dan sensitivitas individu. Mereka yang terkena dampak utama adalah buruh kasar di pabrik.

Pada tumbuhan, dampak yang dapat diobservasi adalah pertumbuhan terhambat, daun yang kusut, klorosis (warna daun menguning atau pucat), dan akhirnya mati, yang akan mengurangi hasil produksi pertanian jangka panjang. Artinya, wilayah ini dan sekitarnya sulit dikembangkan untuk budidaya pertanian.

Selain itu, pertambangan di mana pun jarang memperhitungkan harga jasa lingkungan. Tidak usah rumit, air adalah contoh mudah yang merupakan kebutuhan semua makhluk hidup. Pabrik semen dan tambang batu gamping membutuhkan air rata-rata 300 liter per ton klinker untuk pabrik yang sangat efisien dan 500 liter per ton kliner untuk pabrik yang boros. Ambillah rata-rata 400 liter per ton kliner.

Baca juga: Orang-orang Kampung di Antara Pertarungan Kelompok Pro vs Kontra Tambang

Kebutuhan air per orang di pedesaan menurut studi WHO rata-rata 60 liter per hari. Sekitar 400 liter kebutuhan tambang semen merupakan jatah dari 6-7 orang per hari.

Jika suatu pabrik memproduksi 1 juta ton klinker saja, maka kebutuhan airnya 1 juta x 400 liter adalah 400.000.000 liter air. Jumlah tersebut, jika dibagi dengan jatah air per orang, maka dapat memenuhi kebutuhan 6,6 juta jiwa.

Kalau diperhitungkan dalam harga pasar, kalkulasi kasarnya dapat diperhitungkan berdasarkan harga air kemasan. Jika 1.5 liter air saat ini dihargai Rp5000, maka per orang membutuhkan 40 botol per hari. Jumlah itu, kalau dikonversi dalam kebutuhan harian, 40 x 5000 adalah Rp200.000 per hari.

Perhitungan yang sama, jika dikenakan untuk kebutuhan perusahaan, maka dapat dijabarkan sebagai berikut. Angka 400 juta liter, jika dikonversi ke botol kemasan 1.5 liter menjadi sebanyak 266.666.666,6 botol. Jumlah itu, jika dikalikan dengan harga Rp5000 per botol, nilainya mencapai Rp1.333.333.333.0000 (1.3 triliun).

Meski perhitungan seperti ini sudah cukup banyak, misalnya, pada kasus Kendeng, hampir tidak pernah ditemukan perusahaan tambang memasukkan biaya demikian ini dalam ongkos produksi mereka. Karena itu, soal air selalu jadi masalah, apalagi untuk kawasan karst di Manggarai Utara yang permukaan rupa buminya relatif kering.

Tawaran Teknologi

Teknologi sebetulnya sudah mengintervensi untuk mengurangi dampak buruk pencemaran. Dalam konteks investasi Manggarai Timur, Singa Merah memang menggaris-bawahi isu lingkungan sebagai salah satu prioritasnya. Tetapi sejauh yang bisa ditelusuri, hanya ada dua perusahaan semen asal Tiongkok yang terdaftar dalam inisiatif standar keberlanjutan global saat ini yakni CNBM dan West China Cement.

Keduanya mengikuti GCCA Sustainability Charter yang berkomitmen pada pengurangan emisi, polusi, efisiensi air, dan patuh pada prinsip-prinsip hak asasi manusia, dan seterusnya.

Dalam inisiatif yang lain, Sustainable Cement Initiative yang dicanangkan World Business Council of Sustainable Development (WBCSD), perusahaan-perusahaan raksasa semen China sama sekali tidak terlibat. Raksasa-raksasa semen Tiongkok yang menguasai pasar dunia seperti TOP 11-20, Anhui Conch, Jidong, China Resources, Sinoma, Tianrui, dan Shanshui berada di luar inisiatif ini.

Baca juga: Uskup Sipri Mesti Endus Neoliberalisme

Meski demikian, perusahaan-perusahaan ini, termasuk Singa Merah, kerap mengklaim mempunyai teknologi untuk mengurangi emisi. Sejarah perilaku mereka, sayangnya, tak semanis klaim itu. Banyak studi telah memublikasikan laporan bahwa kinerja lingkungan sebagian besar perusahaan tersebut tergolong berkualitas rendah, bahkan di negaranya sendiri (Shen et al 2017, Environmental Performance Index 2018, Huang and Chang 2019).

Akibat ulah mereka pula, Tiongkok menjadi salah satu dari 10 negara dengan pencemaran terburuk di dunia, bersaing di papan buncit dengan India, Bangladesh, dan Nepal (Chan 2006, Environmental Performance Index 2018).

Diduga kuat, ketatnya standar lingkungan dari pemerintah Tiongkok belakangan ini, mendorong perusahaan-perusahaan tersebut untuk berekspansi ke negara-negara yang sumber bahan bakunya masih kaya dan standar lingkungannya masih rendah (Shen et al 2017). Karena itu, teknologi Tiongkok, kalaupun telah berkembang saat ini, belumlah dikatakan mapan untuk bersaing head to head dengan teknologi-teknologi bersih yang ditawarkan pesaing mereka dari barat.

Dampak Lanjutan

Dampak buruk bagi kesehatan masyarakat setempat berimplikasi pada ekonomi biaya tinggi. Selain dari kemungkinan peningkatan kebutuhan fiskal daerah untuk sektor kesehatan, dampak buruk terhadap kesehatan juga memengaruhi jumlah waktu produktif masyarakat setempat karena banyak waktu yang hilang akibat sakit.

Potensi nilai ekonomi yang hilang ini seharusnya dapat diganti dengan nilai ekonomi yang diciptakan oleh aktivitas produksi pabrik semen.

Namun kondisi komposisi tenaga kerja profesional lokal yang terbatas, spillover positif dari aktivitas pabrik semen belum tentu dapat menutup biaya spillover negatif dari kegiatan pabrik semen tersebut.

Dampak positif ekonomi yang terjadi di Manggarai Timur kemungkinan besar hanya sebatas spillover positif temporer, tidak ada dampak ekonomi utamanya, seperti penciptaan lapangan pekerja dan/atau perubahan besar sirkulasi uang pada arus ekonomi lokal.

Lapangan kerja akan berdampak jangka panjang, jika Manggarai Timur menyiapkan sumber daya manusia yang terampil dan berpendidikan memadai untuk menduduki posisi-posisi strategis di perusahaan.

Lebih dari itu, Manggarai Timur harus memiliki deposit mineral dan batuan yang cukup untuk menampung tenaga kerja jangka panjang.

Namun, data pertambangan menunjukkan, sumber-sumber deposit mineral di wilayah ini, kalaupun ada, sebagian besar beririsan dengan hunian masyarakat, lahan pertanian aktif, dan wilayah sungai. Jika wilayah-wilayah ini dibuka, akan terjadi perpindahan masal sejumlah kampung dan pergantian secara sistematis ekonomi pertanian menuju tambang.

Baca juga: Bari Good & Rangko Bad

Jumlah deposit mineral pun tidak signifikan seperti yang ditunjukan di pulau-pulau besar. Karena itu, sulit bagi Manggarai Timur untuk menjustifikasi secara empirik dan perencanaan bahwa ekonomi kabupaten didorong berbasis tambang.

Hal ini belum memperhitungkan biaya air yang menurut profil bisnis yang beredar akan disedot dari Wae Pesi untuk memproduksi 8 juta ton klinker. Sungai ini adalah suplai utama bagi berbagai jenis pemanfaatan air di 3 kabupaten.

Karena itu, perhitungan jasa air harus dipertimbangkan untuk menggantikan hak dari setiap warga dan hak jurisdiksi tiga kabupaten yang layak mendapatkan air tersebut.

Ekonomi tambang saat ini tidak hanya di Manggarai Timur. Nampaknya dilakukan sporadis mengikuti investor yang berminat. Pilihan itu dibuat tanpa persiapan dan perhitungan implikasi yang matang.

Selain bersilang sengkarut dengan wilayah ekologis penting, tambang saat ini justru menimbulkan risiko balik yang serius bagi kabupaten, yakni polusi dan biaya ekologi, serta kesehatan jangka panjang.

Hal-hal ini belum diperhitungkan dalam risiko baik bagi warga terkena dampak langsung maupun bagi kabupaten. Karena itu, amat jelas di sini skenario tersebut lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.*