Home Opini Pabrik Semen, Janji Manis, dan Ironi Pembangunan

Pabrik Semen, Janji Manis, dan Ironi Pembangunan

Oleh Louis Jawa / Pastor Desa Tinggal di Manggarai Utara

818
0
SHARE
Pabrik Semen, Janji Manis, dan Ironi Pembangunan

Keterangan Gambar : Louis Jawa

Tidak ada satu pun proyek tambang di dunia ini yang menyejahterakan masyarakat lokal. Papua yang punya freeport, misalnya, sampai sekarang masyarakatnya tetap miskin dan sederhana. Di Manggarai juga sama.


KAWASAN PESISIR pantai utara Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat ditaburi dengan pesona alam yang eksotik, asli, dan membahagiakan.

Pada dinamika alam ciptaan yang begitu mengagumkan, kawasan pesisir pantai utara ini pun menghadirkan sejumlah pemandangan bekas basecamp proyek-proyek besar seperti di Torong Besi, Lengkololok (nama yang sering digunakan) dan Satarteu, sejenak mengatakan ada banyak kandungan berharga di bawah tanah-tanah ini.

Pada bidang kehidupan setiap hari, perjumpaan dengan masyarakat lingkar tambang, menghadirkan beberapa pertanyaan yang tiada putus-putusnya.

Pertanyaan pertama, apakah proyek besar pertambangan telah menyejahterakan masyarakat sederhana atau sebaliknya hanya menyisakan kerusakan alam ciptaan dan keretakan dalam keluarga, suku, dan masyarakat luas?

Pertanyaan kedua dari lahir suara umat dalam perjumpaan bersama umat Lengko Lolok selepas pelayanan misa. Apakah perusahaan pernah berpikir untuk menyekolahkan anak hingga tuntas menjadi dokter, insinyur, dan sarjana keilmuan yang tepat dengan dunia pasar?

Bahkan dalam bincang lepas dengan umat pada patroli adventus 2019, umat ini bercerita, untuk minta alat pengeras suara dan sarana olahraga, butuh waktu yang lama dan tuntutan proporsal yang berbelit-belit.

Baca juga: Orang-orang Kampung di Antara Pertarungan Kelompok Pro vs Kontra Tambang

Lalu muncul pertanyaan yang terasa lebih keras dan tajam, apakah pertambangan yang sudah ada di atas tanah masyarakat sederhana ini pernah memberikan bukti tentang keberpihakan perusahaan bagi masyarakat lokal dan alam ciptaaan itu sendiri?

Kemakmuran pembangunan dengan industri pertambangan memang terasa seperti sebuah ilusi kesejahteraan yang menindih dan mencengkeram kesederhanaan masyarakat kecil, yang dengan tulus dan lugunya terbawa promosi, proyeksi, dan iming-iming betapa pertambangan itu lebih baik dan lebih menyejahterakan.

Luwuk dan Lengkololok persis masuk dalam dinamika pastoral saya setiap hari, ketika saya persis mengenal betapa masyarakat ini adalah petani, peternak, dan pelaut, yang juga pada satu sisi kehidupan menjadi kantong penghasil kayu api yang berkualitas.

Baca juga: Bupati Agas Dinilai Tidak Berpihak Pada Rakyat Soal Tambang Semen

Mereka lebih bergantung pada sektor kehidupan ini, lantas dalam kedekilan akal budi dan iman ini, saya menggugat diri saya sendiri. Mengapa mereka begitu cepat membubuhkan tanda tangan persetujuan atas proyek raksasa yang pada masa lalu sama sekali tidak memedulikan keluarga dan anak cucu mereka dan menyisakan kerusakan alam ciptaan?

Atau dengan lebih sederhana dan tulus, saya bertanya, mengapa kesederhanaan, ketulusan, dan kerja keras masyarakat kecil bisa dibelokkan menjadi sebuah dukungan tegas atas ide penguasa-pengusaha?

Dilema pertambangan di Flores pun menyeruak kembali, antara rayuan manis pemodal dan keprihatinan soal lingkungan hidup. Resistensi penguasa dan pemodal bisa menggambarkan betapa kepedulian atas lingkungan hidup berada di bawah titik stagnan.

Industri pertambangan dengan Lengkololok sebagai sumber batu gamping dan Luwuk sebagai lokasi pabrik semen, kini betul membawa ketegangan moral yang kuat karena masa depan manusia sungguh-sungguh dipertaruhkan.

Ketegangan yang bisa diimajinasikan dan diproyeksikan juga adalah tentang peta konflik yang kelak juga akan didesain untuk bisa mengambil seluruh wilayah pantai utara sebagai aset pertambangan.

Mendengarkan Jeritan Alam

Sri Paus Yohanes Paulus II peduli pada lingkungan hidup. Pada 1979, setahun setelah menduduki kursi kepausan, ia menyatakan Santo Fransiskus Asisi sebagai pelindung para pelestari lingkungan hidup.

Dalam suratnya, Sanctorum Altrix, ia juga menyebut Santo Benediktus sebagai orang kudus lain, pelindung ekologi. Benediktus bukan hanya membaca sabda Tuhan dalam Kitab Suci melainkan juga dalam kitab raksasa yakni alam raya.

Baca juga: Momok Tambang Wae Sano

Ia menulis, “kekuasaan yang diberikan pencipta kepada umat manusia atas seluruh bumi bukanlah kekuasaan yang mutlak. Kita tidak berhak berbicara tentang kebebasan untuk menggunakan atau mengatur segalanya sesuka hati. Dalam berhadapan dengan alam, kita harus tunduk di bawah hukum biologi dan hukum moral.”

Sebagai peringatan 20 tahun atas Ensiklik Populorum Progressio, ia mengeluarkan ensiklik Solicitudo Rei Socialis (SRS) yang menekankan arti penting lingkungan hidup yang dilanda krisis.

Pertama, SRS lebih menyadari bahwa pemanfaatan makhluk ciptaan bernyawa atau tak bernyawa selalu menimbulkan akibat yang tidak terhindarkan. Penggarapan kekayaan alam demi keperluan ekonomi tanpa mengingat kodrat setiap pengada dan saling berkaitan di antara sistem organisme teratur (kosmos) memang berbahaya.

Kedua, terdapat ciri keterbatasan sumber-sumber alam. Pemanfaatan kekayaan alam dengan sikap dominasi mutlak bukan hanya membahayakan generasi sekarang melainkan juga generasi mendatang.

Ketiga, industrialisasi selalu menambah kontaminasi lingkungan dengan akibat-akibat berat untuk kesehatan masyarakat.

Baca juga: Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Satar Punda Masih Diwarnai Pro dan Kontra

Selain itu, perhatiannya pada lingkungan hidup ditegaskan kembali dalam Ensiklik Centesimus Annus (CA), ajaran sosial Gereja untuk mengenangkan 100 tahun Ensiklik Rerum Novarum.

Secara tajam, ia mengkritik kerakusan manusia yang berusaha menggantikan peran Tuhan. Eksploitasi atas lingkungan adalah irasionalitas, bertentangan dengan akal sehat dan dilatari oleh antropologi yang sesat: alam adalah objek yang harus dieksploitasi (CA 37).

Menguji Janji Manis

Tambang memang bukan atas ide dan inisiatif masyarakat sekitar lokasi pengerukan itu. Tambang juga bukan kios kecil tempat berbelanja kopi dan gula di dusun kita karena tambang sesungguhnya adalah raksasa pertambangan.

Ia punya mekanisme dan struktur yang tersusun rapi. Memiliki tujuan tertentu dengan menggunakan seribu satu cara.

Raksasa pertambangan bisa saja membungkus wajahnya begitu sederhana dalam selembar tiga daun uang biru lima puluh ribu rupiah untuk membeli makanan dan menyekolahkan anak.

Pertambangan tak pernah mengumbar dampak negatif kerusakan lingkungan hidup justru ketika ia memiliki setumpuk uang untuk sejenak meninabobokan rakyat kecil tentang makna kebutuhan hidup sehari-hari.

Pastor Peter Aman, Koordinator JPIC Kongregasi OFM Indonesia dalam sebuah seminar di Aula Santo Paulus Ledalero, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, mengungkapkan kebohongan-kebohongan dari investasi pertambangan, antara lain tambang membawa kesejahteraan, tambang dapat memulihkan ekologi dengan program reklamasi, dengan investasi tambang infrastruktur seperti ketersediaan air minum, sekolah, klinik, sarana ibadat, dan lain-lain terjamin dengan baik.

Baca juga: PT Arumbai dan PT Aditya Tidak Beroperasi, Warga Kehilangan Penghasilan Rp3-4 Juta Per Bulan

Selain itu, tambang juga memberi ganti rugi yang adil, limbah tambang atau polusi yang diakibatkan oleh tambang dapat diatasi dengan sempurna, hak-hak masyarakat dijunjung tinggi, dan ada lapangan kerja untuk masyarakat lokal.

“Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada satu pun proyek tambang di dunia ini yang menyejahterakan masyarakat lokal. Papua yang punya freeport, misalnya, sampai sekarang masyarakatnya tetap miskin dan sederhana. Di Manggarai juga sama. Ada seorang satpam dan istrinya yang bekerja di tambang, tetapi mereka tetap tinggal di sebuah gubuk reyot 20 meter dari lokasi tambang dan sumber air mereka pun mengering serta terancam oleh limbah,” kata pegiat kemanusiaan yang pernah melakukan investigasi di lokasi tambang di Manggarai.

Don Klaudius Marut dalam seminar itu juga mengingatkan masyarakat akan potensi konflik dan bahaya penyingkiran masyarakat lokal dari sumber daya alam komunal sehingga perusahaan-perusahaan tambang bisa mengambil alih tanah tanpa kompensasi.*