Home Ende Paguyuban Pancasila Ende Ajak Siswa-siswi SD GMIT Ende 4 Kunjungi Situs Serambi Soekarno

Paguyuban Pancasila Ende Ajak Siswa-siswi SD GMIT Ende 4 Kunjungi Situs Serambi Soekarno

- Mengenal Sosok Soekarno dan Pancasila

198
0
SHARE
Paguyuban Pancasila Ende Ajak Siswa-siswi SD GMIT Ende 4 Kunjungi Situs Serambi Soekarno

Keterangan Gambar : Beberapa siswa SD GMIT Ende 4 berpose bersama Pater Henri Daros, SVD (ketiga dari kiri), Bapak Kifly Bambang K. Suwetty (keempat dari kiri/kemeja putih), Anggota Paguyuban Pancasila dan para guru SD GMIT Ende 4 di Serambi Soekarno, Biara Santo Yosep, Sabtu (26 oktober 2019).

 

“Radikalisme dan kekerasan sesungguhnya bukan budaya kita. Nenek moyang kita dahulu hidup dalam suasana harmonis dan rukun, meskipun berbeda-beda. Mereka menerima perbedaan yang ada sebagai sebuah kekayaan dan saling menghormati satu sama lain," - Kifly Bambang K. Suwetty


Sebanyak 40-an pelajar kelas IV Sekolah Dasar (SD) GMIT Ende 4 bersama para guru diajak Komunitas Paguyuban Pancasila Kabupaten Ende mengunjungi dua situs Soekarno di Kota Ende, yakni Rumah Pengasingan Soekarno di Jalan Perwira dan Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef Ende, Sabtu (26/10). Di Serambi Soekarno, mereka diterima oleh Pater Henri Daros, SVD yang adalah pemrakarsa pendirian situs Serambi Soekarno.

Komunitas Paguyuban Pancasila Kabupaten Ende adalah sebuah paguyuban yang lahir setelah kunjungan Plt. Kepala BPIP, Haryono, di Ende, Flores, NTT, untuk memberikan sarasehan “Penelusuran Mutiara Pancasila di Tanah Rahim Pancasila” bersama dengan tokoh-tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat Kabupaten Ende di Pesantren Walisanga Ende pada Senin, (26/8) lalu. Kesadaran bahwa ancaman terhadap Pancasila menjadi tantangan dewasa ini dan nilai-nilai luhur Pancasila perlu ditanamkan dalam diri masyarakat menjadi cikal bakal pendirian paguyuban ini.

Dalam dialog dengan para siswa, guru-guru, dan anggota Paguyuban Pancasila, Pater Henri Daros mengaku senang karena anak-anak sejak usia dini mulai diperkenalkan dengan tokoh Soekarno, Pancasila, dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pater Henri menjelaskan bahwa ketika dibuang ke Ende oleh pemerintah kolonial Belanda, Soekarno muda bertemu dan bersahabat baik dengan dua orang misionaris Belanda di Biara Santo Yosef Ende, yakni Pater Gerardus Huijtink, SVD dan Pater Dr. Joannes Bouma, SVD.

Rumah Biara Santo Yosef adalah salah satu tempat di Ende yang secara rutin dikunjungi Soekarno. Di rumah ini, Soekarno menemukan “oase intelektual” tempat olah budi dan olah batin (membaca, berdiskusi, dan bercakap-cakap). Di tempat ini, Seokarno menemukan perspektif lain dalam pola pikir dan sudut pandang tentang cita-cita perjuangannya. Di tempat ini, kegiatan pementasan tonil-tonilnya dirancang dan disiapkan.

Soekarno juga bebas membaca di perpustakaan biara ini atas izin Pater Bouma, dan di kamar Pater Huijtink. Sedangkan, Bruder Lambertus, SVD dan Bruder Cherubim, SVD adalah dua anggota biara yang selalu membantu Soekarno mempersiapkan fasilitas pementasan tonil hasil karyanya.

Pater Henri menjelaskan, dalam permenungannya tentang visi Indonesia ke depan, Soekarno berdiskusi dengan dua sahabatnya di biara Santo Yosef. Pemikiran dan gagasan Soekarno tentang Indonesia dan pluralisme juga didialogkan dan “dimurnikan” oleh dua sahabatnya: Pater Bouma dan Pater Huijtink.

Dikisahkan, dalam sebuah kesempatan diskusi di Biara Santo Yosef, P. Huijtink bertanya kepada Soekarno, “Tuan Soekarno, di manakah tempat bagi ibumu yang beragama Hindu itu dan di manakah tempat bagi kami ini yang beragama Katolik dan Kristen dalam Indonesia kelak?” Pertanyaan ini tidak terduga sebelumnya oleh Soekarno. Namun, kemudian Soekarno menjawab,“ Terima kasih Pater. Yang jelas dalam Indonesia itu nanti, Indonesia yang saya perjuangkan ini, tidak boleh ada pembedaan-pembedaan, tidak boleh ada diskriminasi. Tidak boleh ada pembedaan Islam, Katolik, Kristen, Hindu, atau Budha. Dan itu juga yang sedang saya pikirkan,”. Refleksi Soekarno tentang hal ini kemudian mengkristal dalam sila pertama Pancasila: Ketuhanan yang Mahaesa.

Sementara itu, salah satu pemrakarsa Paguyuban Pancasila, Kifly Bambang K. Suwetty, mengatakan Paguyuban Pancasila adalah sebuah paguyuban yang baru saja digagas setelah kunjungan Plt. Kepala BPIP, Haryono, di Ende, tepatnya di Pesantren Walisanga untuk memberikan sarasehan tentang Pancasila. Keanggotan di paguyuban ini bersifat nasional dan terbuka untuk umum. Siapa pun dari agama, golongan, profesi, suku dan unsur apa pun dapat bergabung dalam paguyuban ini untuk bersama-sama merawat dan menjabarkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kepengurusan paguyuban ini sedang digodok dan akan menjadi sebuah paguyuban resmi setelah semuanya terbentuk.

Menurut Bambang, kunjungan bersama anak-anak SD GMIT Ende 4 ke Rumah Pengasingan Soekarno dan Serambi Soekarno ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada generasi penerus bangsa sejak usia dini, agar mereka merasa memiliki dan mencintai Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, melalui kegiatan ini juga, anak-anak dapat mengenal tokoh Soekarno, visi perjuangannya untuk Indonesia merdeka, dan butir-butir permenungannya, yang dikenal sebagai Pancasila.

Di tengah kemajuan teknologi informasi saat ini, lanjut Bambang, orang dengan mudah mengakses berbagai berita dan informasi kapan pun dan di mana pun. Dan, bahayanya, ada begitu banyak informasi maupun berita hoaks yang beredar dengan cepat, yang sengaja disebarkan untuk memecah belah persatuan bangsa dan melemahkan sendi-sendi toleransi, kerukunan, dan keberagaman. Untuk itu, orang perlu membentengi diri dengan semangat Pancasila dan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Bhineka Tunggal Ika bukan saja semboyan, namun sikap dan cara hidup yang mesti menjadi budaya masyarakat Indonesia. Sejak awal, Soekarno mencita-citakan Indonesia yang majemuk namun bersatu dan hidup berdampingan secara damai satu sama lain. Cita-cita ini harus diwujudkan dalam praktik hidup dan dan menjadi budaya setiap orang.

“Radikalisme dan kekerasan sesungguhnya bukan budaya kita. Nenek moyang kita dahulu hidup dalam suasana harmonis dan rukun, meskipun berbeda-beda. Mereka menerima perbedaan yang ada sebagai sebuah kekayaan dan saling menghormati satu sama lain. Tantangan kita saat ini ialah bagaimana menghidupi warisan nilai-nilai luhur dari generasi pendahulu agar tidak tercerai berai oleh mereka yang ingin menghancurkan kesatuan bangsa ini,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda khusunya dan masyarakat Ende umumnya untuk bersama-sama memerangi berita-berita hoaks yang semakin gencar disebarkan oleh kelompok-kelompok radikalis. “Kita tidak boleh terpengaruh oleh provokasi-provokasi yang ingin mengacaukan bangsa ini,” katanya.

Ke depan, kata Bambang, paguyuban ini akan mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya-upaya membumikan Pancasila, menanamkan rasa cinta terhadap nilai-nilai luhur Pancasila, serta penjabaran butir-butir Pancasila agar menjadi habitus dalam masyarakat yang beranekaragam ini.

Oleh Arkian Biaf
Editor: Amandus Klau