Home Opini Paul Arndt dan Religiositas Masyarakat Ngada

Paul Arndt dan Religiositas Masyarakat Ngada

Oleh Felix Baghi, SVD / Dosen STFK Ledalero

472
0
SHARE
Paul Arndt dan Religiositas Masyarakat Ngada

Keterangan Gambar : Dr. Felix Baghi

"Arndt sanggup menyentuh ‘the mythical nucleus’ kebudayaan Ngada, dan hal ini ia lakukan secara objektif...Ia pertama-tama mendengar setiap ‘discourse’ masyarakat Ngada dengan merekam langsung pembicaraan dalam bentuk ungkapan asli." — Felix Baghi, SVD


SERI ETNOLOGI Candraditya menerbitkan hasil penelitian antropologi terkenal Paul Arndt SVD tentang “Masyarakat Ngada.” Sebagai murid antropolog andal Wilhem Schmidt dari Institut Anthropos Jerman, Arndt  melakukan kajian budaya dengan fokus penelitian pada aspek keluarga, tatanan sosial, pekerjaan, dan hukum menurut tradisi Ngada.

Kajian budaya yang sangat menarik ini ditelusuri Arndt lewat pengamalan langsung (lived-experience) sebagai seorang misionaris SVD di wilayah Ngada selama kurang lebih 40 tahun.

Datang sebagai misionaris dengan bekal akademik warisan tradisi Institut Antropos Jerman, Arndt memiliki optimisme untuk menyelam masuk ke substansi religiositas Ngada dan ingin menukik dalam sampai ke sum-sum kultur Ngada.

Baca juga: Investasi Kemanusiaan versus Pragmatisme Politik

Apa yang dilakukannya yaitu pertama-tama membaca kehidupan keluarga orang Ngada, hubungan orang tua dan anak, tetek bengek perkawinan, pertumbuhan seorang anak di dalam masyarakat sampai pada jenjang di mana  seorang anak memasuki masa pertunangan, perkawinan adat dan hidup sebagai suami istri. 

Selain itu, ia menelusuri hubungan kekerabatan, kelompok klan dan lapisan sosial dalam klan. Hubungan ini dapat  dipahami dalam konteks kesatuan teritorial seperti kampung dan persekutuan kampung. Persekutuan itu dapat dimengerti dalam terang aktivitas sosial seperti pekerjaan, pembagian kepemilikan dan diferensiasi sosial.

Arndt lalu melihat lebih jauh bahwa segala tatanan kehidupan masyarakat Ngada dibentuk dan dilegitimasi oleh hukum adat. Hukum itu mengatur norma hidup dan menjaga sosialitas orang Ngada agar berjalan sesuai pola pikir dan pola rasa sebagai manusia Ngada.

Tentu, semua warisan penelitian Arndt ini perlu dikaji misalnya melalui ‘hermeneutics of tradition’  yang baik agar pembaca sanggup menemukan semacam  ‘imaginary nucleus’  kebudayaan Ngada.

Untuk sampai kepada substansi suatu kebudayaan, kita memiliki keyakinan, seperti Paul Ricoeur  bahwa ‘no culture is wholly transparent... there is invariably a hidden nucleus which determines and rules the distribution of these transparent functions and institutions.” 

Baca juga: Rumah: Zona Nyaman Pendidikan

Setiap kelompok etnis memiliki semacam ‘hidden-nucleus’ dan tugas kita adalah berusaha untuk menemukan substansi kebudayaan yang tersembunyi itu melalui jalan identifikasi akurat yang baik. Pater Hubert Muda, SVD pernah membuat penelitian doktoral yg sangat berarti tentang wujud tertinggi dalam masyarakat Ngada yaitu dengan menggali kembali arsip asli Paul Arndt di institut Antropos Jerman.

Saya mengamati lewat ketiga karyanya: I: Agama Orang Ngada (Dewa, Roh-roh, Manusia, dan Dunia vol. 1); II: Agama Orang Ngada (Kultus, Pesta dan Persembahan vil. 2), dan III: Masyarakat Ngada (Keluarga, Tatanan Sosial, Pekerjaan, dan Hukum Adat) bahwa Arndt berusaha untuk menemukan semacam ‘the foundational mytho-poetic nucleus’ masyarakat Ngada.

Meskipun di sana sini penelitiannya dilakukan secara minimal saja, misalnya bersifat deskriptif dan  informatif, hal ini bisa dimengerti karena dilakukannya di samping tugasnya sebagai misionaris SVD. Kita hampir tidak menemukan metode sistematis dan catatan kritis yang berarti.

Namun, hal yang sangat menarik bahwa Arndt sanggup menyentuh ‘the mythical nucleus’ kebudayaan Ngada, dan hal ini ia lakukan secara objektif. Mengapa tidak? Ia pertama-tama mendengar setiap ‘discourse’ masyarakat Ngada dengan merekam langsung pembicaraan dalam bentuk ungkapan asli. ‘Discourse’ adalah apa yang dikatakan ketika masyarakat membangun sosialitas mereka lewat setiap bentuk  komunikasi kebudayaan.

Selain itu, Arndt mengalami langsung ‘praxis’ hidup orang Ngada. Praxis menggambarkan aktivitas tentang apa  dan bagaimana orang Ngada menjalani hidupnya dalam keseharian. Praxis adalah cara hidup yang konkret. Semuanya, ‘discourse’ dan ‘praxis’  menggambarkan distribusi perbedaan peranan dalam setiap tatanan hidup bermasyarakat.

Hanya melalui interpretasi tentang struktur hierarkis dan evaluasi kritis tentang diferensiasi peranan dalam suatu masyarakat, kita dihantar masuk menuju ‘mythico poetic nucleus’ suatu masyarakat.

Tidak ada masyarakat tanpa historisitas. Justru Paul Arndt meneliti dimensi antropologis masyarkat Ngada dengan tujuan untuk menemukan kekayaan religiositas sebagai warisan sejarah yang berarti.

Dari warisan sejarah, kita tahu bahwa perkembangan suatu kelompok etnis  dapat bersifat sinkronis yaitu seperangkat tatanan sosial yang selalu tetap hidup dalam masyarakat dan dapat pula bersifat diakronis sebagai proses transformasi yang historis. 

Oleh karena itu, membaca karya-karya Arndt, kita tidak boleh terpaku pada pendekatan sinkronis maupun diakronis saja. Kita harus berangkat lebih jauh yaitu dengan menggunakan pendekatan pankronis terhadap tatanan sosial masyarakat, misalnya melalui metode fenomenologi agama, metode transendental, metode hermeneutika, dan analisis linguistik.

Kita menyadari bahwa tradisi  suatu etnis masyarakat memiliki dua karakter. Pertama, tradisi membentuk suatu sistem simbol yang terus hidup dalam suatu masyarakat. Hal ini hanya dapat diinterpretasi melalui analisis struktural. Kedua, tradisi memiliki sejarah dan kita hanya mengertinya melalui proses interpretasi dan re-interpretasi yang terus menerus agar tradisi itu tetap hidup.

Karena itu, refleksi dan interpretasi  kebudayaan bukan saja selalu penting, tetapi sangat urgen. Hidup di tengah arus globalisasi dan serbuan media sosial yang sangat dahsyat, orang bisa saja tercabut dari akar budaya sendiri. Ia dapat saja mengalami semacam disorientasi hidup karena dia terlempar ke ‘boundary situation’ di mana ia terancam kehilangan pegangan, dan hidup di ambang  batas yang tak jelas.*