Home Ende Pelayanan Kesehatan Jiwa di NTT Belum Memadai

Pelayanan Kesehatan Jiwa di NTT Belum Memadai

2,230
0
SHARE
Pelayanan Kesehatan Jiwa di NTT Belum Memadai

Keterangan Gambar : Kru Kelompok Kasih Insanis, Kanis Soge, memandikan pasien terpasung di Kampung Guru, Desa Takaplager, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Rabu (9/10/2019)

"Hanya Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka yang cukup giat lakukan pelayanan terhadap penderita gangguan jiwa. Kabupaten-kabupaten lain baru mulai, dan bahkan kabupaten-kabupaten tertentu sama sekali belum mulai. Program Indonesia Bebas Pasung beserta bongkar stigma dan stop diskriminasi yang digaung pemerintah sejak belasan tahun lalu agak sulit terwujud jika pemerintah daerah kurang respons terhadap persoalan gangguan jiwa." — Sukarelawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Provinsi NTT, Saturninus Duki.

Ende, Flores Pos — Sejak Indonesia merdeka, pelayanan kesehatan jiwa di wilayah Provinsi Nusa Tenggarai Timur (NTT) belum memadai hingga kini. Pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa hanya dilakukan oleh dinas kesehatan tertentu, sementara kabupaten lain tampak tak peduli pada persoalan tersebut.

Hal ini disampaikan sukarelawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Provinsi NTT, Saturninus Duki, kepada Flores Pos, di Ende, ketika dimintai komentarnya terkait Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2019 yang jatuh pada 10 Oktober, Kamis (10/10/2019).

Baca juga: 600-an Orang, Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Kabupaten Sikka

Menurut Saturninus, dinas kesehatan yang giat melakukan pelayanan terhadap orang dengan gangguan jiwa hanya Dinkes Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka.

Pada dua kabupaten tersebut, semua puskesmas sudah menyediakan obat untuk penderita gangguan jiwa, sekalipun terkadang kehabisan obat karena banyaknya penderita gangguan jiwa yang terdata.

Selain menyediakan obat, kata Saturninus, dua dinas kesehatan tersebut juga gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kesehatan jiwa bersama organisasi sosial kemanusiaan Kelompok Kasih Insanis baik dalam bentuk seminar maupun pembongkaran pasung serta kunjungan rumah.

“Di Ende sejak 2017, psikiater bekerja sama dengan RSUD dan Dinkes Ende layani pasien gangguan jiwa. Selain di rumah sakit selama 3 hari dalam sebulan, psikiater bersama pihak puskesmas kunjungi pasien yang terpasung atau yang berdiam di rumah-rumah, serta berikan obat,” tuturnya.

Saturninus juga mengatakan bahwa di Sikka bersama KKI, Dinkes melakukan pelbagai kegiatan sosialisasi, serta mengunjungi pasien di rumah-rumah. “Para dokter dan perawat di puskesmas sangat giat berikan pelayanan medis,” katanya.

Baca juga: Setelah 19 Tahun Terpasung, Akhirnya Lambertus Embus Napas Terakhir

Di kabupaten-kabupaten lain, lanjut Saturninus, pelayanan kesehatan jiwa belum terlalu giat sekalipun di wilayah mereka terdapat banyak penderita gangguan jiwa. Bahkan kabupaten-kabupaten tertentu, pelayanan kesehatan jiwa sama sekali tidak dilakukan, padahal Kementerian Kesehatan sudah menginstruksikan agar Dinas kesehatan bersama puskesmas harus segera memberikan pelayanan keswa.

“Di Kabupaten Nagekeo, sudah beberapa puskesmas sediakan layanan keswa. Demikian juga di Kabupaten Flores Timur dan Lembata, serta Manggarai dan Manggarai Barat,” katanya.

Ia berharap agar pemerintah daerah tidak mengabaikan para penderita gangguan jiwa sebab mereka adalah rakyat yang memiliki hak asasi kesehatan.

“Kita lihat saja respons pemerintah terkait Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober 2019 ini. Hanya Kabupaten Sikka yang selenggarakan sosialisasi kesehatan jiwa, sementara kabupaten lain kurang peduli pada persoalan ini,” katanya.

Menurutnya, program Indonesia Bebas Pasung beserta bongkar stigma dan stop diskriminasi yang digaung pemerintah sejak belasan tahun lalu agak sulit terwujud jika pemerintah daerah kurang respons terhadap persoalan gangguan jiwa.

Pasien Bisa Pulih

Sementara itu, psikiater RSUD Maumere, dokter Fatimah, dalam Seminar Kesehatan Jiwa di Kantor Camat Nita, Kabupaten Sikka, Selasa (8/10), mengatakan bahwa pelayanan kesehatan jiwa butuhkan keterlibatan banyak pihak.

Selain para dokter dan perawat, keluarga juga mesti terlibat karena lebih banyak waktu pasien itu berada bersama keluarga.

“Obat untuk pasien gangguan jiwa itu bukan hanya soal medis, melainkan juga kasih sayang dan empati keluarga dan masyarakat sekitar. Kalau hanya medis, maka pasien sangat sulit pulih,” katanya.

Menurut dokter Fatimah, gangguan jiwa adalah sakit medis sehingga bisa dipulihkan dengan rutin minum obat.

Gangguan jiwa bukan karena setan atau ilmu hitam atau kekurangan iman, melainkan gangguan pada fungsi otak yang berimbas pada gangguan fungsi-fungsi lain pada diri manusia.

“Fungsi otak mereka akan diperbaik jika rutin minum obat. Jangan lagi sebut kata gila untuk penderita gangguan jiwa. Berikanlah kepada mereka perhatian dan kasih sayang agar mereka kembali percaya diri dan bisa bekerja kembali,” katanya.

5000-an Pasien

Irma Sinuor, Sukarelawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Provinsi NTT, menegaskan bahwa jumlah pasien gangguan jiwa yang sudah didatakan KKI berjumlah 5000-an orang. Pasien paling banyak terdapat di Kabupaten Ende, diikuti Kabupaten Sikka.

“Di Ende total pasien 700-an orang, sedang di Sikka 600-an orang,” tuturnya.

Banyaknya jumlah pasien di dua kabupaten tersebut, lanjut Irma, karena para perawat dan dokter giat melakukan pendataan dan kunjungan di rumah-rumah pasien.

Baca juga: Belasan Artis Berdialog dengan Pater Avent Saur tentang Masalah Gangguan Jiwa di Ende

Sementara pada kabupaten-kabupaten lain, jumlahnya masih di bawah angka 300 pasien bahkan kabupaten-kabupaten tertentu belum satu pun yang terdata.

Ia berharap agar pemerintah dan para sukarelawan lebih giat dalam melakukan pendatatan dan pelayanan terhadap penderita gangguan jiwa agar pembangunan kesehatan jiwa di wilayah NTT makin maju.

“Bisa ditargetkan dalam 5 tahun ke depan, jumlah penderita gangguan jiwa yang terdata mencapai 10 ribu pasien. Misalnya, di setiap kabupaten terdapat 500-1000 pasien, maka untuk 22 kabupaten, totalnya bisa mencapai angka belasan ribu,” tuturnya.

Ia juga berharap keluarga melaporkan anggotanya yang menderita gangguan jiwa ke puskesmas-puskesmas agar para perawat dan dokter terbantu juga dalam pendataan dan pelayanan medis.

Penulis: Avent Saur
Editor: Selo Lamatapo