Home Opini Pentingnya Psikotes untuk Siswa

Pentingnya Psikotes untuk Siswa

284
0
SHARE
Pentingnya Psikotes untuk Siswa

Keterangan Gambar : Jefrianus Kolimo, Staf Guru di SMP Negeri 1 Hawu Mehara, Sabu Raijua

Di Australia, anak-anak usia pelajar sudah mulai menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Tes dilakukan untuk menentukan sikap pemalu yang terlalu ekstrem atau pun kenakalan lain yang merupakan gangguan gejala psikologis.

Beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berita meninggalnya seorang guru agama dengan mendapat 14 luka tusukan, terjadi pada 21 Oktober di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Peristiwa ini viral di media sosial sebab pelaku tak lain adalah muridnya sendiri. Banyak yang mengutuk keras tindakan pelaku yang biadab dan tidak bernurani. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan sampai menggelar pertemuan untuk membahas kasus tersebut.

Dari berita-berita yang beredar, pemicunya sederhana. Siswa yang baru berumur 16 tahun tersebut, awalnya dihukum oleh kepala sekolah karena datang terlambat ke sekolah tersebut. Setelah menjalani hukuman, siswa tersebut duduk dan merokok di depan halaman sekolah. Saat itulah, guru Alexander Pangkey datang dan menegur.

Namun taguran itu tidak diterima bahkan pelaku tersinggung sehingga terjadi adu mulut antara keduanya. Siswa tersebut sempat disuruh untuk pulang ke rumah tetapi malah kembali dengan senjata tajam dan kejadian keji itu pun tak bisa dihindari.

Guru Alexander Pangkey akhirnya meninggal di tangan muridnya sendiri setelah kehabisan darah karena menderita luka-luka parah.

***

Saya yang juga adalah seorang guru, ketika membaca kronologi peristiwa keji itu, dalam hati berujar bahwa jika saya adalah guru Alexander Pangkey, maka saya akan melakukan tindakan yang sama. Menegur untuk jangan merokok di lingkungan sekolah.

Ya, seorang guru wajar akan menegur siswa yang berbuat tidak benar seperti merokok, konsumsi minuman keras, menyontek, bolos, datang terlambat, berkata kotor, tidak mengerjakan tugas, dan perilaku-perilaku lain yang menyimpang dari aturan sekolah.

Namun apa yang dialami guru Alexander Pangkey adalah suatu perilaku yang biadab dan sangat tidak wajar. Siswa tersebut bukan lagi siswa berkepribadian normal yang seharusnya menghormati dan merasa malu jika ditegur apabila berbuat salah.

Siswa tersebut tergolong siswa yang sakit mental, yang menggebu-gebu, dan tidak bisa menahan emosi serta melakukan hal-hal keji di luar batas kewajaran perilaku normal manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1959 memberikan batasan mental sehat untuk manusia yang normal. Pertama, dapat menyesuaikan diri secara konstruktif meskipun kenyataan buruk baginya. Kedua, menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran di kemudian hari. Ketiga, menjuruskan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif. Keempat, mempunyai rasa kasih sayang yang besar.

Ciri-ciri Penyakit mental, salah satu di antaranya adalah ditandai dengan kemarahan yang eksplosif serta tidak bisa mengendalikan diri yang akan berujung pada tindakan yang tidak wajar. Penderita sakit mental bisa saja melakukan hal-hal di luar kewajaran akibat dari tidak dapat mengendalikan emosinya.

Mencermati kronologi kejadian yang hanya karena ketersinggungan saat ditegur serta membandingkan dengan ciri-ciri seorang yang sakit mental, maka siswa tersebut tidak salah jika saya kategorikan sebagai siswa yang sakit mental (mental illness).

Sakit mental pada umumnya sering diabaikan dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah. Padahal sakit mental tak kalah penting dengan masalah-masalah lain sebab dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami guru Alexander Pangkey. Seseorang yang kesehatan mentalnya terganggu akan berakibat pada penyimpangan perilaku di luar manusia normal.

***

Kejadian yang dialami guru Alexander Pangkey merefleksikan ulang sejauh mana pentingnya psikotes siswa di sekolah yang selama ini terabaikan. Pendidikan kita selama ini berfokus hanya pada bagian akademik dan menyampingkan kesehatan mental.

Pendidikan kita pun selalu berkutat pada masalah-masalah klasik seperti penerimaan peserta didik baru (PPDB), ujian nasional, sertifikasi guru dan lain sebagainya tetapi melupakan proses dalam membimbing anak-anak kita yang tidak sehat mentalnya.

Perlakuan guru terhadap anak yang sakit mental dengan anak yang normal tentu berbeda. Anak-anak yang normal akan merasa baik-baik saja jika ditegur apabila berbuat salah. Namun akan berbeda dengan anak-anak yang mentalnya sedikit bermasalah.

Maka dari itu, psikotes sangat penting dilakukan untuk mengenal siswa-siswa mana saja dengan gangguan mental sehingga guru pun tidak salah kaprah dalam menanganinya.

Dengan psikotes siswa, maka guru dapat melihat sifat-sifat atau hal-hal kurang baik yang bisa ditimbulkan sehingga bisa dilakukan antisipasi dan langkah-langkah pencegahan atau perbaikan yang diperlukan.

Di Australia, anak-anak usia pelajar sudah mulai menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Tes dilakukan untuk menentukan sikap pemalu yang terlalu ekstrem atau pun kenakalan lain yang merupakan gangguan gejala psikologis.

Tes ini juga untuk melihat gangguan yang tersembunyi agar perilaku-perilaku yang mengkhawatirkan bisa dideteksi sejak awal. Psikotes yang dinamakan program Helathy Kids Check (Uji Kesehatan Anak) dilakukan oleh para dokter yang kemudian akan merujukkan anak-anak kepada psikolog atau dokter anak.

Sedangkan di Amerika Serikat, psikotes pada anak dilakukan untuk mengetahui kelainan-kelainan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Hasilnya dijadikan sebagai acuan agar anak mendapat perhatian khusus baik oleh orang tua maupun para pendidik di sekolah.

Sedangkan di Indonesia, psikotes baru mulai dipakai hanya untuk tujuan pekerjaan seperti polisi, tentara, caleg (calon legislatif), guru, dan berbagai profesi lain. Namun untuk lembaga pendidikan sendiri (siswa) masih diabaikan. Masih banyak sekolah-sekolah yang belum menerapkan psikotes dalam proses membimbing siswanya. Padahal siswa-siswa tersebutlah yang sedang dipersiapkan untuk menajdi polisi, tentara, guru, politisi, dan lain-lain.

Pengembangan kesehatan mental yang baik sangat penting dan dibutuhkan oleh para siswa dan siswi di sekolah. Hal itu karena sebagian besar waktu mereka yang dihabiskan di lingkungan belajar-mengajar. Siswa di sekolah bagaikan ulat dalam kepompong yang menunggu waktunya untuk terbang.

Dalam sekolah itulah siswa menghabiskan waktunya untuk mengembangkan diri secara fisik dan mental, agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dan siap untuk terbang.

***

Mencermati kejadian yang dialami guru Alexander Pangkey sudah seharusnya psikotes diberlakukan di sekolah. Sekolah idealnya harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua pelaku pendidikan baik guru maupun siswa. Tidak boleh ada lagi guru-guru yang bernasib tragis seperti guru Alexander Pangkey.

Sudah saatnya pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat bekerja sama memperbaiki pendidikan kita khususnya dalam membimbing anak-anak yang tidak sehat mentalnya.

Sekolah harus bersama-sama dengan lembaga terkait memberlakukan psikotes bagi siswa-siswinya. Psikotes yang dilakukan bisa pada saat Hari Pertama Masuk Sekolah (HPMS) atau pada awal tahun pelajaran. Hasil yang diperoleh saat psikotes dapat digunakan sebagai rujukan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan.  

Pertama, hasil psikotes dapat digunakan sebagai rujukan dalam memetakan atau mengelompokkan anak-anak mana saja yang tergolong sakit mental.

Ini penting dilakukan agar guru-guru dalam menangani anak-anak tersebut tidak salah kaprah dan dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para siswa pun bisa mengetahui teman-temannya yang mentalnya sedikit bermasalah.

Kedua, hasil psikotes juga dapat dipakai sebagai rujukan oleh guru bimbingan konseling (BK) dalam menyusun program-programnya guna memperbaiki kesehatan mental mereka.

Kejadian yang menimpa guru Alexander Pangkey adalah tragedi keji pendidikan yang berselimut keteledoran. Jangan biarkan tragedi seperti ini terulang lagi.

Oleh Jefrianus KolimoStaf Guru di SMP Negeri 1 Hawu Mehara, Sabu Raijua.