Home Opini Pertobatan Ekologis

Pertobatan Ekologis

96
0
SHARE
Pertobatan Ekologis

Keterangan Gambar : Andreas Maurenis Putra, Lulusan Sarjana Filsafat Univ. Parahyangan Bandung 2014. Lulus Magister Humaniora Universitas Parahyangan Bandung 2016.

Mesti ada kesadaran untuk membangun kembali visi teosentris mengenai ciptaan. Alam itu sakral seperti kata Nasr, bukan tercipta dan beroperasi tanpa ada hubungannya dengan Tuhan sebagaimana dogma kaum naturalis, Laplace dan Charles Darwin.

Hari-hari ini, kita dihadapkan pada banyak persoalan yang mengkhawatirkan hajat hidup bersama. Selain persoalan sosial, politik, dan agama, kita juga dihadapkan pada suatu kekhawatiran yang fundamen bagi kelangsungan hidup. Itu tidak lain adalah persoalan tentang degradasi lingkungan hidup.

Terlalu banyak masalah global dan nasional yang membahayakan biosfer dan kehidupan manusia dalam beragam bentuk kerusakan lingkungan. Jika tidak segera dibenahi, hal itu sangat mungkin menghancurkan kelangsungan hidup planet bumi, rumah kita bersama ini.

Maka segala bentuk kerusakan lingkungan hidup (alam) pada hari-hari ini mau tidak mau memaksa setiap individu untuk menggemakan dan menerapkan kesadaran bagaimana seharusnya kehidupan ini dipahami, dijelaskan, dan dipecahkan secara baru, termasuk di dalamnya, seluruh ekosistem yang ada.

Pola Pikir Deep Ecology

Jika pada abad-abad sebelumnya kehidupan dipahami sebagai sebuah krisis tunggal yang parsial, atomistik, dan mekanistik, sekarang saatnya membarui cara pandang atas kehidupan dan melihatnya secara holistik. Atau meminjam istilah Fritjof Capra, holistik ekologis. Artinya, kehidupan ini tidak bisa dipahami secara terpisah tetapi suatu perkara sistematik.

Komponen-komponen dalam alam semesta ini saling terkait. Lebih tepatnya konsep integral perlu diusung ketika menyoal kehidupan ini entah dari sudut pandang apa pun (politik, ekonomi, spiritual, ekologi).

Baca juga: Proyek Awololong, Lembata: dari Siluman Menjadi Mangkrak?

Mutlak perlu untuk dipahami bahwa ada kesaling-tergantungan fundamental semua fonemena dan realitas di alam ini. Dalam arti ini, holistik tidak berhenti pada pengertian hubungan fungsional antarbagian dari sebuah elemen tetapi juga memahami adanya keterhubungan antarelemen tertentu dengan entitas lain di luar dirinya. Bukan hanya relasi intra-dependensi melainkan juga inter-dependensi. Pola pikir inilah, meminjam istilah Arne Naess, dimaksudkan sebagai pola pikir deep ecology.

Akselerasi yang terus-menerus demi kemajuan peradaban memang merupakan sebuah upaya positif. Hanya saja, akselerasi yang terus-menerus sebagai upaya menyejahterakan umat manusia ditambah dengan intensifikasi (rapidiction) sering kali kontras dengan kelambatan evolusi biologis (Laudato Si, Nomor 18).

Intensifikasi ini pada akhirnya problematis lantaran menjadi ancaman serius bagi planet bumi ini. Intensifikasi kerap kali cenderung terperangkap dalam kerangka berpikir Newtonian yang melihat alam sebagai mesin raksasa yang terus memproduksi.

Dengan anggapan ini, alam kemudian dijarah secara membabi buta. Perubahan memang menjadi sesuatu yang diinginkan bangsa di mana pun. Maka tak heran, pada abad ke-21 ini, modernisasi teknologi dan industri telah menciptakan persaingan yang ketat antarbangsa untuk menjadi lebih makmur, termasuk di dalamnya, negara berkembang seperti Indonesia. Sementara, hasrat makmur tak sebanding dengan persediaan bahan baku dari alam yang terus menipis.

Ini sangatlah tidak bijak, mengeruk alam dengan dalih kesejahteraan. Ketidakbijaksanaan interpretasi seperti ini lambat laun, menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup biosfer.

Shierry Webber Nicholsen dalam bukunya The Love of Nature and the End of the World (2002) menggemakan suatu pernyataan serius bahwa di luar ancaman perang nuklir, krisis lingkungan merupakan ancaman terbesar yang dihadapi umat manusia secara kolektif dewasa ini. Apakah ini yang dimaksud sebagai ecoterrorism oleh Douglas Long? Bisa terjadi.

Jika eksploitasi sumber daya alam terus menerus terjadi dan jika pengurangan emisi karbondioksida di bawah kendali, maka kita sedang menghancurkan alam ini, kata James Hansen, seorang ilmuwan NASA. Apalagi atas nama kesejahteraan, alam dikeruk habis-habisan tanpa melihat nilai intrinsiknya.

Antroposentrisme Modern dan Arogansi Saintifik

Hakikatnya, kita tidak bisa menampik bahwa merosotnya nilai alam (yang mencemaskan) ini bermula dari kekeliruan manusia dalam memahami alam. Kekeliruan cara pandang ini kemudian melahirkan perilaku yang keliru pula terhadap alam. Manusia keliru memandang alam semesta, dan keliru pula dalam menempatkan diri dalam konteks alam semesta seluruhnya.

Alam dilihat semata-mata sebagai objek. Manusia adalah subjek. Muncul egoisme yang turut berandil melanggengkan tumbuhnya antroposentrisme. Kemudian melebur ke dalam modernitas, lahirlah antroposentrisme modern yang menjadi bak dewa atas alam semesta.

Baca juga: Mengendus Bau Korupsi (2)

Sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, alam bukan lagi dipandang sebagai norma yang berlaku atau tempat berlindung yang hidup melainkan sebagai objek: ruang dan tempat untuk dikerjakan. Alam dijadikan sebagai objek materialistik semata. Akibatnya hubungan antara manusia dan alam menjadi konfrontatif.

Alam semesta hanya dipahami sebagai materi sehingga kemudian konsep immaterinya dikesampingkan. Adanya alam semesta bahkan spesies-spesies ditentukan oleh sebab-sebab mekanistis, bukan hasil kreasi agen di luar dirinya (Tuhan).

Seyyed Hossein Nasr dalam The Encounter of Man and Nature, The Spiritual Crisis of Modern Man (1968) mengatakan bahwa abad sekarang ini makin memperlihatkan arogansi saintifik dan makin pudarnya metafisika. Konsep alam materialistik ini pada gilirannya meneguhkan peran dominasi manusia atas alam semesta dan menaklukkan alam secara brutal. Ditambah lagi dengan cara mengadopsi teknologi dan perkembangannya yang salah kaprah, dengan eksperimen-eksperimen ilimiah tanpa ada penghormatan atas nilai-nilai intrinsik ekosistem yang ada, alam menjadi makin rusak.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedianya menunjang dan mempermudah aktivitas manusia bergeser menjadi media pemenuhan budaya konsumtif sehingga hakikat diri sebagai mahkluk alam ikut tergerus. Manusia mengalami alienasi ekologis dalam hidupnya. Keterasingan ini berdampak pada ketidakjernihan pikiran memosisikan alam dalam hidupnya. Alam hanyalah entitas yang bermakna dari sudut pandang egoistik-antroposentrik, paradigma mekanistik, dan pragmatik. Di luar konsep ini, alam tidak bernilai termasuk sakralitasnya.

Strategi yang Terpadu dan Kohersif

Lantas, dengan makin meluasnya kerusakan alam, mulai dari polusi (asap kendaraan dan industri), deforesasi (yang turut menyebabkan banjir dan tanah longsor) pengasaman tanah oleh zat kimia, tercemarnya air oleh limbah, pemanasan global (menyebakan kebakaran), punahnya spesies, penyakit menular, pertanian monokultur, penangkapan ikan dengan bahan peledak, kekeringan, dan sampah, langkah apa yang mesti diambil?

Tentu saja orang harus melakukan intervensi ketika geosistem memasuki keadaan kritis. Namun karena sedemikian kompleksnya bencana lingkungan hidup, maka penting menerapkan intervensi secara baru (positif). Kita butuh sebuah proposal bersama sehingga bertumbuh demografis yang sepenuhnya harmonis dengan pengembangan yang utuh dan solider.

Kita tidak membutuhkan slogan-slogan atau retorika-retorika yang serba imperatif-normatif belaka, tetapi sebuah praksis-reflektif. Kita butuhkan sebuah strategi yang terpadu dan kohersif, bukan parsial yang bergerak secara sentrifugal. Kita butuhkan reposisi paradigma atas alam semesta.

Maka pertama-tama, manusia harus berbenah diri. Membenah kesadaran pada perkara asal bersama, saling memiliki, dan masa depan yang harus dibagi. Asal bersama sebagai prasyarat awal bahwa kita hidup dan berada di dalam alam semesta.

Tidak ada yang lebih superior di alam semesta ini kecuali ia sendiri. Manusia hanyalah salah satu bagian kecil di alam semesta. Maka mematuhi dan menaati ritme alam semesta (alam semesta punya ritme dan hukumnya sendiri) akan menjaga kelangsungan hidup manusia sendiri jika tidak ingin alam, suatu ketika, menjadi teroris bentuk baru. Maka saling memiliki adalah konsekuensinya.

Manusia harus bisa punya kesadaran bahwa ia milik alam semesta bukan sebaliknya, alam adalah miliknya. Nature selalu mendahului culture. Maka culture yang dibangun pun harus bisa membentuk kerangka berpikir holistis-humanis agar memiliki kesadaran akan keterkaitan bahkan ketergantungan total terhadap nature tadi.

Bukankah dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan paling akhir. Itu berarti manusia berhadapan dengan sesuatu yang sudah terbentuk mendahului keberadaannya.

Refleksi mendalam untuk menghayati fakta bahwa eksistensinya didahului eksistensi alam akan menuntun manusia keluar dari dirinya, melampaui diri, dengan mendobrak pikiran tertutup dan keterpusatan pada dirinya, yang segala perhatian akan diarahkan kepada orang lain dan lingkungan. Sikap melampaui diri memungkinkan tumbuhnya solidaritas dan tanggung jawab secara solid terhadap masa depan yang harus dibagi.

Pertobatan Ekologis

Kemudian yang kedua, kita juga butuhkan dorongan dari dalam batin. Dorongan batiniah akan memberikan makna pada setiap keputusan manusia, baik secara individu maupun komunal. Dan inilah yang dinamakan sebagai pertobatan. Pertobatan selalu menyangkut spiritualitas hidup baru dan selalu menyiratkan sikap kolektif untuk menumbuhkan semangat pelestarian dan perlindungan terhadap kehidupan.

Maka dalam konteks ekologi, adalah suatu desakan serius bahwa setiap pribadi butuhkan pertobatan ekologis yang radikal jika tidak ingin hidupnya terancam. Kita sudah disuguhkan beragam krisis lingkungan beberapa tahun terakhir ini.

Banjir yang sering terjadi di Indonesia misalnya, (akibat dari deforesasi dan kebiasaan membuang sampah), kebakaran hutan yang masif di beberapa titik dunia (seperti di Amazon, Kalimatan, dan Australia), kekeringan yang melanda hampir sebagian besar daerah di kawasan Afrika, limbah yang merusak ekosistem, satwa yang kehilangan habitat, pemanasan global yang menyebabkan siklus iklim tak menentu, dan kemiskinan, merupakan beberapa contoh nyata krisis ekologis yang timbul akibat manusia keliru menempatkan dirinya di tengah alam ciptaan.

Mesti ada kesadaran untuk membangun kembali visi teosentris mengenai ciptaan. Alam itu sakral seperti kata Nasr, bukan tercipta dan beroperasi tanpa ada hubungannya dengan Tuhan sebagaimana dogma kaum naturalis, Laplace dan Charles Darwin.

Lebih tegasnya, meminjam pemahaman Baruch Spinoza, alam semesta yang mahakompleks ini adalah modus atau properti Tuhan. Bagian-bagian yang ada pada alam semesta ini saling melengkapi untuk menggambarkan kebaikan Ilahi. Alam sebagai pancaran Ilahi (Deus sive natur) atau dalam ungkapannya Ibn Arabi, wahdat al-wujud, Tuhan merasuki segala hal, dan adalah esensi segala hal.

Itu artinya, ciptaan tidak dapat berasal dari dirinya sendiri. Karena itu, alam semesta dan segenap isinya bagi kita tampak sebagai anugerah, hadiah dari Tuhan sendiri (Laudato Si, Nomor 76) sehingga relasi yang dibangun adalah kerja sama dalam dialog dan tanggung jawab bukan dominasi eskploitatif.

Oleh Andreas Maurenis Putra, Lulusan Sarjana Filsafat Univ. Parahyangan Bandung 2014. Lulus Magister Humaniora Universitas Parahyangan Bandung 2016.