Home Feature Petani Desa Hewa Beralih dari Pertanian Lahan Kering ke Sawah (1)

Petani Desa Hewa Beralih dari Pertanian Lahan Kering ke Sawah (1)

Penulis: Wentho Eliando / Editor: Amandus Klau

305
0
SHARE
Petani Desa Hewa Beralih dari Pertanian Lahan Kering ke Sawah (1)

Keterangan Gambar : Petani sawah Kelompok Tani (Poktan) Rii Anak sedang menanam padi di lahan persawahan di Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flotim. Gambar diambil pada Senin (20/7/2020).

“Awal beralih dari lahan kering ke sawah pada tahun 2016, kami belum mengerti pola tanam dan cara merawat padi di lahan sawah, sehingga hasil panen tidak begitu banyak. Maklum, sejak nenek moyang, kami hanya bisa bertani di lahan kering. Tetapi, setelah melewati awal yang berat itu, kami menjadi lebih bersemangat karena hasil panen meningkat," kata Matheus Boli saat ditemui Flores Pos di lokasi sawah olahannya, Sabtu (18/7/2020).

***

Pagi itu, ketika matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur, saya berangkat menuju bagian barat Kota Larantuka, tepatnya ke Desa Hewa yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sikka. Setelah menempuh perjalanan sekitar 70-an kilo meter dengan sepeda motor, saya akhirnya tiba di pusat Desa Hewa.

Secara geografis, Desa Hewa berada di bagian selatan kaki Gunung Lewotobi –salah satu gunung berapi di Pulau Flores. Desa ini berada di wilayah administrasi Pemerintahan Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flotim. Bagian bara desa ini berbatasan dengan Desa Ojandetun, bagian timur berbatasan dengan Desa Waiula dan Desa Nawokote, bagian selatan berbatasan dengan Desa Pante Oa, dan bagian utara berbatasan dengan Desa Boru Kedang.

Desa yang dinakhodai Maria Herenggeka Niron ini dihuni 1.452 jiwa atau 354 kepala keluarga (kk) yang tersebar di Dusun A, B dan C.

Baca juga: Indonesia melalui Menkominfo Serukan Kedaulatan dan Keamanan Data

Selain keindahan alam, tradisi adat dan budaya yang masih dirawat, di tanah Desa Hewa tumbuh subur ragam tanaman pertanian. Padi, jagung, kacang-kacangan, umbi-umbian dan buah-buahan tidak sulit dijumpai di lahan pertanian dan pekarangan rumah warga. Tanaman komoditas tumbuh subur menjadi penopang hidup masyarakat Desa Hewa, antara lain jambu mete, kakao, asam dan kemiri.

Sekitar 333 kepala keluarga masyarakatnya bermata pecaharian petani. Mereka umumnya petani lahan kering. Jadi, setahun sekali atau saat musim penghujan tiba, petani masuk ladang, membersihkan, menanam, merawat hingga memanen.

Pagi itu, pemandangan sangat berbeda, ketika menelusuri lebih dalam Desa Hewa. Tanaman padi kian tumbuh subur dan menghijau di hamparan pematang sawah di selatan perkampungan itu.

“Empat tahun terakhir, banyak petani Desa Hewa beralih dari lahan kering ke sawah. Para petani ini umumnya berada dalam Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Air sungai dari penggunungan Hewa sangat berlimpah dan saluran irigasi dibangun Pemerintah,” ungkap Yosef Benyamin (56), petani Poktan Rii Anak.

Yosef Benyamin merupakan salah satu petani yang serius mengolah dan mengembangkan tanaman padi persawahan itu. Dia mendampingi Flores Pos ke salah satu pondok di antara pematang sawah bertemu 36 petani lain dan berbagi cerita soal pengelolaan dan pengembangan persawahan sampai soal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Hewa.

“Hari ini, kami panen padi di petak sawah milik salah satu anggota Poktan Rii Anak. Selain Rii Anak, ada juga Poktan Rinjani. Kami menggunakan pupuk organik. Poktan Rii Anak dan Poktan Rinjani ada dalam Gapoktan Helero,” kata Yosef.

Para petani Poktan Rii Anak saat itu sedang sibuk memanen dan membersihkan bulir-bulir padi dari jerami dengan mesin rontok di pematang sawah. Tidak jauh dari situ, tampak sejumlah petani sibuk merapikan pematang, petak-petak sawah, membajak sawah menggunakan traktor, dan mengambil benih di demplot benih yang siap untuk ditanam.

Di tempat itu juga hadir Mikhael Mamang Puka dan Magdalena Tuto Tolok, staf lapangan dari Ayu Tani. Ayu Tani adalah sebuah yayasan yang fokus bergerak di bidang pangan dan pertanian. Selama beberapa bulan terakhir, Mikhael Puka dan Magdalena serius mendampingi dan menfasilitasi para petani setempat untuk urusan pengolahan dan pengembangan persawahan maupun urusan belajar administrasi.

Kebersamaan seperti terlihat itu, ungkap Yosef, tidak hanya saat panen. Para petani setempat selalu bersama, mulai dari membicarakan masalah-masalah yang dialami, membuka atau mencetak sawah, membuat pematang, membersihkan petak, menanam, merawat hingga pemasaran.

Baca juga: Kematian Babi di Kabupaten Sikka Meningkat Lima Kali Lipat

Yosef menuturkan, bahwa lahan tidur dan lahan kering di wilayah Rii Anak seluas 83 hektare. Sementara yang sudah dikelola dan digarap menjadi persawahan baru 40-an hektare. Secara keseluruhan, luas lahan tidur di Desa Hewa sekitar 200-an hectare. Namun, baru sekitar 30 persen persawahan ini dikelola.

“Selain di wilayah Rii Anak, persawahan yang sama juga ada di wilayah Rungat, Watuapi, dan Rii Gete. Masih banyak lahan tidur dan lahan kering yang belum dikelola menjadi sawah. Para pemilik lahan tidur dan lahan kering umumnya berdomisili di luar desa,” katanya.

Awalnya Merasa Sulit

Masyarakat Kabupaten Flotim, termasuk warga Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, umumnya merupakan petani tradisional. Sejak nenek moyang, mereka hanya menanam padi di lahan kering atau padi gogo, sehingga ketika turun ke persawahan, mereka tergolong awam dan merasa sulit, bahkan bekerja penuh keraguan.

Petani Desa Hewa, khususnya Poktan Rii Anak dan Poktan Rinjani, beralih dari lahan kering ke lahan persawahan sejak tahun 2016. Sebagian dari lahan tidur dan lahan kering seluas 40-an hektare kini oleh petani Poktan Rii Anak dan Poktan Rinjani “disulap” menjadi lahan padi persawahan yang menjanjikan.

Kala itu, mereka adalah petani padi sawah awam yang baru saja memulai. Namun, model dan pola pertanian yang dikembangkan sangat menjanjikan, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan ketersediaan pangan maupun peningkatan ekonomi.

Anggota Poktan Rii Anak lainnya, Matheus Boli Uran (40), dan Ignasius Ama Uran (39), kepada Flores Pos menceriterakan kisah awal membuka lahan dan mulai menanam padi di sawah. Mereka mengaku mengalami kesulitan dan penuh keraguan-raguan, karena sejak nenek moyang, mereka dan masyarakat lainnya hanya menanam padi atau jagung dan tanaman lain di lahan kering. 

Matheus Boli dan Ignasius Uran mulai menanam padi di lahan sawah pada tahun 2016 atau setelah Pemerintah Flotim membangun saluran irigasi. Hal pertama yang dilakukan para petani saat itu adalah mencetak lahan kering menjadi petak-petak dan pematang sawah. Selanjutnya membersihkan dan menanam padi di sawah yang baru dibuka tersebut.

“Biasanya kami hanya bersihkan lahan/kebun lalu tunggu hujan dan mulai menanam. Tunggu sampai padi mulai tumbuh, kami masuk kebun bersihkan rumput-rumput pengganggu padi dan setelah itu tunggu waktu panen. Ini kebiasaan kami di lahan kering. Saya tidak mengerti mengola sawah, apalagi tanam padi di sawah yang setiap hari ada air di petak sawah,” kata Matheus Boli.

“Ketika ke lahan sawah sedikit berbeda. Pekerjaan berat saat awal cetak sawah. Berat sekali. Selanjutnya sudah tidak terlalu berat lagi. Sekarang, saya petani padi sawah. Hari ini saya panen padi di lahan yang saya buka beberapa tahun lalu,” tambah Ignasius Uran yang hari itu dibantu anggota Poktan Rii Anak lainnya memanen padi di lahannya.

Awal beralih dari lahan kering ke sawah pada tahun 2016, Matheus Boli, Ignasius Uran, dan para petani lainnya tidak mengerti pola tanam dan merawat padi di lahan sawah, sehingga hasil panen tidaklah begitu banyak, apalagi soal kualitas padi yang dihasilkan. Namun, kini setelah melalui tahapan awal yang berat, para petani mengaku telah merasakan ada sebuah perubahan dan peningkatan pada hasil panen.

“Awalnya saya hanya cetak 3 petak. Saya cetak sawah hanya menggunakan cangkul. Sekarang sudah ada bantuan traktor dari Pemerintah. Saya merasa berat dan sulit memulai karena biasa di lahan kering. Saya terus mencoba dan hasilnya baik. Panen berlimpah. Selanjutnya hasil panen akan saya jual langsung ke BUMDes Hewa,” kata Matheus Boli.

Pengalaman Matheus Boli dan Ignasius Uran, diungkap anggota Poktan Rii Anak lainnya, Sisilia Somi Ipir (63), Bernadethe Baba Uran (50) dan Ani Soge (40) dari Poktan Rinjani. Para perempuan tangguh ini mengaku bersyukur karena sudah bisa mengolah sawah dan hasil panen padi mengalami peningkatan.

“Luas lahan kering milik saya 1 hektare lebih. Panen sekali setahun hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan disimpan untuk musim tanam tahun berikut,” kata Sisilia Ipir sambil menambahkan. “Saya tanam padi lahan kering setahun sekali. Tergantung musim hujan. Tanam padi di sawah setahun bisa dua kali, bahkan tiga kali, dan hasilnya lumayan,” katanya.

“Sekarang 1 petak sawah saya bisa panen lebih dari 3 karung, sehingga bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, persediaan tanam berikutnya dan jual ke masyarakat lainnya. Panen berikutnya saya jual di BUMDes Hewa dengan harga Rp 10.000 per kilogram,” kata Sisilia Ipir.

Sekolah Lapangan

Beralihnya petani Desa Hewa dari menanam padi di ladang kering ke padi persawahan tidak lepas dari campur tangan dan kerja besar Ayu Tani. Dalam kerja pendampingannya, Ayu Tani bermitra dan bekerja sama dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), sebuah organisasi yang dibentuk oleh organisasi petani, Ornop, dan Jaringan Ornop yang peduli terhadap masalah pangan dan pertanian.

Ayu Tani, melalui timnya di Kabupaten Flotim yang dipimpin Thomas Uran dan tiga staf lainnya turun ke lapangan untuk melakukan berbagai pendekatan dengan petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), BUMDes Desa Hewa dan Pemerintah Desa Hewa.

“Tujuannya mendampingi dan memfasilitasi kelompok tani yang sudah mulai beralih dari lahan kering ke lahan sawah untuk perluasan lahan, pengembangan, produktivitas padi dan pemasaran bersama. Semua diterima baik dan terus berjalan hingga saat ini,” kata Staf Lapangan, Mikhael Mamang Puka.

Mikhael Mamang Puka dan rekannya bertemu petani. Mereka mengimput berbagai keluhan dan masalah yang dialami petani setempat terutama pola tanam, merawat, memanen, benih, pupuk dan mengatasi hama penyakit. Lalu bersama para petani, mereka sepakat untuk menimbah tambahan ilmu dan pengetahuan mengenai mengelola dan mengembangan lahan persawahan.

“Kita kerja sama dengan KRKP, lalu kita buat Sekolah Lapangan dengan para petani. Kami mencoba padukan masalah-masalah yang dialami para petani dibantu KRKP dan PT Wish Indonesia. Saat sekolah lapangan, kami buat kebun contoh dengan beberapa benih padi dan obat-obatan dari mitra kerja dan kalender kerja. Pada kegiatan tersebut, kami undang Pemdes Hewa, PPL dan lainnya,” kata Mikhael Puka.

Sekolah Lapangan tersebut berlangsung pada Februari 2020. Petani Poktan Rii Anak dan Poktan Rinjani mendapatkan pendidikan dan pembelajaran serta pendampingan hingga uji coba benih dan pupuk organik. Benih dan obat-obatan yang didatangkan oleh KRKP dan mitra kerjanya yang digunakan selama Sekolah Lapangan tersebut, menurut para petani, sangat cocok di lahan persawahan Desa Hewa.

Pada Juni 2020, kata Mikhael Puka, sawah percontohan dari Sekolah Lapangan tersebut dipanen untuk pertama kalinya. Melihat hasil panen perdana itu, petani setempat semakin bersemangat dan kini pertanian khusus padi persawahan Desa Hewa terlihat semakin menggeliat.

“Sekolah Lapangan yang kami dapat sangat bermanfaat dan membantu petani. Begitu banyak hal yang kami dapatkan dari Sekolah Lapangan. Kami belajar pola tanam, merawat, memupuk dan mengatasi hama. Kami uji coba benih padi IF 8, IF 17, Galur 88, dan obat-obatan pertanian. Padi yang ditanam berhasil, baik kualitas maupun kuantitasnya,” kata Yosef Benyamin, yang mengaku kini sudah memiliki 10 petak dari sebelumnya hanya 3 petak sawah.

“Kami bersyukur bisa dapat pengalaman dan pengetahuan mengenai mengelola dan mengembangkan lahan sawah dari Sekolah Lapangan tersebut. Selama ini kami hanya tahu tanam padi di lahan kering sehingga banyak hal di sawah kami tidak tahu,” kata Matheus Boli Uran menambahkan.

Para petani Poktan Rii Anak dan Poktan Rinjani mengakui, hasil panen padi di persawahan yang digarap mereka sekarang telah mengalami peningkatan, dan hal ini membuat mereka semakin bersemangat. Para petani mengharapkan Ayu Tani, KRKP, dan mitra PT. Wish Indonesia terus mendampingi mereka hingga sukses terutama dalam mengelola, mengembangkan, dan memasarkan hasil panen.*