Home Opini Polisi (Sebenarnya) Mampu Bekerja Mudah

Polisi (Sebenarnya) Mampu Bekerja Mudah

Ungkap Dugaan Pembunuhan Ansel Wora

1,193
0
SHARE
Polisi (Sebenarnya) Mampu Bekerja Mudah

Keterangan Gambar : Steph Tupeng Witin, Perintis Oring Literasi Soverdi Bukit Waikomo, Lembata.

Ketenangan dan kedamaian yang murni hanya akan terwujud ketika polisi berani dan mampu menegakkan kebenaran dan keadilan dalam proses hukum kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap Ansel Wora.

Kematian Staf Dinas Perhubungan Kabupaten Ende, Ansel Wora di Pulau Ende pada 30 Oktober 2019 lalu masih menyimpan misteri di tangan penyidik Kepolisian Resor Ende dan penyidik Polda NTT. Awalnya, tim penyidik menghadirkan angin segar bahwa kasus kematian yang sadis ini akan terungkap.

Bahkan polisi telah memastikan bahwa proses pengungkapan kasus ini telah mencapai level 90 persen sehingga keluarga mengizinkan kubur almarhum dibuka untuk autopsi. Artinya, autopsi hanya mampu mengumpulkan 10 angka lagi untuk mencapai angka kesempurnaan pengungkapan kasus ini yaitu 100 persen.

Baca juga: Kita Dukung Kinerja Polres Ende

Tetapi hingga detik ini, hasil autopsi yang hanya menyisakan 10 angka itu belum juga terungkap ke ruang publik. Publik sangat pantas mempertanyakan profesionalisme kerja kepolisian dalam autopsi ini. Apakah polisi kehilangan keberanian mengungkap fakta yang benar karena kasus ini diduga kuat melibatkan elite besar di Kabupaten Ende?

Fakta yang lebih mengherankan adalah sampai detik ini, polisi belum juga menetapkan status tersangka terhadap 40-an saksi yang telah diperiksa oleh penyidik Polres Ende dan Polda NTT.

Rakyat Ende sangat mengharapkan agar kasus ini tidak menjadi api dalam sekam yang bisa saja memunculkan tegangan dan konflik berkepanjangan yang akan sangat menguras energi dan kontra produktif dengan pelaksanaan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Ende. Ketenangan dan kedamaian yang murni hanya akan terwujud ketika polisi berani dan mampu menegakkan kebenaran dan keadilan dalam proses hukum kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap Ansel Wora.

Polisi mesti bekerja dengan jujur, berani, dan independen mengumpulkan fakta untuk mengungkap misteri kematian Ansel Wora demi mengonfirmasi berbagai cerita mulut, desas-desus, dan isu-isu seputar kasus ini yang jika dibiarkan bergulir liar di ruang publik tanpa dikendalikan melalui proses hukum yang benar dan adil, akan memuntahkan bara konflik yang lebih parah.

Publik tetap berharap bahwa polisi “tidak main mata” dengan “kekuasaan” untuk memetieskan kasus ini karena dampak sosialnya sangat tinggi yang bisa menghadirkan masalah baru lagi dan menginvestasi kerusakan relasi sosial yang lebih parah.

Ada Apa dengan Penegak Hukum?

Institusi kepolisian sesungguhnya dihadirkan oleh negara untuk menegakkan kebenaran dan keadilan hukum bagi segenap warga negara. Ketika warga negara menghadapi ketidakadilan dalam konteks apa pun, polisilah yang menjadi benteng keadilan bersama institusi lain seperti kejaksaan dan pengadilan. Ketika institusi yang rakyat percaya akan menghadirkan keadilan itu tidak menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara paripurna, maka rakyat akan frustrasi dan mengekspresikan kegelisahan dengan cara dan logikanya sendiri.

Dalam kasus kematian tragis Ansel Wora di Pulau Ende, keluarga, media, dan rakyat luas sudah sangat membantu polisi dengan memberikan informasi yang menjadi titian bagi polisi untuk menginvestigasi kasus ini lebih intens. Banyak penyidik di kepolisian yang memiliki hati nurani terjaga dan bekerja sungguh-sungguh untuk membuka tabir gelap kasus-kasus kriminal tetapi selalu mentok di tangan “atasan” yang lebih memilih posisi aman dalam jejaring relasi dengan “kekuasaan” yang bisa saja menjadi target dari penyelidikan. Tentu saja, relasi itu tidak ada istilah “makan siang gratis.”

Baca juga: Keluarga Berharap Hasil Autopsi Tidak Dibelokkan

Banyak oknum elite di institusi penegak hukum selalu menjadi “batu sandungan” bagi aparat bawahan yang ingin bekerja independen bagi rakyat yang mencari keadilan. Alhasil, aparat bawahan hanya gigit jari karena elite institusi penegak hukum pun memiliki jejaring dengan elite di atasnya yang menjadi kiblat upeti untuk menutupi kasus sekaligus melindungi dugaan kejahatan yang mungkin saja dilakukan elite kekuasaan birokrasi dengan menggunakan perpanjangan tangan anak buah yang suka “pasang badan.”

Kita menduga, aparat bawahan yang pasang badan ini memang tak berpendirian dari aslinya atau mendapatkan jaminan yang luar biasa. Dalam kasus kematian sadis Ansel Wora, pertanyaan yang mengganggu kesadaran adalah apakah masuk akal seorang sopir pribadi EB 1 atas nama Acan bisa menghabisi nyawa seorang staf kecil bernama Ansel Wora? Orang Ende mengenal Ansel Wora sebagai sosok pendiam, sederhana, dan tidak ada masalah dengan orang lain. Mengapa Acan berulang kali mengajak korban ke Pulau Ende?

Kalau benar bahwa Ansel Wora mengalami kecelakaan saat memperbaiki mobil DAK di Pulau Ende yang juga sangat bermasalah tetapi belum tersentuh tangan polisi, mengapa Acan dan teman-temannya yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan ini tidak pernah memberi informasi kepada keluarga atau minimal istri almarhum Ansel Wora?

Bahkan hingga jenazah dimasukkan ke dalam tanah dan kemudian digali lagi untuk autopsi pun, Acan, sopir EB1 dan Ishak, staf Dishub yang menjemput almarhum di rumahnya, tidak pernah memberikan informasi apalagi mendatangi rumah almarhum untuk menceritakan fakta sebenarnya?

Rakyat akan makin heran ketika polisi, entah dengan keahlian dari langit mana bisa menyimpulkan begitu mudah, sederhana, dan remeh-temeh bahwa Ansel Wora meninggal karena kecelakaan kerja murni? Profesionalisme itu mesti ditunjukkan dengan data dan fakta yang valid dengan sederet argumentasi investigatif yang masuk akal.

Banyak kasus membuktikan bahwa omongan polisi dalam kasus-kasus kriminal hanya bersandar pada “kewenangan” dan “kekuasaan” yang sesungguhnya menarasikan kelemahan argumentasi hukum yang merupakan akibat dari ketidakmampuan melakukan investigasi lapangan secara benar, terukur, dan independen.

Tidak Sulit

Kalau kita membaca kronologi kasus kematian Ansel Wora, sesungguhnya penyidik Polres Ende dan Polda NTT tidak terlalu sulit untuk mengungkap aktor kelas teri dan kakap yang mendalangi dugaan pembunuhan ini. Suara publik akan makin menggelegar dan desakan keluarga bersama aktivis kemanusiaan akan kian memuncak ketika polisi makin mengulur waktu penyelesaian proses hukum atas kasus ini.

Masa setiap kali polisi menjawab, “masih dalam proses” terus menerus?” Proses hukum harus menghadirkan kepastian. Polisi harus bekerja keras untuk mengubah ketidakpastian dan misteri menjadi kepastian dalam konteks penegakan hukum. Kalau polisi terus saja mengulur waktu berarti bisa disimpulkan bahwa polisi tidak berani (tentu saja banyak alasan) atau kemampuan polisi di bawah standar yang normal.

Orang yang kemampuannya di bawah standar memang paling gampang “diatur” oleh orang lain. Tentu saja hal ini tidak terjadi pada aparat penyidik Polres Ende dan penyidik Polda NTT yang menangani kasus kematian Ansel Wora karena baju dinasnya dilabeli banyak atribut pangkat, sekolahnya tinggi-tinggi, masuk polisi juga butuh ongkos sangat mahal, lekak lekuk badannya berotot semua sehingga rasa takut menjadi hilang saat menerima demonstrasi warga yang menuntut keadilan.

Baca juga: Tim Labfor Polda Bali Mengautopsi Jenazah Ansel Wora

Pada awal tahun 2020 ini, rakyat berharap agar polisi benar-benar bekerja independen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dalam konteks penegakan hukum kasus kematian Ansel Wora. Darah almarhum yang tertumpah di Pulau Ende, dalam perahu motor dari Pulau Ende menuju pinggir laut di Kota Ende, dan dalam mobil pick up yang keluar dari rumah elite-agung Ende menuju RSUD Ende, tidak akan diam begitu saja. Darah itu akan terus berteriak dan mencari siapa pun yang menumpahkannya dan berusaha menutup-nutupi kasus kemanusiaan ini.

Kita boleh bersandiwara di atas dunia ini dengan sederet dalih pembenaran untuk selamatkan diri dan secuil jabatan hasil “bola muntah” tetapi darah almarhum Ansel Wora akan terus berteriak memanggil-manggil siapa pun yang menyentuh tubuhnya dan menutupi kasus ini. Kasus dugaan pembunuhan Lorens Wadu di Lembata telah membuktikannya.

Oleh Steph Tupeng Witin, Perintis Oring Literasi Soverdi Bukit Waikomo, Lembata.