Home Ende Refly Harun Gelisah, Negara Cenderung Antikritik

Refly Harun Gelisah, Negara Cenderung Antikritik

- Kuliah Umum di Universitas Flores, Ende

184
0
SHARE
Refly Harun Gelisah, Negara Cenderung Antikritik

Keterangan Gambar : Refly Harun memberikan kuliah umum di Universitas Flores, Ende, Sabtu, 26 Oktober 2019.

 

"Kalau benar, kita katakan benar. Tetapi, kalau salah, Jokowi harus dikritik. Ada yang benar dari Presiden Jokowi, tetapi menurut saya ada juga yang salah. Setiap manusia pasti ada benar dan salahnya. Tidak ada manusia yang sempurna,” - Refly Harun, Ahli Hukum Tata Negara dan Pengamat Politik.


Pengamat politik dan ahli Hukum Tata Negara, Refly Harun, mengungkapkan kegelisahannya ketika membawakan kuliah umum di Auditorium H. J. Gadi Djou, Universitas Flores, Sabtu (26/10). Refly mengaku gelisah karena negara tampak mulai memakai pendekatan ancaman terhadap kelompok yang mengganggu Pancasila. Ada kecenderungan negara antikritik. Pendekatan ancaman itu, menurut Refly, tidak sesuai dengan falsafah dasar Demokrasi Pancasila Indonesia.

Selain itu, Refly juga mengaku gelisah lantaran negara cenderung menyalahkan kelompok masyarakat sipil ketika berhadapan dengan isu radikalisme. Masyarakat sipil disalahkan, bahkan sampai dilakukan deradikalisasi.

Akan tetapi, pada saat yang sama, kata Refly, para pemimpin hanky-panky dalam berbisnis dan melakukan tindakan korupsi. Seharusnya, kata Refly, para pemimpin tidak boleh korupsi agar masyarkat tidak gusar. Refly mengemukakan pendapatnya ini ketika ditanyai oleh Fatmawaty, salah seorang peserta kuliah umum tersebut, terkait penanggulangan radikalisme di Indonesia.

Seharusnya, kata Refly, korupsi dihentikan dahulu dan negara tidak boleh hanya menyalahkan masyarakat sipil. Refly berharap agar negara berlaku seperti bapak keluarga yang siap menghadapi apa pun tingkah laku anaknya dan memperlakukan anaknya dengan kasih.

“Kalau ada warga negara yang terpapar ISIS, negara tidak boleh langsung bertindak sesuai keinginan kelompok lainnya, yakni diusir dari Indonesia. Itu cara yang keliru. Yang benar adalah selamatkan dia agar dia tidak terbunuh karena dia adalah warga negara Indonesia yang berhak atas perlindungan negara,” kata Refly.

Meskipun bersalah, lanjut Refly, negara tidak boleh langsung mencabut kewarganegaraanya. Negara itu welas asih tanpa mengabaikan ketegasan. Kenyataannya, malah ada yang menghendaki agar orang yang terpapar ISIS itu diusir dan orang yang tidak percaya Pancasila diancam.

Negara menunggang dan ditunggang

Refly juga mengatakan, kegelisahan terjadi karena negara menunggangi kelompok tertentu untuk menghantam kelompok lain dan/atau negara ditunggangi kelompok tertentu untuk menghantam kelompok yang lain.

“Negara tidak boleh menggunakan kelompok masyarakat tertentu untuk menghadapi kelompok masyarakat lain. Selain itu, negara juga tidak boleh membiarkan dirinya digunakan oleh satu kelompok masyarakat tertentu untuk menghantam kelompok masyarakat lain. Ini kegelisahan saya,” kata Refly. 

Akan tetapi, Refly tidak merincikan lebih lanjut seperti apa persisnya kasus tunggang menungangi itu. Wartawan Flores Pos pun tidak sempat meminta penjelasan lebih lanjut terkait pernyataan tersebut.

Jangan berpikir dikotomis

Refly mengharapkan agar masyarakat tidak berpikir dikotomis, yakni agama lebih baik dari Pancasila. Agama dan Pancasila punya kavlingnya masing-masing. Ajaran agama itu untuk diyakani dan diresapi. Kalau ada perbedaan keyakinan dan kebudayaan, maka Pancasila menjadi bahasa perantara antarorang yang berbeda keyakinan dan kebudayaan. Pancasila adalah dasar hidup bersama, kata Refly.

Menurutnya, setiap penganut agama mestinya menempatkan agamanya sebagai yang terbaik dan pantas untuk dianut, dan tidak perlu membandingkannya dengan agama lain. Kalau satu agama dibandingkan dengan agama lain, lanjut Refly, pasti agama yang lain akan marah. Karena itu, setiap agama harus memikirkan dirinya sebagai yang terbaik dan tidak perlu merendahkan agama lain.

“Kalau setiap suami ditanya siapa wanita yang paling cantik, barangkali mereka akan mengatakan istrinya. Kecantikan masing-masing istri tidak boleh dikontestasikan dengan istri tetangga. Kalau dikontestasikan dengan istri tetangga, istri tetangga pasti marah dan istri sendiri juga pasti marah. Begitu pun dengan agama. Agama layak diperistrikan karena dipandang yang terbaik dan tidak boleh dibandingkan dengan agama lain,” kata Refly.

Mengidolakan, tetapi tetap kritis

Refly mengharapkan agar masyarakat tetap kritis ketika mengidolakan seseorang, apalagi yang diidolakan itu adalah seorang kaum intelektual. Refly, misalnya, menyinggung perdebatan kritis para intelektual terkait penetapan Soekarno dan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Masyarakat diharapkan tetap bersikap kritis ketika mengidolakan seseorang.

“Demikian juga dengan Presiden sekarang. Kalau benar, kita katakan benar. Tetapi, kalau salah, Jokowi harus dikritik. Ada yang benar dari Presiden Jokowi, tetapi menurut saya ada juga yang salah. Setiap manusia pasti ada benar dan salahnya. Tidak ada manusia yang sempurna,” tutup Refly.

Oleh Martinus Jemarut

Editor: Amandus Klau