Home Opini Roh Kebangsaan dan Pandemi Covid-19

Roh Kebangsaan dan Pandemi Covid-19

Oleh R. Nova Gora / Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta

3,153
0
SHARE
Roh Kebangsaan dan Pandemi Covid-19

TANGGAL 1 JUNI, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila dimulai saat Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Selanjutnya, 1 Juni 2017 ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Peringatan Hari Lahir Pancasila merujuk pada pidato Soekarno tentang dasar negara dalam Sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Dasar negara yang diajukan Soekarno adalah kebangsaan Indonesia, perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan.

Soekarno menyebut lima prinsip itu Pancasila. Panca artinya lima, sila artinya asas atau dasar, dan di atas lima dasar itulah Negara Indonesia dibangun. Lima prinsip itu dapat diperas lagi menjadi trisila, yaitu kebangsaan yang berperikemanusiaan (sosio-nasionalisme), demokrasi yang berkeadilan sosial (sosio-demokrasi), dan ketuhanan yang berkebudayaan. Trisila dapat diperas lagi menjadi ekasila, yaitu gotong royong.

Baca juga: Efek Zeigarnik dan Etos Kerja

Bagi Soekarno, gotong royong merupakan intisari Pancasila sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku bersama dalam kehidupan bernegara. Dengan kata lain, dasar dari semua sila dalam Pancasila adalah gotong royong. Karena itu, Negara Indonesia haruslah negara gotong royong, dan gotong royong itu merupakan roh kebangsaan.

Soekarno mengatakan, “Gotong royong adalah paham dinamis, lebih dinamis daripada kekeluargaan. Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, dan satu pekerjaan. Gotong royong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membatu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holupis-kuntul-baris buat kepentingan semua! Itulah gotong royong!” (Yamin, 1959).

Dalam kemajemukan karakter masyarakat Indonesia, gotong royong itu tercermin dalam sikap tolong-menolong dengan semangat kooperatif, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, mementingkan kemaslahatan umum tanpa sekat identitas, tidak merasa benar sendiri, dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah dan mufakat.

Gotong Royong, menyitir Yudi Latif (2018), merupakan level tertinggi dari proses adaptasi manusia Indonesia dalam mengarungi tantangan seleksi kehidupan, dari makhluk individu dengan kecenderungan simpanse (selfish) menjadi makhluk sosial dengan kecenderungan lebah (groupish).

Baca juga: Covid-19 dan Darurat Lingkungan

Dalam arti ini, gotong royong merupakan roh kebangsaan yang mengobarkan semangat senasib sepenanggungan; bukan yang satu untung, yang lain buntung.

Membangkitkan Roh Kebangsaan

Munculnya tagar #IndonesiaTerserah di media sosial akhir-akhir ini merupakan kritik dan protes terhadap sikap negeri yang kurang bergotong royong dalam menghadapi covid-19. Protes terhadap ketidaktaatan dan pembangkangan sebagian masyarakat yang menyepelekan protokol kesehatan dan mengentengkan wabah covid-19. Hal itu tampak pada masyarakat yang masih suka berkumpul dan tidak menjaga jarak. Protes bagi setiap orang yang tidak menghargai pengorbanan para medis yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan pasien-pasien yang terinfeksi covid-19. Protes bagi semua orang yang menjadikan wabah yang mengobrak-abrik perekonomian negara ini sebagai ajang mendulang dan mencari keuntungan pribadi dan golongan. Dan, bisa jadi protes terhadap kebijakan pemerintah yang kurang terkoordinasi dengan baik dan kurang kompak.

Berhadapan dengan wabah covid-19 yang makin merajalela dengan korban yang terus bertambah, mengobarkan kembali semangat gotong royong sebagai roh kebangsaan makin mendesak. Apalagi sampai saat ini vaksin atau obat untuk menangkal virus mematikan tersebut belum ditemukan. Karena itu, seluruh masyarakat Indonesia harus membangkitkan kembali semangat gotong royong sebagai senjata pamungkas untuk melawan serangan virus ini.

Sebelum semuanya ambyar, perlawanan harus dilakukan secara serentak oleh semua orang, bukan hanya oleh pemerintah dan tenaga kesehatan. Semua elemen masyarakat Indonesia, apa pun profesinya, perlu melihat covid-19 yang masih jauh dari usai ini sebagai tanggung jawab bersama. Semua orang perlu berjuang sesuai dengan perannya masing-masing.

Baca juga: Hari Buku, Perpustakaan, dan Budaya Membaca

Pemerintah perlu bekerja sama dengan solid, konsisten, dan memiliki kebijakan yang terkoordinasi dengan baik. Memang di tengah situasi yang kompleks seperti saat ini, mengambil kebijakan yang tepat tidaklah mudah. Meskipun begitu, kebijakan pemerintah yang kurang konsisten dan kurang terkoordinasi dengan baik bisa mengakibatkan pengabaian dari masyarakat.

Akademisi, LSM, tokoh agama, dan tokoh masyarakat perlu bergotong royong melakukan berbagai upaya, seperti promosi kesehatan yang berkesinambungan secara lintas sektoral dan lintas disiplin. Media massa perlu menyajikan informasi berbasiskan fakta, bukannya disinformasi dan hoaks yang mencemaskan masyarakat.

Dari pihak masyarakat, gotong royong dalam mencegah penyebaran covid-19 bisa ditunjukkan dengan tindakan saling menjaga jarak dan tidak keluar rumah apabila tidak ada kebutuhan yang mendesak.

Selain itu, masyarakat juga harus gotong royong membantu masyarakat yang kesulitan ekonomi akibat wabah ini. Setiap orang, khususnya mereka yang berkecukupan, harus ikhlas membantu orang lain tanpa pandang bulu. Sebab, orang yang menderita pada situasi ini tidak hanya orang yang terdampak secara medis, virologis, dan sosial, tetapi secara ekonomi.

Bung Karno pernah mengingatkan, “Apa guna grondwet kalau ia tidak dapat mengisi perut orang yang hendak mati kelaparan. Maka karena itu, kalau kita mendasarkan betul-betul negara kita kepada paham kekeluargaan, paham tolong-menolong, paham gotong royong, dan keadilan sosial, enyahkan tiap-tiap pikiran, tiap-tiap paham individualisme, dan liberalisme dari padanya” (Yamin, 1959).

Persoalan covid-19 ini sangat kompleks dan tidak mungkin dipikul sendirian. Menjadi lebih ringan ketika melibatkan semua orang. Gotong royong merupakan modal sosial yang mampu menemani negeri ini melewati masa-masa sulit.

Sejarah politik Indonesia sejak kemerdekaan hingga saat ini telah membuktikan itu bahwa bangsa Indonesia sangat tangguh menghadapi berbagai krisis. Dalam perjalanan berbangsa dan bernegara, berbagai persoalan mulai dari krisis ideologi menyusun filosofi negara dan konstitusi, krisis 98, hingga setelah reformasi, khususnya anarki sosial dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019, semua dapat diatasi berkat nilai-nilai luhur yang disepakati oleh pendiri bangsa, yakni Pancasila.

Akhirnya, dari wabah covid-19 ini masyarakat Indonesia dapat menimba pelajaran atas pentingnya merawat spirit gotong royong sebagai roh kebangsaan dalam hidup berbangsa dan bernegara.*