Home Opini Rumah: Zona Nyaman Pendidikan

Rumah: Zona Nyaman Pendidikan

Oleh Elias Making / Guru Kepse SMPN 1 Ile Ape Timur, Lembata

1,129
0
SHARE
Rumah: Zona Nyaman Pendidikan

Keterangan Gambar : Elias Making

Rumah sebagai ruang kelas utama selama musim pandemi ini mesti berbenah agar anak-anaknya betah belajar dan mengerjakan tugas baik secara manual maupun online.


PANDEMI COVID-19 telah menjadi bencana global yang mengubah pola hidup. Alur hidup manusia dipaksa untuk berubah. Sebuah virus yang tak tampak kasat mata menjadi sangat berbahaya bagi kelanjutan hidup segenap manusia.

Semua aspek kehidupan manusia berubah total. Rutinitas harian dalam semua dimensi hidup terhenti. Langkah hidup manusia di atas dunia ini tertatih dalam ketakutan yang akut terhadap kekuatan virus yang berdaya mematikan dalam sekejap ini.

Baca juga: Hari Buku, Perpustakaan, dan Budaya Membaca

Manusia pun tersadar bahwa hidupnya sedang diintai oleh covid-19 yang akan menggerogoti tubuhnya kapan saja hingga tak berdaya. Ketakutan begitu menguasai dunia yang dalam sekian dekade mengalami perkembangan yang dahsyat dalam semua aspek kehidupan. Kemajuan teknologi dan peradaban khususnya dalam bidang kesehatan seolah tidak ada daya lagi. Pemerintah di seluruh dunia bersama dunia usaha mulai memikirkan ulang bagaimana merehabilitasi hidup dan peradabannya.

Pendidikan sebagai salah satu elemen urgen dalam peradaban melakukan perlawanan kreatif terhadap kehadiran dan ancaman pandemi ini. Kemapanan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah akhirnya terhenti. Sekolah sebagai zona nyaman pendidikan selama ini akhirnya terputus. Proses pendidikan tidak lagi menjadikan ruang-ruang kelas sebagai pusat transformasi.

Peserta didik kembali ke rumah, institusi pendidikan paling utama yang selama ini paling kerap terabaikan. Orangtua kembali menjadi pendidik utama yang sebenarnya.

Rumah sebagai ruang kelas utama selama musim pandemi ini mesti berbenah agar anak-anaknya betah belajar dan mengerjakan tugas baik secara manual maupun online. Rumah menjadi medium bagi anak-anak untuk memaknai teknologi informasi sebagai sarana pendidikan.

Perubahan drastis ini memakan energi dan biaya yang tidak kecil. Tetapi kesadaran akan pentingnya pendidikan mesti memenangkan pertempuran melawan pandemi ini. Covid-19 menjadi ujian paling krusial bagi keluarga-keluarga untuk lebih memaksimalkan perannya sebagai pendidik yang utama. Perubahan ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan bisa berlangsung di mana saja dan kapan saja (Bisnis.com, 2/5/2020).

Baca juga: Menyelisik Belajar dari Rumah dalam Kepungan Corona

Pandemi ini pun mengubah peran pendidik atau guru dalam proses pendidikan. Guru tidak lagi berdiri di depan kelas untuk mengajar peserta didik. Teknologi komunikasi dan informasi menjadi medium untuk menyatukan guru dan murid dalam seluruh proses pendidikan. Komunikasi antara guru dan peserta didik tetap terjaga meski mesti menggunakan layar komputer dan laptop.

Bahkan di beberapa daerah terpencil yang jauh dari jangkauan kemajuan teknologi informasi, guru mendatangi murid di rumah walau tetap menjaga jarak sesuai protokol covid-19. Ketika guru dan murid menjaga kesehatan pada masa yang serba sulit ini, proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.

Saya berpikir bahwa dalam proses pendidikan, selain pentransferan ilmu berlangsung, kedekatan emosi sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan.

Mesti Kreatif

Perubahan terkait proses pendidikan ini mesti membangkitkan kreativitas guru, orangtua dan peserta didik. Kreativitas adalah salah satu dimensi utama dalam gagasan besar pendidikan Mendiknas Nadiem Makarim. Pendidikan mesti melahirkan kreativitas dalam cara berpikir dan berkarya sebagai persiapan dalam hidup masa depan. Tanpa kreativitas, hidup akan berhenti, apalagi di tengah tantangan kemajuan zaman yang menuntut kemandirian dalam cara pikir dan pola bertindak.

Baca juga: Literasi, Gerbang Keberanian Berpikir

Guru, misalnya, tidak lagi terpaku pada bahan ajar yang tercetak rapi di dalam lembaran kurikulum tetapi mesti menyesuaikan dengan realitas peserta didik. Materi pelajaran mesti lebih kontekstual yaitu sesuai dengan kenyataan ruang belajar para murid di rumah yang tentu berbeda untuk setiap orang sesuai taraf ekonomi dan aspek hidup lain.

Guru mesti lebih kreatif dalam menghadirkan pelajaran bagi para murid agar mereka tidak merasa terasing dari “lingkungan pendidikan baru.” Peserta didik dituntun guru untuk memasuki “dunia hidup” yang konkret. Tugas-tugas sekolah mesti lebih melecut energi kreativitas peserta didik agar tidak menghadirkan kejenuhan. Guru mesti mengajak murid agar lebih peka pada kenyataan sekitar yang menjadi inspirasi bagi gagasan kreativitasnya.

Sementara itu, orangtua menjadi sahabat paling dekat yang dapat membantu proses pendidikan anaknya sendiri. Tanggung jawab orangtua sebagai pendidik utama mendapatkan jawaban realisasinya. Kreativitas orangtua pun menjadi sebuah tuntutan yang berlangsung secara alamiah.

Suasana rumah mesti diciptakan sebagai “ruang kelas” yang membuat anak betah. Aturan hidup perlahan ditegakkan kembali. Jam-jam belajar, rekreasi, dan aktivitas lain mulai diatur.

Proses pendidikan selama masa pandemi ini akan menuai sukses ketika peserta didik, orangtua, dan guru bersinergi secara positif dan kreatif. Orangtua menjadi guru konkret bagi murid yang adalah anaknya sendiri.

Utamakan Kesehatan

Di tengah gencarnya pemberitaan terkait momen pembukaan sekolah, segenap elemen mesti lebih arif membaca kenyataan pandemi ini (Kompas, 10/5/2020). Keselamatan dan kesehatan harus menjadi aspek prioritas dalam kebijakan negara. Desakan untuk kembali ke sekolah sebagai zona nyaman pendidikan mesti dipertimbangkan secara matang. Proses pendidikan hanya akan berhasil ketika guru dan murid berada dalam kondisi yang sehat dan jauh dari bayang-bayang ketakutan.

Baca juga: Non Scholae, Sed Vitae Discimus: Belajar pada Sistem Pendidikan di Finlandia

Fakta sebaran virus covid-19 yang kadang tanpa gejala ini harus menjadi pertimbangan. Kita tidak berharap bahwa sekolah sebagai zona nyaman pendidikan justru menghadirkan mudarat bagi elemen pendidikan. Kekeliruan mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan keadaan darurat akan menjadi ruang penyebaran yang lebih masif lagi.

Pemerintah mesti lebih bijaksana dalam mengambil keputusan terkait pembukaan sekolah. Kekeliruan bisa menghadirkan masalah baru yang boleh jadi akan lebih memakan korban, terutama generasi masa depan bangsa.

Saat ini, anak-anak menjadi subjek yang paling rentan tertular virus corona ini. Pemerintah mesti insaf bahwa rumah telah menjadi zona nyaman pendidikan dalam momen darurat ini.

Dunia pendidikan membutuhkan kreativitas guru dan orangtua sebagai agen utama pendidikan pada masa pandemi ini untuk menyiapkan anak-anak menghadapi situasi pendidikan baru yang membuatnya makin peka memaknai esensi pendidikan sebagai proses pemberdayaan bakat dan potensi diri.

Dunia saat ini lebih membutuhkan manusia kreatif yang bisa bertahan hidup di dunia ini dalam situasi apa pun, terburuk sekalipun.*