Home Feature Sapardi dan Puisi yang Mampus

Sapardi dan Puisi yang Mampus

Oleh Ansel Deri / Orang Udik Penikmat Sastra

272
0
SHARE
Sapardi dan Puisi yang Mampus

Keterangan Gambar : Sapardi Djoko Damono


KALAU Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (80) masih hidup, ia akan menertawakan kami. Tinggal di kaki gunung dengan kawalan belukar yang masih perawan, teman kami adalah katak di sungai, ubi kayu (singkong), keladi, petatas dari kebun orangtua, dan panorama alam pegunungan nan eksotik.

Puisi dengan modal kata? Sabar dulu. Biarkan kami anak laki berdeklamasi dengan baju disisip dengan celana sobek di bawah selangkangan. Atau rok teman-teman sesama anak kampung yang dijahit dengan benang hasil pintal ibu-ibu mereka.

Nikmat? Tentu. Tetapi, jangankan Chairil Anwar atau Idrus, nama "tuan tanah" di jagad sastra, tuan Sapardi pun tak akan ambil pusing dengan kami. Kalaupun mereka tahu kami anak-anak tengah berdeklamasi ria di bawah hawa gunung yang manja, mungkin hanya sebait doa mereka yang rapuh di sunyi puisi dari Jakarta, kota bertabur beton. Kami hanya berdeklamasi. Bukan berpuisi.

Kok begitu? Ya, tak ada kata "puisi" yang membaptis omongan-omongan lisan rada seni yang indah. Puisi kami sudah mampus: kami "berpuisi" dengan gambar.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, gudang kata, adalah barang mewah tuan-tuan yang mengatur negara. Kami terpaut jauh. Sejauh langit dan bumi; bumi, tanah leluhur tempat kami pijak nun di lereng.

Kata yang segera menjadi puisi telah lama mampus. Puisi sudah lapar dan lama mati di tengah sunyi: dibalut rimba lereng. Ia mati tetapi tidak (mati) dalam batok kepala kami yang telah penuh dengan gizi ubi kayu, bunga dan daun pepaya dari ladang bapak dan ibu kami. Otak kami sudah menyatu dengan katak di sungai yang mengalir di lekuk alam yang masih perawan.

Puisi mati tetapi ia suci dan bertahan dalam benak kami. Ia beranak pinak dalam wajah ubi kayu, pisang, katak, dan daunan hijau yang kami santap di ladang atau di bibir anak sungai, tak jauh dari kampung.

Kalaupun Sapardi, Chairil atau Idrus tahu kala itu, ia akan menyapa kami dari jauh: dalam puisi meski nantinya puisi juga jadi barang asing.

Mengapa? Kami punya sebatas satu ini: deklamasi. Pun musiman. Untung-untungan kalau guru kami membawa kami ke tengah lapangan lalu kata luruh seperti butiran jagung dari serbet ibu yang sudah kabur warnanya. Kemudian satu per satu disuruh deklamasi modal coretcoret guru di atas selembar kertas putih polos agar kata merasuk sukma yang sudah kebal dengan gizi dari dapur sederhana ibu.

"Tali celana kamu diikat kuat. Kalau saat berekspresi dalam deklamasi, celana kalian tidak melorot. Sayang kalau tali celana putus, ayahmu bisa pening. Kata-kata yang kita produksi adalah bahasa jiwa. Ia lentera batin melihat ke (dunia) luar," kata guru Bahasa Indonesia kala itu.

Puisi? Tak ada. Sekali lagi, puisi sudah (lama) mampus. Tetapi ia menjadi seperti orang suci, kudus dalam batin. Ia akan setia bekerja membasuh jiwa kita, jiwamu, kelak di mana pun ujung bumi kau pijak.

“Puisi akan jadi guru dalam setiap jejak tapak yang kau ciptakan,” katanya. Benar. Bersentuhan dengan Golgota, tempat tengkorak, dalam (baru belakangan setelah "deklamasi" bergeser) puisi di kota Timor, di atas batu karang dalam selembar koran lokal. Puisi (nama baru) menemui ruang edisi Minggu.

Menyebut penulis deklamasi takut dibilang ndeso, kampungan. Dibilang penyair terlalu tinggi setinggi Gunung Labalekan. Ya, mau dibilang apa, terserah! Tetapi jangan dibilang penyair! Terlalu berlebihan. Atau abai lebe lebe, kata orang Kupang.

Saya tidak di posisi itu. Pas kalau menyebut John Dami Mukese di tingkat lokal (sekadar menyebut satu nama) atau Sapardi, Chairil Anwar atau Idrus di level atas.

Kalau Sapardi, ya. Sapardi dalam hati saya tak lebih seorang pemangku ulayat "deklamasi", "puisi" dalam khazanah satra Indonesia. Ia telah memenuhi panggilan Tuhan, Sang Penyair dari segala penyair. Langit negeri bertabur kata di Ahad 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka, Tangerang Selatan, seputaran Bumi Serpong Damai, Banten. Sapardi menutup mata selamanya menghadap Tuhan, Sang Sabda.

Sosok Sapardi

Siapa sastrawan Sapardi Joko Damono? Ia bukan orang kampung saya. Tetapi kelak ia telah mengajarkan banyak orang arti mengolah batin, mencintai manusia, dan negeri di mana kita tinggal. Negeri bertabur onggokan tanah besar dan kecil bernama seperti Lembata. Pulau yang juga jadi tempat lahir Prof. Dr. Gregorius Perawin (Gorys) Keraf, Guru Besar dan Ahli Tata Bahasa Indonesia.

Sapardi lahir di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1943. Ia anak pertama dari dua bersaudara, pasangan orangtua Sadyoko dan Sapariah. Sekolah mulai SD hingga SMA, ia lalui di Solo. 'Melarat' (dalam istilah kampung saya) atau merantau ke Jogja, ia diterima di jurusan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada hingga meraih gelar tahun 1964.

Tahun 1970-1971, ia terbang ke Hawaii untuk menempuh pendidikan nongelar di University of Hawaii, Honolulu. Masa studi Sapardi yang kala itu saya masih orok setelah ibu pecah ketuban di hutan tak jauh dari kampung dan saya mulai bertemu dunia luas.

Tahun 1989, Sapardi meraih gelar doktor (S-3) Universitas Indonesia (UI). Disertasinya membedah novel-novel di Jawa tahun 1950-an. Baru tahun 1995, ia dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra kampus negeri itu.

Jejak Sapardi

Sapardi memiliki sejarah panjang pengabdiannya di jalur pendidikan. Ia guru di ruang kuliah dan guru di tengah masyarakat. Ia tentu mengajar bagaimana cara olah gerak mimik dan tubuh yang baik saat deklamasi, berpuisi bagi banyak orang terutama para penyair Indonesia bahkan dunia.

Kompas.com menulis sekilas jejak pengabdian Sapardi. Ia pernah menjadi dosen tetap, Ketua Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Malang Cabang Madiun tahun 1964-1968. Tak lama diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra-Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1968-1973.

Sejak 1974, ia bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra di UI, jurusan Sastra Indonesia. Fakultas ini, yang kalau tak salah, juga ada Gorys Perawin Keraf, penulis Tata Bahasa Indonesia, buku yang jadi bacaan di sekolah-sekolah, termasuk kampus-kampus di Indonesia.

Sapardi pernah menjabat Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra di UI kurun waktu 1979-1982. Tak lama kemudian, ia diangkat jadi Pembantu Dekan I pada 1982-1996. Lalu menjabat Dekan tahun 1996-1999 di UI.

Tahun 2005, ia memasuki masa pensiun sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya, UI. Meski demikian, ia masih diberi tugas sebagai promotor dan penguji di beberapa perguruan tinggi termasuk menjadi Konsultan Badan Bahasa.

Ia juga aktif di lembaga seni dan sastra tahun 1970-1980. Ia pernah menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta (1973-1980), redakturMajalah Sastra Horison (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975), anggota Dewan Kesenian, anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka Jakarta (sejak 1987), dan lain-lain.

Tahun 1986, Sapardi mengemukakan perlunya mendirikan organisasi profesi kesastraan di Indonesia. Ia pun mendirikan organisasi bernama Himpunan Sarjana-Kesusasteraan Indonesia (Hiski) pada 1988 dan terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat selama tiga periode.

Sapardi juga tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV).

Selain aktif di dunia sastra dalam negeri, Sapardi juga sering menghadiri berbagai pertemuan internasional seperti Translation Workshop dan Poetry International di Rotterdam, Belanda (1971), dan Seminar on Literature and Social Exchange in Asia di Australia National University Canberra.

Merujuk Ikhtisar Kesusasteraan Indonesia Modern (1988) karya Pamusuk Eneste, Sapardi dimasukkan dalam kelompok pengarang angkatan 1970-an. Begitu pula dalam Sastra Indonesia Modern II (1989) karya A Teeuw, Sapardi digambarkan sebagai cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar 1960.

Puisinya banyak dikagumi. Mengapa? Banyak kesamaan dengan yang ada dalam persajakan Barat yang disebut simbolisme sejak akhir abad ke-19.

Beberapa karyanya adalah Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998). Ada juga Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003), kumpulan cerpen Pengarang Telah Mati (2001), dan kumpulan sajak Kolam (2009).

Sapardi sungguh pakar sastra yang dimiliki Indonesia. Beberapa buku penting karyanya saya sebut di sini. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996), Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal.

Ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway), Daisy Manis (Daisy Milles, Henry James), Puisi Brasilia Modern, George Siferis, Sepilihan Sajak, Puisi Cina Klasik, Puisi Klasik Shakuntala, Dimensi Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel, Afrika yang Resah (Song of Lowino dan Song of Ocol oleh Okot p'Bitek), Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra oleh Eugene O'Neill), Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, John Steinbeck), dan lain-lain.

Apresiasi

Sapardi adalah sastrawan berjasa di bidangnya selama masih hidup. Peran dan karyanya di bidang sastra, berbuah aneka penghargaan, apresiasi di bidang sastra. Hadiah Majalah Basis atas puisinya "Balada Matinya Seorang Pemberontak" (1963), Penghargaan Cultural Award dari Pemerintah Australia (1978), mendapat hadiah anugerah Puisi-puisi Putera II untuk bukunya Sihir Hujan dari Malaysia (1983), mendapat hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta atas bukunya yang berjudul Perahu Kertas (1984), Mataram Award (1985).

Selain itu, ia jug menerima hadiah SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand (1986), mendapat anugerah seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990), dan Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996).

Sapardi juga mendapat penghargaan The Achmad Bakrie Award for Literature (2003), Khatulistiwa Award (2004), dan Penghargaan dari Akademi Jakarta 2012).

Hari ini dunia sastra Tanah Air tentu merasa kehilangan Sapardi. Namun saya percaya panggilan Sang Sabda lebih ia rindukan. Sapardi tak mau puisinya tetap hadir nun di rumah-Nya.

Tak lagi seperti kami anak kampung tempo doeloe yang suka berdeklamasi di tengah lapangan di bawah bayang-bayang tali celana yang terancam putus. Meski perut kami sudah aman dengan singkong, daging katak atau pesona alam pegunungan yang menggoda dan menyemangati kami melangkah dalam diam demi masa depan. Meski kami rela puisi kami mampus dan kami bertahan dengan deklamasi saja.

Sapardi, saya akan deklamasikan "Hujan Bulan Juni", puisi karyamu. Dalam hati, tentunya. Kali ini saya deklamasikan tanpa tali celana berbahan benang pintalan ibu atau tali waru hasil kreasi ayah saya di kampung saat saya masih kecil.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
 
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
 
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(hujan bulan juni, 1994).

Selamat jalan, Sapardi. Berpuisilah dari surga agar puisi tak lagi mampus seperti dulu, dalam sunyi alam pegunungan. Bahagia selalu. Selalu, Sapardi. Requiscat In Pace. Damailah di sisi-Nya.*


Jakarta, 19 Juli 2020

Mengenang Sapardi Djoko Damono