Home Bentara SDM dan Masa Depan Indonesia

SDM dan Masa Depan Indonesia

220
0
SHARE
SDM dan Masa Depan Indonesia

Keterangan Gambar : Ilustrasi SDM

Perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-74 kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun ini tampak menawarkan sesuatu yang baru. Selain seremoninya yang kian semarak-meriah di pelbagai daerah di negeri ini, ada juga ajakan untuk konsolidasi nasional, yang terasa sangat fundamental bagi ketahanan dan kelangsungan hidup negeri ini ke depannya.

Ajakan konsolidasi nasional itu tersirat dalam slogan atau tagline, “SDM Unggul, Indonesia Maju”.

Sekilas pandang, tagline tersebut terkesan biasa-biasa saja, bahkan sekadar mengulang suatu kebenaran – yang untuk sejumlah orang – tidak perlu diartikulasikan lagi, apalagi dalam bahasa slogan.

Namun, dalam kondisi darurat sumberdaya manusia negeri ini kini dan ancaman persaingan global yang semakin tak terelakkan, tema tersebut merupakan ajakan bijak yang diumumkan tepat pada waktunya.

Mengapa?

Bertahan tidaknya atau akan tetap ada atau tidaknya eksistensi sebuah bangsa di masa mendatang sangat bergantung pada kualitas manusianya. Jika kualitas sumber daya manusia suatu negara terus “merayap”, ia akan mudah terinjak dan ditinggalkan dalam laju persaingan global. Bahkan bukan cuma itu, ia akan dikuasai, ditindas, dan dieksploitasi oleh mereka yang lebih unggul untuk kepentingan mereka.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mencegah kekalahan dan keruntuhan tersebut?

Jawabannya sederhana. Pembangunan sebuah negara pertama-tama harus dimulai dari manusianya. Manusia mesti sehat fisik dan mental, harus berpendidikan dan mempunyai keterampilan, berkarakter dan berbudaya, dan yang terakhir harus tahu memanfaatkan akal budinya untuk berpikir sendiri.

Terkait kesehatan fisik dan mental, seorang anak sudah harus diberikan perlakuan istimewa sejak masih di dalam rahim ibundanya. Ia harus mendapat asupan gizi dan nutrisi yang cukup, kondisi rahim dan mental sang ibu harus cukup kondusif, sang ibu sudah harus mulai berkomunikasi dengan buah kandungannya itu, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, setelah anak dilahirkan, anak harus dididik untuk menerima diri, memiliki rasa percaya diri, menghargai orang lain dan mampu bersosialisasi, memilki ketahanan mental, berdisiplin, serta dibekali dengan nilai-nilai dan kebajikan hidup semisal rela berkorban, mandiri, berdaya juang tinggi, dan suka menolong, selain tetap memperhatikan aspek kesehatan, baik fisik maupun mentalnya.

Pada masa ini juga, para orang tua dan guru sudah harus membantu anak-anak menciptakan kultur membaca dan menulis, mengamati, mencari tahu, dan berinovasi. Bukan sebaliknya, anak-anak dimanja atau dibiarkan berkeliaran seperti anak-anak jalanan yang tak mempunyai hunian.

Sedangkan, mengenai kemampuan untuk berpikir sendiri, seorang anak manusia harus dibebaskan dari kondisi ketidakdewasaannya, yakni kondisi di mana seseorang tidak dapat menggunakan akal atau pikirannya sendiri tanpa tuntunan orang lain.

Hal ini, menurut Immanuel Kant (1724-1804), terjadi bukan kerena kekurangan pemahaman, melainkan karena kurangnya keberanian dan ketegasan.

Selain itu, kemalasan berpikir juga menjadi penyebab mengapa sebagian besar orang, meski “sifat alami” mereka telah lama membebaskan mereka dari kondisi harus dituntunan orang lain, tetap dengan senang hati tinggal dalam kondisi ketidakdewasaan itu.

Contoh konkret dari gambaran Kant di atas adalah ketaatan buta dan kebergantungan pada otritas tertentu dalam masyarakat yang sebenarnya menutup diri terhadap perubahan dan kemajuan, mempertahankan tradisi budaya yang royal untuk makan-makan, tatapi pelit untuk urusan pendidikan anak, dan lain sebagainya.

Semua hal yang menghambat kemajuan dan peningkatan kualitas SDM tersebut, menurut Jokowi, harus dibasmi demi konsolidasi nasional untuk masa depan bangsa. Sebab, jika SDM makin berkualitas, Indonesia niscaya mempunyai jaminan masa depan.

Oleh Amandus Klau