Home Nagekeo Selama 74 Tahun Merdeka, Warga Renduwawo Belum Menikmati Air Bersih, Listrik, dan Jalan Aspal

Selama 74 Tahun Merdeka, Warga Renduwawo Belum Menikmati Air Bersih, Listrik, dan Jalan Aspal

458
0
SHARE
Selama 74 Tahun Merdeka, Warga Renduwawo Belum Menikmati Air Bersih, Listrik, dan Jalan Aspal

Keterangan Gambar : Keadaan air di Embung Renduwawo di Desa Renduwawo, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, yang dikonsumsi warga. Tampak juga tiang listrik yang diadakan pada 2018 lalu.

Mbay, Flores Pos — "Kami masyarakat Desa Renduwawo belum merdeka sampai saat ini." Pernyataan tersebut disampaikan oleh Evaristus Seda, Warga RT 3, Dusun II, Desa Renduwawo, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores.

"Bagaimana kami bisa disebut merdeka, jika selama 74 tahun Indonesia merdeka, kami tetap hidup dalam kegelapan, tidak ada listrik, tidak ada air bersih, dan tidak ada jalan yang layak?" katanya.

Evaristus menyesalkan bahwa pemimpin Indonesia, NTT, dan Nagekeo terus berganti tetapi nasib mereka tidak pernah berubah.

"Sudah berapa periode pemimpin berganti, semuanya penuh dengan janji, tidak ada satu pun janji manis tersebut diwujudkan," katanya.

Baca juga: Pengerjaan Jalan dalam Kota Mbay Tanpa Papan Informasi Proyek

Evaristus mengatakan bahwa dirinya bersama semua warga Desa Renduwawo hidup tanpa penerangan listrik selama 74 tahun.

"Kami di sini ada 854 jiwa dan semuanya tidak ada listrik. Setiap malam kami masak dan makan hanya dengan cahaya lampu pelita. Anak-anak kami belajar dalam cahaya pelita. Untuk cas handphone, kami biasa pergi ke Jawakisa, titip di keluarga atau kenalan yang sudah miliki listrik," ungkapnya.

Evaristus menyesalkan bahwa banyak bentuk pembangunan terjadi di tempat lain, tetapi tidak ada di Desa Renduwawo.

"Di tempat lain aspal berlapis-lapis, jalan masih bagus tetapi sudah dibongkar untuk bangun baru. Sementara kami di sini pembangunan jalan harus upayakan lewat dana desa secara bertahap. Listrik dan air bersih kami tidak punya," ujarnya.

Risiko Ketiadaan Listrik

Evaristus menuturkan bahwa soal ketiadaan listrik, dirinya sangat khawatir akan masa depan generasi muda di desanya.

"Anak-anak setiap malam belajar pakai lampu pelita. Belum apa-apa, mereka sudah istirahat. Katanya mata sakit, kalau begitu mereka mau jadi apa?" sesalnya.

"Untuk anak-anak yang sudah lebih besar, biasanya belajar bersama di rumah yang ada genset. Sejujurnya saya khawatir, anak saya sudah SMK, setiap malam pergi ke rumah orang lain untuk belajar. Sebagai orang tua tentu saya cemas karena anak sudah remaja. Situasi desa gelap seluruhnya, saya mau cari di mana kalau ada apa-apa?” imbuhnya.

Baca juga: Pemekaran Desa Bukan untuk Mengejar Dana Desa

Evaristus mengharapkan agar Pemda Nagekeo dan DPRD Nagekeo tidak tutup mata terhadap keadaan masyarakat Desa Renduwawo.

"Tolong pemerintah fasilitasi dulu untuk pasang listrik. Tiang sudah ada sejak 2018 tetapi listrik belum ada juga. Kami pasti akan bayar biaya instalasi listrik. Masa hanya hubungi PLN saja Pemda tidak mau?” katanya.

Evaristus menyayangkan banyaknya janji manis yang ditebarkan oleh para calon pemimpin yang tidak kunjung ditepati.

"Kalau masa kampanye banyak calon pemimpin yang datang ke kampung kami. Biar gelap gulita, biar kami bikin kopi pakai air embung mereka tetap minum. Tetapi begitu sudah duduk, mereka lupa kami. Nanti 4 tahun lagi baru kunjung kami, itu kami tunggu kalian di sini," katanya tegas.

Evaristus mengharapkan perhatian segera dari Pemerintah Kabupaten Nagekeo. "Tolong bantu kami dulu. Kami bukan orang lain. Kami warga Nagekoe. Setiap pagi dan sore kami jalan kaki jauh untuk timba air, malam kami harus hidup dalam gelap.”

“Apakah selama ini tidak ada yang dengar dan peduli tentang keadaan kami? Presiden bilang 2019 Indonesia terang, tetapi ini sudah hampir 2020 Renduwawo masih gelap. Kami memang belum merdeka," pungkasnya.

Sulit Peroleh Informasi

Sementara itu, Marianus Meze, Warga RT 01, Dusun I, Desa Renduwawo, menuturkan bahwa karena ketiadaan listrik, dirinya sangat sulit memperoleh informasi terbaru.

"Kami di sini sangat jarang nonton TV. Yang ada TV hanyalah orang-orang yang mampu beli genset. Kami biasa pergi nonton di rumah mereka setiap malam minggu saja," kisahnya.

Marianus juga mengatakan, kalau soal televisi, dirinya bisa menahan diri. "Hanya kasihan anak-anak kalau terus belajar di rumah tetangga yang ada genset. Kalau terlalu sering, kami malu juga," katanya.

Marianus mengisahkan bahwa berbagai aktivitas telah biasa mereka lakukan pada malam hari. "Kalau untuk titi kemiri, kami lakukan di halaman rumah dengan mengandalkan cahaya bulan," jelasnya.

Marianus lebih banyak menyoroti soal ketiadaan air bersih. "Pemerintah omong tentang kesehatan, stunting dan pendidikan. Semuanya hanya mimpi tanpa ada air bersih," katanya.

"Kami di sini harus berebut air dengan ternak. Hanya tersisa satu embung yaitu Embung Renduwawo di Dusun 3, itu pun airnya sangat kotor. Kalau mau air lebih bersih, kami harus jalan kaki 3 kilometer ke Kali Wasa. Tetapi lokasinya sangat curam, membahayakan keselamatan kami," jelasnya.

Marianus mengatakan bahwa kesulitan air bersih adalah hal yang paling urgen. "Anak-anak kami alami gatal-gatal karena mandi air kotor, banyak juga yang diare. Mau beli air bersih harus bayar Rp350.000 kalau beli dari Boawae dan Rp400.000 kalau beli dari Mbay. Siapa yang kuat beli air semahal itu?" tambahnya.

Marianus mengharapkan agar Pemda Nagekeo tidak tinggal diam menyikapi persoalan yang mendera masyarakat tersebut.

"Kami hanya dapat bantuan air 2 tangki sekitar Juli 2019 yang lalu, mungkin karena berita tentang kami kesulitan air bersih keluar di TV. Sesudah itu hilang. Ke mana tangki-tangki air milik pemerintah? Mengapa tidak datang ke sini bantu kami? Hujan belum turun satu tetes pun, kami harapkan air dari mana?" katanya sedih.

Mengurus Desa Tanpa Listrik

Pernyataan warga Desa Renduwawo tersebut diamini oleh Kepala Desa Renduwawo, Theodorus Aru. Theodorus mengakui bahwa warga di desanya memang mengalami berbagai kesulitan.

"Listrik belum kami nikmati sampai saat ini. Tiang sudah ada, sebagian terpasang di Dusun III, tetapi kabelnya belum ada. Ketiadaan listrik sangat menyulitkan kami, terutama untuk anak sekolah dan untuk arus alat komunikasi,” jelasnya.

"Apalagi semua urusan desa sekarang harus pakai aplikasi, tanpa listrik, kita kerja bagaimana?" ujarnya.

Theodorus mengatakan bahwa warganya terpaksa menggunakan penerangan seadanya pada malam hari. "Keluarga yang mampu bisa beli genset. Sementara keluarga yang lain terpaksa menggunakan lampu pelita. Itu telah berlangsung puluhan tahun," jelasnya.

Terkait permasalahan air bersih, Theodorus mengatakan bahwa bagi warga Desa Renduwawo, air hujan adalah kemewahan tertinggi yang dapat mereka nikmati.

"Kemewahan itu belum datang sampai saat ini karena kemarau panjang. Saat ini, masyarakat hanya bertahan dengan air embung yang sangat tidak higienis," jelasnya.

Theodorus mengatakan bahwa beberapa embung yang terdapat di desanya telah mengering karena kemarau panjang. “Tinggal Embung Renduwawo yang masih digunakan masyarakat. Saya harus akui terus terang bahwa banyak sekali warga saya yang BAB dan BAK sembarangan karena kesulitan air untuk MCK,” ungkapnya.

“Dengan keadaan yang demikian, cita-cita kita tentang peningkatan derajat kesehatan masyarakat, tentang memberantas stunting, tentang peningkatan prestasi anak-anak, hanya akan jadi wacana. Air bersih itu wajib, tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Theodorus juga mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan proposal kepada Bupati Nagekeo untuk mendapatkan bantuan air bersih sejak awal Oktober 2019. Tetapi sampai saat ini belum ada jawaban. Padahal ada mobil-mobil tangki milik pemerintah.

“Kami tunggu terus saja, sambil konsumsi air embung. Mudah-mudahan dapat segera terjawab," harapnya.

Theodorus berharap agar Pemda Nagekeo segera memperhatikan masalah air bersih, listrik, dan jalan di wilayahnya agar warga Renduwawo turut merdeka, tidak tertinggal, dan tidak terisolasi.

“Anak-anak kami sebenarnya cerdas, mereka hanya butuh air bersih supaya tetap sehat dan listrik untuk tetap belajar," harapnya.

Penulis: Risa Roga
Editor: Avent Saur