Home Opini Semua Karena Cinta: Mengenang 100 Tahun SVD Berkarya di Manggarai Raya-NTT, 1920 – 23/9 – 2020

Semua Karena Cinta: Mengenang 100 Tahun SVD Berkarya di Manggarai Raya-NTT, 1920 – 23/9 – 2020

Oleh P. Kons Beo, SVD – Tinggal di Collegio San Pietro, Roma.

272
0
SHARE
Semua Karena Cinta: Mengenang 100 Tahun SVD Berkarya di Manggarai Raya-NTT, 1920 – 23/9 – 2020

Keterangan Gambar : P. Kons Beo, SVD

Hadir Dengan Sepenuh Hati

Kamis, 23 September 1920. Satu tonggak sejarah Gereja Katolik di wilayah Manggarai Raya-Flores berawal. Di hari itu, misionaris perdana SVD mulai menetap di Ruteng. Di tahun yang sama, 1920 itu, mulai berawal satu stasi baru bagi Serikat Sabda Allah, stasi Ruteng. Adalah P. Bernhard Glaneman, SVD dan P. Frans de Lange, SVD secara perlahan mengawali misi perdana itu. Inilah tapak awal ziarah missioner SVD di Manggarai Raya. Di tahun-tahun selanjutnya, barisan misionaris SVD secara perlahan injakkan kaki di wilayah ini. Tentu kehadiran para misionaris yang semakin bertambah itu berdampak pada pentingnya keberadaan sentrum pelayanan umat. Karenanya, Stasi Rekas, di wilayah barat Manggarai, dibangun tahun 1926, menyusul Lengko Ajang di tahun 1929 untuk wilayah utara dan timur Manggarai. Dari ketiga pusat misi ini, pada tahun-tahun selanjutnya, beranakpinaklah berbagai pusat pelayanan umat. Berkembang hingga hari ini. Bila disusun silsilah semua Paroki di wilayah keuskupan Ruteng, maka semuanya ‘berketurunan’ awal dari stasi Ruteng, stasi Rekas, dan dari  stasi Lengko Ajang.

Tentu, sebagian besar masyarakat (umat) Manggarai Raya tetap mengenang sosok-sosok tangguh misionaris Eropa yang telah patrikan sejarah hidup mereka di tanah Nuca Lale ini. Wilayah Barat tak mungkin lepas dari nama-nama seperti P. Eicmann, SVD dan P. Josef van Hoef, SVD; wilayah Lengko Ajang tetap abadikan nama P. Wilhem Janssen, SVD. Ada nama-nama seperti P. Jilis Verheijen, SVD yang mencintai dan menyusun Kamus Bahasa Manggarai; ada P. Wilhem van Bekkum, SVD yang sungguh mencintai Budaya Manggarai. Ada P. Jan van Roosmalen, SVD yang serius peduli akan  pendidikan para katekis dan rasul awam. Teringat pula P. Piet de Graaf dengan ‘tumari’ (tungku matahari), P. Hanz Runkel, SVD, P. Frans Mezaros, SVD, P. Stanis Ograbek, SVD. Dan tentu, para alumni senior  Seminari Pius XII-Kisol tak mungkin melupakan sosok si bangau putih P. Leo Peric, SVD, dan seterusnya.

Baca juga: Kasus Dana Kompensasi Lahan SMAN 2 Boawae Butuhkan Penyidik? (1)

Selain misionaris Eropa, barisan SVD Ruteng yang berasal dari tanah air yang telah berpulang juga tetap dikenang oleh umat di Manggarai Raya. Semisal P. Bruno Bras Conterius, SVD yang ‘terkenal di wilayah selatan; terkenang pula P. Karel Kale Bale, SVD, P. Yosef Delang, SVD, P. Hila Gudi, SVD yang cukup ‘ditakuti’ di wilayah Ka Redong dan sekitarnya, P. Blasi Woda, SVD, P. Frans Mido, SVD, P. Krispi Taso, SVD,  P. Agus Watu, sang musikus P. Piet Pedo Neo, SVD dan seterusnya. Hingga hari ini, masih ada misionaris Eropa yang beristirahat letih di hari tuanya. P. Gallus Mittermeier, SVD di Sengari Reo, P. Thomas Krump, SVD di Ketang-Rejeng, P. Ernst Waser, SVD di Wangkung Cumbi, dan P. Stefan Wroz, SVD di Wisma SVD - Kisol.

Memang, amat tak baguslah untuk menghitung-hitung segala jasa dan ‘perbuatan baik’ dari sebuah Serikat religius missioner, yang tugas dan panggilan memberitakan Injil adalah memang satu keharusan. Kurang lebih itulah kata-kata Uskup Ruteng, Mgr. Sipri Hormat saat memimpin perayaan Ekaristi Yubileum 100 tahun kehadiran SVD di  Manggarai Raya pada 8 September 2020. Namun, bagaimanapun, kata Mgr. Sipri dalam kotbahnya, “Kami menjadi kami seperti sekarang ini juga karena kehadiran Serikat Sabda Allah. Adalah waktu dalam segala kisah dan peristiwa yang telah jadi saksi dari semuanya. Cikal bakal Keuskupan Ruteng, bahkan seluruh keuskupan di wilayah Nusa Tenggara ini telah diarsiteki oleh Serikat Sabda Allah…..”

Baca juga: Kasus Dana Kompensasi Lahan SMAN 2 Boawae Butuhkan Penyidik? (2)

Setiap langkah perutusan religius-misioner dari anggota SVD selalu dipayungi dan dialasi oleh kekuatan cinta. Provinsial SVD Ruteng, P. Paul Tolo, SVD dalam sambutan Jubileum berkeyakinan, “Keberadaan SVD dan saya adalah karena kecintaan pada Sabda dan kecintaan pada kemanusiaan. Itulah yang dilakoni oleh SVD dan juga setiap anggotanya di mana pun ia diutus.” Ya, hanya dengan mencintai Sabda, setiap anggota SVD dapat menjalankan tugas paling utama sebagai SVD, yakni mewartakan Sabda Allah.

Setelah 100 Tahun di Wilayah Manggarai Raya?

Jalan panjang 100 tahun telah dilalui. Penuh perjuangan, dengan segala suka duka yang dihadapi oleh setiap anggota SVD yang diutus ke wilayah Manggarai Raya, dengan topografinya yang menantang ini. Tentu usia setelah 100  tahun ini bukanlah satu titik segera memasuki episode emeritus, atau purnabakti. Di puncak perhelatan jubileum 100 tahun ini, tak ada seruan ‘selesailah sudah.’ Tahun-tahun religius-misioner, dengan segala tindak dan gelagat pastoral missioner, tetap terbentang luas di depan. Pater Superior Jendral SVD, P. Paul Budi Kleden, SVD, dalam sapaan Jubileum menyentil segala yang menjadi reksa misoner SVD Ruteng yang sepatutnya diseriusi di tahun-tahun mendatang. Passion for the Word-Passion for Humanity, demikian tema perayaan Jubileum ini, mesti merambah dan menyentuh secara khusus kaum miskin dan sederhana, kaum yang tak beruntung nasibnya, “yang hak-haknya sering kurang diperhatikan.” Semuanya tentu tetap terjumpakan dalam pengalaman perutusan selanjutnya.

Baca juga: Kasus Dana Kompensasi Lahan SMAN 2 Boawae Butuhkan Penyidik? (3)

Di tahun-tahun mendatang, SVD Ruteng mesti tetap berikiprah. Mgr. Sipri tetap menaruh harapan pada kehadiran dan perutusan SVD di wilayah Manggarai Raya, sambil tetap ingatkan betapa pentingnya membaca tanda-tanda zaman yang disebutnya sebagai “kemutlakan”. “Dengan itu pula,” demikian Mgr Sipri, “Komitmen misi SVD akan selalu tepat sasar atau tak salah arah….orientasi missi yang bernafaskan Kitab Suci, pada cinta alam dan lingkungan, dan penanaman semangat misi tetap bercitra dan berdampak pada kehidupan masyarakat, umat, keluarga-keluarga….dan Keuskupan Ruteng secara keseluruhan.”

Jubileum 100 Tahun SVD Menetap di Manggarai Raya: Momentum Pertobatan Religius-Misioner

Jalan panjang 100 tahun SVD menetap di Manggarai dan kemudian berkembang selanjutnya dalam perutusan hingga saat ini, tak cuma bercitra anggun dalam heroisme perutusannya. Dalam kekuatan dedikasi dan pelayanannya,luka-luka misioner’ tentu tak terhindarkan; kesaksian hidup yang kurang bersinar dan mentereng tentu telah menjadi tantangan yang serius pula. Misionaris tak luput dari seribu pertanyaan kesangsian, walau ia mewartakan hanya satu berita tentang keselamatan. Kesadaran akan keterbatasan, kerapuhan serta kelemahan adalah pemakluman akan kerendahan hati dan kesahajaan di hadapan Sang Firman. Dengan demikian, selalu ada harapan baru untuk menerima rahmat agar kembali dapat melanjutkan ziarah religius-misioner.

Mgr Sipri sungguh mengajak dan sekian menyentuh hati para anggota SVD Ruteng untuk kembali kepada  jati diri, kepada identitas utama sebagai SVD. Menurutnya, identitas diri itu ditemukan dalam Nama: Serikat Sabda Allah. Intimitas dalam dan bersama Sabda itu sendiri adalah kekuatan bagi setiap anggota SVD. Pertobatan misioner dapat tergapai ketika intimitas dalam Sang Sabda terbersit dalam penghayatan spriritualitas Triniter yang bernafaskan Kasih Allah Tritunggal, pada misteri inkarnasi Sabda Menjadi Manusia, dan pada seruan profetik alkitabiah. Pertobatan religius-missioner itu membawa harapan dan keyakinan akan perjuangan  demi martabat hidup manusia, demi kebaikan bersama dan demi kedaulatan alam lingkungan.

Pertobatan misioner tentu juga merupakan buah dari kehidupan bersama yang unggul, dari alam kerja sama yang sejuk dengan rekan-rekan atau dengan semua partner dialog, terutama kaum awam. Dan di atas segalanya, pertobatan religius-misioner menutut apa yang ditegaskan oleh Pater Superior Jendral SVD, P. Paul Budi Kleden, SVD, sebagai “pembaruan komitmen perutusan dan kesaksian hidup yang nyata,baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan.” Hanya dengan cara ini, SVD Ruteng dapat tiba pada cita-cita  dan pada sekian banyak harapan sebagaimana telah dirumuskan pada setiap kesempatan dari waktu ke waktu.

Sepotong Akhir Kata

Jubileum 100 tahun SVD menetap di wilayah Manggarai Raya telah dirayakan pada tanggal 8 September 2020, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-145 Serikat Sabda Allah (8 September 1875). Hingga hari ini, barisan anggota SVD Ruteng dengan segala gema religius-misionernya tergabung dalam Provinsi SVD Ruteng, yang berkarya di Keuskupan Ruteng (Manggarai Raya), Keuskupan Weetabula (Sumba) dan Keuskupan Denpasar (Paroki St. Yusuf – Bima).

Oleh  SVD sejagat, Provinsi SVD Ruteng, sejak tahun 1993, juga diberi kepercayaan dan mandat untuk menjalankan Formasi Awal bagi para calon religius-misionaris SVD, di Novisiat Sang Sada – Kuwu. Terpujilah para formator yang tekun, sabar, setia serta berketeladanan dalam mendampingi barisan SVD yunior di zaman now ini.

Proficiat 100 tahun Serikat Sabda Allah (SVD) di Bumi Manggarai Raya NTT. Semuanya memang karena cinta: “Semoga kehendak Allah diluhurkan selama-lamanya. Jika kita ingin berkenan kepada ALLAH, maka kehendak-Nya harus kita hormati dan patuhi dengan penuh cinta.” (St. Arnoldus Janssen, Pendiri SVD – SSpS – SSpSAp).

Bersama Keluarga Besar Arnoldus Janssen, para rekan awam, serta segenap partner dialog, kita berdoa: “Di hadapan Terang Sabda, dan Roh Pemberi rahmat,  Lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman. Dan semoga Hati Yesus diam dalam hati semua manusia.”*