Home Sikka Simposium Internasional STFK Ledalero Hadirkan Profesor dari Chicago

Simposium Internasional STFK Ledalero Hadirkan Profesor dari Chicago

1,078
0
SHARE
Simposium Internasional STFK Ledalero Hadirkan Profesor dari Chicago

Keterangan Gambar : Panitia memberikan buku kenangan STFK Ledalero kepada Provinsial SVD Ende, Pater Lukas Jua SVD dalam Simposium Internasional hari pertama menyongsong usia 50 tahun STFK Ledalero di aula lembaga tersebut, Rabu (4/9). Tampak juga Guru Besar Catholic Theological Union (CTU) Chicago, USA, Profesor Stephen B. Bevans (ke-5 dari kiri). (foto: flores pos/panitia 50 tahun STFK Ledalero)

Paus Fransiskus lebih tepat menghayati aliran teologi rakyat karena selain Paus sederhana, Paus Fransiskus juga memiliki kedekatan personal dengan orang-orang miskin. — Dosen STFK Ledalero, Dr. John Mansford Prior SVD

Sikka, Flores Pos — Dalam rangka menyongsong perayaan usia 50 tahun, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, yang terletak di Kelurahan Takaplager, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, menghadirkan keynote speaker, Guru Besar Catholic Theological Union (CTU) Chicago, USA, Profesor Stephen B. Bevans, dalam simposium internasional hari pertama pada Rabu (4/9).

Simposium dalam rangka 50 tahun STFK Ledalero tersebut berlangsung selama tiga hari, Rabu-Jumat (4-6), di aula lembaga tersebut. Sementara puncak perayaan 50 tahun akan berlangsung Minggu, 8 September 2019.

Baca juga: Ledalero dan Kontekstualisme Filsafat

Ketua STFK Ledalero, Pater Dr. Otto Gusti Madung SVD, dalam kata sambutannya, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah dengan susah payah bekerja untuk menyukseskan pelaksanaan simposium internasional. Diharapkan agar para peserta simposium internasional memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru yang berguna bagi progresivitas bangsa dan Gereja.

Kepada para mahasiswa, Pater Otto mengharapkan agar mampu menjadikan filsafat dan teologi sebagai ilmu yang terbuka untuk berdialog dengan ilmu-ilmu lain.

“Dalam berfilsafat dan berteologi, kita mesti gunakan pendekatan interdisipliner dalam merefleksikan segala sesuatu di dalam kehidupan,” kata Pater Otto.

Kegiatan simposium internasional dibuka Provinsial SVD Ende, P. Dr. Lukas Jua SVD, ditandai dengan pemukulan gong. Pada hari pertama simposium internasional ini, dilaksanakan juga peluncuran dua buku, antara lain Buku Kenangan 50 Tahun STFK Ledalero yang dikelola oleh Pater Juan Orong SVD dan buku kumpulan artikel ilmiah yang ditulis oleh beberapa penulis dalam rangka 50 tahun STFK Ledalero dengan Romo Dr. Mathias Daven dan Pater Dr. Georg Kirchberger SVD.

Paus Fransiskus dan Inkulturasi

Dalam simposium internasional hari pertama, Stephen B. Bevans, memaparkan materi tentang Paus Fransiskus dan Inkulturasi, dengan moderator Pater Alfons Mana SVD. Terhadap paparan Stephen B. Bevans, simposium menghadirkan dua penanggap, antara lain Pater Dr. Leo Kleden SVD yang memberikan tanggapan dari perspektif filsafat hermeneutik dan Pater Dr. John Mansford Prior SVD yang memberikan tanggapan dari perspektif teologi kontekstual dan misiologi.

Dalam paparannya, Bevans menegaskan tentang komitmen Paus Fransiskus untuk merangkul inkulturasi sebagai sebuah cara berteologi dan cara menyajikan ajaran Gereja dalam dunia dewasa ini.

Untuk membuktikan komitmen Paus Fransiskus dalam merangkul inkulturasi, Bevans mengulas secara perinci tiga dokumen utama Paus Fransiskus yaitu Evangelii Gaudium, Laudato Si’, dan Amoris Laetitia serta membuat komentar singkat atas Motu Proprio “Magnum Principium” dan perjalanan Paus Fransiskus ke Myanmar pada 2017.

Dalam Evangelii Gaudium, berdasarkan analisis Bevans, Paus Fransiskus memproklamasikan sebuah pertalian yang kuat antara kebutuhan Gereja untuk memaklumkan Injil dan cara Gereja melakukannya, yakni dengan sungguh-sungguh memperhatikan konteks budaya tertentu.

Semua orang Kristen, kata Bevans, memiliki tugas untuk melancarkan karya evangelisasi. Kesalehan populer yang hidup dalam suatu masyarakat dengan konteks budaya tertentu, menurut Paus Fransiskus, mesti menjadi sebuah sumber teologi, di samping sumber Alkitab dan tradisi Gereja.

Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus berusaha membahas kelestarian ekologis dengan menggunakan metode inkulturasi. Tiga hal yang mesti selalu ada dalam metode inkulturasi, menurut Paus Fransiskus, adalah melihat, menilai, dan bertindak.

Pada awalnya, Paus Fransiskus mengajak umat beriman untuk membuka mata dan melihat fakta yang terjadi di bumi. Setelah melihat, Paus Fransiskus coba menilai fakta krisis ekologis dengan bertolak dari refleksi biblis tentang penciptaan.

Pada tahap akhir, Paus Fransiskus mengajak umat beriman dari konteks budaya masing-masing agar coba mengembangkan sebuah teologi ekologi yang integral yang didasarkan pada tradisi Kristen.

Dalam Amoris Laetitia, Paus Fransiskus menegaskan tentang pentingnya sikap berani untuk mengambil risiko sebagai syarat untuk melakukan inkulturasi. Dokumen ini memberikan gambaran yang jelas tentang Allah yang mengasihi manusia tanpa syarat apa pun dan kasih-Nya itu bersifat kekal.

Kesalehan populer yang hidup dalam suatu masyarakat dengan konteks budaya tertentu mesti menjadi sebuah sumber teologi, di samping sumber Alkitab dan tradisi Gereja. — Guru Besar Catholic Theological Union (CTU) Chicago, USA, Profesor Stephen B. Bevans.

“Gereja mesti mengambil bagian dalam kasih Allah. Paus Fransiskus menulis, “jalan Gereja tidaklah menghukum siapa pun selamanya, tetapi mencurahkan rahmat Allah bagi semua yang memintanya dengan hati tulus” (AL 296),” kata Bevans.

Dalam Magnus Principium dan perjalanannya ke Myanmar pada 2017, Paus Fransiskus tetap memegang teguh komitmen untuk merangkul inkulturasi dalam evangelisasi. Di Myanmar, Paus Fransiskus menunjukkan keberpihakan yang total terhadap kelompok yang sangat menderita karena menurutnya Allah senantiasa hadir dalam diri mereka.

Gereja Misionaris dan Dialog dengan Situasi Glokal

Sementara itu, Pater Dr. Leo Kleden SVD dalam tanggapannya terhadap paparan Bevans menegaskan tentang perubahan dari Gereja konvensional ke Gereja misionaris.

Gereja misionaris, kata Pater Leo, adalah Gereja yang terus menerus melakukan karya evangelisasi dengan merangkul secara harmonis inkulturasi atau berangkat dari konteks tertentu. Dalam hal ini konteks adalah salah satu sumber berteologi sehingga lahirlah teologi dengan pendekatan kontekstual.

Senada dengan Pater Leo, Pater John M. Prior SVD juga menegaskan bahwa metode inkulturasi Paus Fransiskus mempunyai ciri holistik dan integral. Inkulturasi tidak pernah dapat dipisahkan dari dialog dengan Islam dan tradisi-tradisi iman lain dan juga dialog dengan situasi glokal (global dan lokal).

Dalam dialog dengan situasi glokal, lanjutnya, hibriditas tidak bisa dielakkan, tetapi hegemoni mesti ditantang. Artinya, kebudayaan global tidak boleh menindas kebudayaan lokal dan kebudayaan lokal tidak boleh menolak kebudayaan global tanpa alasan rasional yang kuat.

“Inkulturasi tidak saja berhubungan dengan tradisi iman agama tertentu, tetapi juga inkulturasi berarti berdialog dengan alam. Paus Fransiskus menunjukkan hal ini melalui salah satu dokumennya yaitu Laudato Si’,” tegas Pater John.

Dalam analisis Pater John, Paus Fransiskus lebih tepat menghayati aliran teologi rakyat karena selain Paus sederhana, Paus Fransiskus juga memiliki kedekatan personal dengan orang-orang miskin.

Subjek Teologi

Pemaparan materi Bevans sert tanggapan Pater Leo dan Pater John memancing antusiasme para peserta simposium internasional untuk mengajukan pertanyaan. Siapa yang menjadi subjek teologi? Kalau subjeknya adalah Allah yang inkardinasikan diri-Nya dalam diri Yesus, maka hanya ada satu teologi sehingga sulit melahirkan teologi kontekstual. Di manakah peran manusia dalam teologi?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Bevans menegaskan bahwa memang benar Allah yang kemudian menginkardinasikan diri-Nya dalam diri Yesus adalah subjek utama teologi. Namun, Allah sebagai pribadi yang transenden sekaligus imanen mesti selalu didekati oleh manusia sebagai pribadi yang imanen.

Menurutnya, ketika manusia dengan segala keterbatasannya berusaha mendekati dan mengenal Allah, maka manusia turut menjadi subjek teologi. Tidak ada manusia di luar konteks.

“Setiap manusia lahir dari dan dibesarkan dalam sebuah konteks. Konteks budaya dan agama tertentu bisa menjadi salah satu sumber berteologi bagi manusia yang menjadi salah satu subjek teologi,” katanya.

Hubungan Kecerdasan, Keberanian, dan Kekudusan

Menggunakan konteks sebagai salah satu sumber teologi selalu melibatkan kecerdasan, keberanian, dan kekudusan. Kepada Pater Leo, peserta simposium internasional, Romo Louis Jawa bertanya tentang bagaimana hubungan antara kecerdasan, keberanian, dan kekudusan?

Ketika manusia dengan segala keterbatasannya berusaha mendekati dan mengenal Allah, maka manusia turut menjadi subjek teologi. Tidak ada manusia di luar konteks. — Guru Besar Catholic Theological Union (CTU) Chicago, USA, Profesor Stephen B. Bevans.

Dari perspektif filsafat, Pater Leo menegaskan bahwa filsafat bermula dari sapere aude (berani berpikir sendiri). Berpikir berarti mencari kebenaran. Orang yang setia mencari kebenaran dan menunjukkan otentisitas hidup dapat dikatakan sebagai orang kudus.

“Orang kudus adalah orang yang mencintai kebenaran dan selalu tunjukkan keaslian hidupnya kepada semua orang. Orang kudus bukanlah orang yang mengimitasi hidup orang lain,” kata Pater Leo.

Oleh Jean Loustar Jewadut