Home Nagekeo Solar Langka, Ratusan Mobil Mengantre di SPBU Mbay

Solar Langka, Ratusan Mobil Mengantre di SPBU Mbay

160
0
SHARE
Solar Langka, Ratusan Mobil Mengantre di SPBU Mbay

Keterangan Gambar : Antrean panjang kendaraan di jalan menuju SPBU UD Pelangi Mbay, Rabu (2/10).

"Hari ini saya mengantre sejak pukul delapan pagi. Antrean sudah panjang satu kilometer lebih. Semoga hari ini saya kebagian solar." — Sopir Truk Milik PT Pesona Permai Indah, Vitalis Rama.

Mbay, Flores Pos — Ratusan kendaraan berbaris membentuk antrean panjang di jalan menuju SPBU UD Pelangi Mbay. Antrean tersebut terjadi selama 3 hari belakangan sejak 30 September lalu. Kendaraan yang mengantre paling banyak merupakan kendaraan roda 6 atau truk.

Vitalis Rama, sopir truk milik PT Pesona Permai Indah, yang ditemui Flores Pos saat mengantre, Rabu (2/10), mengatakan bahwa dirinya sudah mengantre sejak Selasa (1/10), namun gagal mendapatkan solar.

"Akhirnya saya pulang ke rumah. Padahal saya sudah mengantre sangat lama," katanya.

Rama menyatakan sangat kecewa karena selama dua hari dirinya tidak bekerja dan terpaksa menghabiskan waktu untuk mengantre.

"Hari ini saya mengantre sejak pukul delapan pagi. Antrean sudah panjang satu kilometer lebih. Semoga hari ini saya kebagian solar," harapnya.

Fredy, pengemudi mobil boks Air Minum Nagekeo, menyampaikan hal yang sama. "Solar di mobil saya sudah sangat sedikit. Kalau hari ini tidak dapat, mobil ini hanya akan diparkir saja dan saya tidak bekerja," ujarnya.

Vitalis dan Fredy sama-sama menyatakan bahwa mereka tidak paham alasan solar sangat langka dalam dua minggu terakhir ini.

"Saya tidak tahu alasannya. Mungkin karena pasokan dari Ende tidak lancar," kataVitalis.

Fredy menambahkan bahwa kelangkaan solar juga terjadi minggu lalu, yang mengharuskan dirinya antre selama berjam-jam.

“Semoga hal ini tidak terjadi lagi. Saya tidak tahu siapa yang atur ini. Kami minta perhatiannya agar segera diatasi. Kami buang banyak waktu bekerja untuk mengantre. Kalau tidak kebagian hari ini, besok pagi-pagi saya harus datang lagi,” sesalnya.

Pasokan Solar Terbatas

Laurens Tara, Pengawas SPBU UD Pelangi Mbay, mengatakan bahwa kelangkaan solar di Kota Mbay disebabkan karena keterbatasan pasokan solar dari Depot Pertamina Ende.

"Pada 1 Oktober, kami ajukan permintaan solar subsidi dan solar industri, masing-masing 24.000 liter. Tetapi kami terima hanya 16.000 liter yaitu solar subsidi 8000 liter dan solar industri 8000 liter," jelasnya.

Tara juga mengatakan, Depot Pertamina Ende hanya menyebutkan bahwa pasokan solar terbatas sehingga permintaan SPBU UD Pelangi tidak dapat dipenuhi semuanya.

Menurut Tara, 16.000 liter tersebut tidak cukup memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Mbay. Pada Rabu (2/10), SPBU UD Pelangi Mbay kembali mengajukan permohonan 16.000 liter untuk setiap jenis solar tersebut. Pihaknya belum bisa memastikan berapa liter yang akan dipenuhi.

Kebutuhan solar di SPBU UD Pelangi mencapai 320.000 liter per bulan. Yang paling tinggi adalah kebutuhan solar subsidi.

“Namun kebutuhan kita tetap bergantung pada persediaan dan kiriman dari Depot Pertamina Ende,” jelasnya.

Tara mengakui bahwa meskipun solar langka, pihaknya tidak membatasi pengisian.

"Kami tidak dapat batasi pengisian. Kebutuhan setiap kendaraan itu berbeda-beda. Jadi yang lebih dulu mengantre akan lebih besar untuk dapatkan solar," pungkasnya.

Pihaknya berharap pasokan solar dari Depot Pertamina Ende segera stabil agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Mbay.

Pembelian Pakai Jeriken Dibatasi

Sementara itu, Wiwik Juliani, warga Kota Mbay, yang ditemui Flores Pos saat mengantre di SPBU UD Pelangi menyatakan kekecewaannya.

"Kami yang beli pakai jeriken untuk kebutuhan traktor bajak sawah, kenapa pembelian kami dibatasi? Sementara truk-truk besar boleh isi sampai penuh,” katanya.

Juliani berharap Pemerintah Kabupaten Nagekeo memperhatikan masalah kelangkaan solar tersebut. Pemerintah diminta agar mengawasi aktivitas di SPBU, jangan sampai kendaraan besar mengisi solar subsidi, bukan solar industri, yang seharusnya menjadi hak masyarakat kecil.

Penulis: Risa Roga
Editor: Avent Saur