Home Sikka Sopir Mobil Ikan asal Sikka Dipukul Petugas Covid-19 di Perbatasan Nagekeo-Ngada

Sopir Mobil Ikan asal Sikka Dipukul Petugas Covid-19 di Perbatasan Nagekeo-Ngada

Penulis: Wall Abulat / Editor: Anton Harus

1,274
0
SHARE
Sopir Mobil Ikan asal Sikka Dipukul Petugas Covid-19 di Perbatasan Nagekeo-Ngada

Keterangan Gambar : Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (tengah depan) didampingi Wabup Romanus Woga dan anggota Forkompimda Sikka, mendengarkan aspirasi para sopir mobil logistik. saat demonstrasi pada Senin (1/6/2020).


Maumere, Flores Pos Benediktus Krisanto P. atau yang biasa disapa Anong, seorang sopir mobil pick up yang mengangkut logistik ikan asal Sikka yang selama ini menyuplai ikan ke Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai dipukul oleh beberapa oknum petugas covid-19 di perbatasan Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada saat hendak mengantar ikan ke Kabupaten Manggarai pada Minggu (31/5/2020).

Merasa tidak puas dengan perlakukan beberapa oknum petugas di perbatasan tersebut, puluhan sopir mobil logistik ikan di Maumere, Ibu Kota Kabupaten Sikka, mendatangi Kantor Bupati Sikka dan menemui Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo untuk menyatakan aspirasi mereka.

Akses videonya di sini (Flores TV): Dianiaya Petugas Perbatasan Nagekeo-Ngada, Para Sopir Logistik Ikan asal Sikka Demo di Kantor Bupati

Mendengar aspirasi para sopir ini, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo mengaku prihatin terhadap kejadian itu. Bupati Robi juga berjanji akan segera berkoordinasi dengan Gubernur NTT untuk mengatasi masalah di perbatasan Nagekeo-Ngada yang melarang mobil ikan dari Sikka melintasi wilayah Ngada.

Korban pemukulan bernama Anong, kepada wartawan di Kantor Bupati Sikka pada Senin (1/6/2020) mengatakan bahwa dirinya dipukul pada bagian kepala oleh beberapa oknum petugas covid-19 setelah dirinya mengambil video dengan handphonenya di posko perbatasan.

“Saya dipukul beberapa kali oleh beberapa oknum petugas usai saya mengambil video untuk dokumen pribadi di perbatasan Nagekeo-Ngada. Saya ambil video untuk kepentingan pelaporan kepada bos saya,” kata Anong.

Anong mengaku kesal karena dirinya tidak diperkenankan melewati perbatasan Nagekeo-Ngada, meskipun sudah mengantongi semua dokumen perjalanan.

“Semua dokumen saya miliki. Tetapi aneh, kenapa saya tidak diperkenankan lewat,” kata Anong kesal.

Karena tidak bisa lewat, lanjut Anong, maka dirinya terpaksa berkoordinasi dengan sopir mobil lain untuk melanjutkan pengantaran ikan ke Ruteng dengan konsekuensi mengeluarkan biaya sekitar Rp1 juta.

“Ikan kami salin ke mobil lain, dan kami keluarkan biaya Rp1 juta,” katanya.

Aniaya Berulangkali

Sementara itu, juru bicara para sopir mobil logistik ikan, Lambertus Sino, kepada Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo di Kantor Bupati Sikka menyampaikan protes keras atas perlakuan para petugas di perbatasan Nagekeo-Ngada.

Mewakili sesama sopir, dirinya memprotes tindakan melarang mobil ikan melintasi wilayah perbatasan tersebut, dan memprotes ulah oknum-oknum petugas yang memukul serta melakukan tindakan kekerasan terhadap beberapa sopir asal Sikka.

“Kami minta agar Bupati Ngada tidak menutup portal bagi kami. Kami merasa didiskriminasi sekali. Padahal kami sudah melengkapi segala dokumen seperti surat jalan dari Dishub, surat keterangan sehat dari Dinkes/Satgas Covid-19, dokumen-dokumen perjalanan lengkap, dan ada surat jalan ikan dari Dinas Perikanan Sikka,” kata Lambertus.

Baca juga: Atasi Penutupan Akses Jalan Negara, Bupati Sikka dan Wagub NTT Siap Pantau Perbatasan

“Alasan apa kami tidak boleh melintasi jalan tersebut? Kenapa kami tidak diperbolehkan melintasi jalan tersebut, padahal dokumen sudah lengkap? Apalagi dalam surat jalan itu, tujuan kami ke Ruteng, bukan singgah di Bajawa,” kata Lambertus.

Lambertus juga menyesalkan perlakukan oknum-oknum petugas di perbatasan Nagekeo-Ngada yang melakukan lebih dari tiga kali perlakuan tak terpuji terhadap para sopir.

Menurutnya, para petugas menyuruh beberapa sopir agar melakukan push up. Oknum petugas juga mengajak para sopir agar berduel dengan oknum Pol PP.

Ada juga perlakuan kasar lainnya yakni memaksa sopir agar memasangkan telinganya ke knalpot racing kendaraan roda dua sambil meninggikan gas kendaraan. Kasus tersebut, seorang sopir ikan bernama Anong dipukul oleh beberapa kali oleh petugas covid-19 di perbatasan tersebut.

“Harapan kami agar portal segera dibuka, dan persoalan ini diklirkan,” tegas Lambertus.

Bupati Robi Prihatin

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo menyampaikan rasa prihatinnya atas kejadian yang menimpa para sopir mobil logistik ikan sebagaimana yang disampaikan juru bicara para sopir.

“Saya menyatakan prihatin atas kejadian ini. Terkait aspirasi para sopir, saya akan segera tindaklanjuti,” kata Bupati Robi.

Bupati Robi juga menegaskan bahwa pada kesempatan video konferensi antara Gubernur NTT dan Wakil Gubernur NTT bersama para bupati dan walikota se-Provinsi NTT baru-baru ini disepakati bahwa tidak boleh ada penutupan akses di daerah-daerah perbatasan dan tidak ada larangan bagi kendaraan yang mengangkut logistik.

“Kesepakatan yang kita bangun bersama adalah tidak ada penutupan akses di pelbagai wilayah perbatasan. Aktivitas perdagangan dan pengataran logistik tetap berjalan. Itu tindakan oknum, mereka keliru," tegas Bupati.*