Home Opini Teologi Rakyat dan Zona Kemapanan

Teologi Rakyat dan Zona Kemapanan

STFK Ledalero Mesti Turun dari Bukit Gelar

2,788
0
SHARE
Teologi Rakyat dan Zona Kemapanan

Keterangan Gambar : Louis Jawa, Pastor Desa, Alumnus STFK Ledalero, Angkatan 2000-2004

“Bolehkah saya tahu, kenapa ketika belajar di sini, kalian cerdas dan kritis, namun ketika sudah berkarya di medan tugas, kamu diam dan bungkam?"

“Di mana-mana aku selalu dengar
Yang benar akhirnya yang menang
Itu benar. Benar sekali. Tetapi kapan?
Kebenaran tidak datang dari langit,
dia mesti diperjuangkan
untuk menjadi benar...” — Pramoedya Ananta Toer
 

Bangga dan bahagia bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Kabupaten Sikka, Flores. Namun kerap kebanggaan dan kebahagiaan itu selalu dimurnikan oleh pengalaman kehidupan yang nyata dan penuh dengan dinamika pergulatan. Pada tahun-tahun pendidikan filsafat dan teologi, STFK seperti sebuah kesinambungan perjalanan panggilan dari seminari menengah menuju seminari tinggi, serentak pada saat yang sama, STFK menegaskan independensi dan otonominya sebagai sebuah sekolah bersama yang menaungi konvik-konvik di dalamnya.

Ingatan akan STFK Ledalero di Kabupaten Sikka, selalu mengantar saya pada alur hidup yang menarik dan membahagiakan sekaligus menegangkan dan mendebarkan.  Ketika tiang ingatan kembali membenturkan idealisme pada panas terik mentari dan debu lumpur dunia, STFK Ledalero tetap harus berpihak pada kemanusiaan yang tercabik-cabik.

Tesis sederhana yang bisa dibangun dala tulisan saya ini adalah STFK sebagai inspirasi kecerdasan, keberanian, dan kekudusan dalam perjuangan kebenaran dan keadilan di tengah berhala zona kemapanan saat ini. STFK bukanlah sebuah menara gading dengan begitu banyak filsuf dan teolog di atas bukitnya, STFK harus turun gunung sebagaimana Stephen Bevans, Guru Besar Catholic Theological Union (CTU) Chicago, USA, salah satu narasumber dalam simposium internasional STFK Ledalero, menjadikan Paus Fransiskus sebagai inspirasi inkulturasi kehidupan.

Inspirasi Simposium Internasional

Suasana pembukaan simposium internasional (International Symposium on Philosophy and Contextual Theology) menjelang 50 Tahun STFK Ledalero, terasa agung dan memukau. Datang sebagai seorang pastor desa, dari situasi kehidupan di lapangan yang penuh dengan pergulatan dan pergumulan pastoral, membuat saya terhenyak dan menikmati opening ceremony simposium bertaraf internasional ini.

Sungguh mengagumkan, ketika para pembicara dari berbagai latar belakang ilmu diperkenalkan, disoraki tepuk tangan, dan decak kagum. Simposium dalam bahasa Inggris ini pun tidak tanggung-tanggung menghadirkan pembicara sekelas Profesor Stephe Bevans dengan dua penanggap yakni John Mansford Prior dan Leo Kleden yang adalah dua dosen senior STFK Ledalero; yang satu misiolog, yang lainnya filsuf.

Saya merasa sangat berbahagia bisa kembali ke almamater STFK Ledalero pada hari-hari menjelang 50 tahun usianya. Saya pernah belajar filsafat pada 2000-2004. Sebagai agen pastoral di medan pelayanan langsung, saya memburu keynote speaker Stephen Bevans yang berbicara tentang Paus Fransiskus dan inkulturasi.

Satu kesan kuat yang saya dapatkan dari gagasan teolog Bevans adalah perubahan paradigma keselamatan, yang kini mesti lebih kuat diperjuangkan dalam konteks kehidupan orang-orang beriman. Keselamatan yang sudah harus diperjuangkan dengan mengambil risiko dari semangat kemuridan dan keluar dari zona kemapanan di tengah globalisasi ketidakpedulian. Tanggapan Leo Kleden dan John Mansford Prior juga mempertegas panggilan Gereja di tengah budaya kemapanan dan globalisasi ketidakpedulian itu.

Pertanyaan yang saya ajukan dalam forum internasional ini adalah bagaimana berteologi kontekstual (teologi rakyat, istilah yang diperkenalkan John Prior) di tengah situasi kehidupan nyata? Bagaimana memadukan keberanian, kecerdasan, dan kekudusan dalam praksis berpastoral untuk keluar dari zona nyaman, sebagaimana ditegaskan oleh Leo Kleden? Selama ini keberanian adalah hal yang tabu di STFK Ledalero, dan di lapangan kita berjumpa dengan kenyataan, kaum berjubah terjebak dalam zona kemapanan.

Suara Kritis Samar-Samar

Di suatu senja, ketika istirahat mata kuliah pilihan Teologi dan Sastra, Pater Paul Budi Kleden pernah berujar, “bolehkah saya tahu, kenapa ketika belajar di sini, kalian cerdas dan kritis, namun ketika sudah berkarya di medan tugas, kamu diam dan bungkam?” Pertanyaan Pater Budi hingga kini terus membekas dan seakan susah dilupakan. Tajam, keras, dan menusuk kemapanan dan kenyamanan.

Ada juga kisah seorang mahasiswa yang sangat cerdas, yang dikagumi oleh kami, adik-adik tingkatnya. Ia selalu mengkritik salah satu partai mapan di era Soeharto, kritik-kritik pedas tentang praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Ironisnya kini ia malah berbalik menjadi politikus partai yang dikritiknya.

Baca juga: Ledalero dan Kontekstualisme Filsafat

Tidak jarang pula, kaum tertahbis dan kaum awam tamatan lembaga ini melupakan pentingnya suara kenabian. Kedekatan dengan penguasa yang korup dan lalim, malah dianggap sebagai kebajikan yang msenguntungkan. Kelekatan dengan pengusaha yang menindas alam ciptaan justru semakin meningkatkan pundi-pundi, lalu suara kenabian dibuang ke dalam rak buku yang penuh debu.

Kadang ada celoteh, “Untuk apa bersikap kritis seperti pahlawan kesiangan? Hidup aman-aman saja, yang penting bisa harmonis dengan semua orang. Buat apa omong sampai mulut berbusa tentang korupsi, toh mereka juga menyumbang untuk pembangunan dapur pastoran, ruang kelas baru, dan sumbangan buku untuk perpustakaan di sekolah swasta yang hampir punah?”

Kekuasaan dan kekayaan dalam dirinya sendiri memang tidak pernah salah, tidak pernah dosa atau keliru. Dalam praksis hidup sehari-hari, kita toh menemukan dimensi ketamakan dan kerakusan yang membuat manusia kehilangan jati diri dalam kemapanan dan kenyamanan.

Paul D’Archy dan Eugene Kennedy dalam The Genius of Apostolate (1966: 7) menegaskan tugas kegembalaan untuk melayani kebutuhan umat manusia yang paling hakiki yakni kebutuhan manusia akan makna hidup, peneguhan dalam ketakberdayaan, dan krisis serta belas kasihan yang membebaskan.

STFK Ledalero mengemban misi menyebarkan keharuman itu di tengah zaman yang tidak mudah. Ledalero tidak sekadar romantisisme masa lalu, melainkan juga lebih dari itu, sebagai anamnesis demi pembebasan dari belenggu. Kekudusan altar  mesti bercampur peluh pada jeritan tangisan dunia akan ketidakadilan, kemiskinan, dan kekerasan.

Memperjuangkan Berkat

Pater Georg Kirchberger, dalam khotbahnya saat misa dies natalis (11 Februari 2017), mengungkapkan betapa lembaga STFK Ledalero mesti menjadi sumbangan dan sarana yang baik di tangan Tuhan yang bisa membantu orang untuk keluar dari kemalangan. STFK Ledalero mesti selalu berorientasi pada manusia, bukan terutama untuk mendapatkan akreditasi. STFK Ledalero ada untuk membantu mahasiswa agar bisa menjadi roti yang baik.

Gagasan Kirchberger sesungguhnya kembali menempatkan dimensi masa kini dan masa depan dalam satu kesatuan, tak terpisahkan. Alumni lembaga ini terpanggil untuk sungguh-sungguh menampilkan kualitas hidup dan tidak terjebak dalam sandiwara kehidupan penuh kepentingan instan.

Baca juga: Human Trafficking, Luka Borok pada Tubuh Kemanusiaan

Di derap keperkasaan kuasa dunia, apa yang disebut iman dan ilmu tak boleh diam dan bungkam. Ini sebuah kritikan amat tajam pada realitas kita, ketika kaum berjubah dan umat beriman kristiani mulai mencari aman sendiri-sendiri. Menjual imannya dengan kuasa dan kekayaan. Mengutip Johan Baptist Metz, iman tak bisa diam. STFK Ledalero dengan sejumlah perangkat pembelajarannya, tetaplah harus menjadi inspirasi untuk terus bersuara kritis di tengah zona kuasa yang mapan dan nyaman.

Selamat ulang tahun STFK Ledalero. Panggilan untuk mencintai dan mengabdi kebenaran tidak turun dari langit. Ia harus diperjuangkan. Ide-ide setinggi langit mesti dibumikan dalam kenyataan sosial, butuh hati yang bening dan berani untuk menabrak tembok keangkuhan diri dan keangkuhan dunia.

Oleh Louis JawaPastor Desa, Alumnus STFK Ledalero, Angkatan 2000-2004