Home Cerpen Terang di Kegelapan Siang (Narasi Karya Gerard N. Bibang)

Terang di Kegelapan Siang (Narasi Karya Gerard N. Bibang)

302
0
SHARE
Terang di Kegelapan Siang (Narasi Karya Gerard N. Bibang)

DHIA (=NADIA) dan Za (= Reza) adalah dua mahasiswa ilmu komunikasi di Kampus Semanggi Unika Atma Jaya, masing-masing pada saat menyelesaikan tugas akhir matkul Media, Publik, dan Politik (MPP).

Tugasnya ialah membuat video politik. Pada salah satu siang, mereka bertemu di kantin dan terjadilah percakapan berikut.

Sebuah Ilmu?

Dhia, Dhia, by the way, boleh nanya yang agak serius gak.

Sure, Za.

Aku tu masih bingung.

Kenapa?

Ini lho, yang kita kerjakan ini termasuk ilmu gak sih? Ini kan sebuah praksis.

What’s wrong with you then?

Nothing wrong, Dhia. Pikirku, ilmu itu hanya teori, yang kita dengar di kelas dan sebagian besar lainnya yang kita baca. That’s it!

Alaaaa, kamu neh, buat pembedaan yang gak perlu. Mengada-ada.

Kenapa?

Menurutku, teori dan praksis, bolak-balik adalah ilmu. Aku nanya kamu Za, apakah praksis yang kita buat sekarang ini sama sekali terlepas dari teori yang dosen tua itu sampaikan di kelas?

Gak.

Nah, pertanyaanmu sudah kamu sendiri jawab.

Hahahahaahahahahahaaaa

Lho kenapa ketawa? Lucu ya, hahahahaahahaha.

Hahahahhaa, loe ah, nanya-nanya lucu tapi kamu sendiri ketawa.

Iyah yah, mungkin ini yang namanya kegembiraan intelektual, seperti yang dosen MPP kita bilang. Ingat gak kamu?

Alaaaa, loe lagi, kayak gak tahu aja bapak tua kita itu. Orangnya senang buat istilah-istilah.

Tapi enak juga sih. Istilah-istilahnya bukan yang mengada-ada melainkan selalu terkait dengan materi yang ia sampaikan.

Setuju, setuju. Apakah istilah-istilah itu termasuk ilmu juga?

Menurutku, iyah. Karena istilah-istilah yang sering bapak sebutkan dengan terminologi itu adalah semacam rangkuman atau pemadatan dari sebuah sintesis.

Tesa, maksudnya?

Tesa siapa, Dhia? Oh ya, tahu, tahu. Yang baru pulang dari Gelschenkirchen, Jerman itu kan?

Bukan! Itu Maria Theresia. Bego loe. Dia gak kelas sama kita. Dia di kelas Komunikasi Politik dan Manajemen Produksi Radio.

Hahahahaahahahaha, makanya tolong dijelaskan.

Okey, tesa yang aku maksudkan ialah sinonim dari kata tesis.

Oh tesis. Betul, terminologi adalah pemadatan atas sebuah tesa.

Kalau begitu, yah, itu juga ilmu.

Iyah yah, benar bapak dosen MPP kita itu. Dia gak sekadar bercanda kalau sebut terminologi baru setiap kali pertemuan. Padahal dia banyak candanya lho.

No problem, bagiku. Karena itu hanya the way he explains. Masih ingat gak kamu Za? Dia pernah bilang, you are WHAT your are talking tapi pada zaman peradaban informasi ini, your are THE WAY your are talking.

Ya masih ingat. Aku ingat sekarang. Kemarin waktu awal kuliah MPP, kalau gak salah, dia pernah bilang, your are the MEDIA you are talking!

Bukan ke Surga

Betul, betul. Aku juga ingat itu. Jadi, jelas kan sekarang, Za. Apa pun yang kita lakukan adalah ilmu.

Aku sepakat. Kita manusia memang wajib koq untuk berilmu. Panggilan kemanusiaan!

Waduh! Nggak salah tu, kamu gunakan istilah filsafat.

Lho, apa yang salah?

Gak juga, Za. Kaget aja. Benar kamu bilang. Allah dan Rasulullah bukan hanya menganjurkan, melainkan bahkan mewajibkan manusia mencari ilmu.

Betul! Ilmu menuju surga supaya kita tahu jalan menuju Allah.

Eh, gak begitu juga.

Lho

Gini lho, Za. Dengan berilmu, kita jangan terjebak dengan menyangka bahwa ilmu adalah jalan yang membuat kita sampai kepada Allah. Apalagi tingkat dan jenis ilmu yang hanya diwujudkan menjadi teknologi keduniaan, kemajuan materialistik, dan keberhasilan semua di atas bumi.

Kenapa? Bukankah akhir-akhirnya hidup kita ini ke sana. Iyah gak?

Ini aku jelasin dulu. Mengapa jangan terjebak. Karena ilmu, pengetahuan, kehebatan, kekayaan dunia, keperkasaan, kekuatan, kekuasaan, dan apa pun yang dibangga-banggakan dalam peradaban manusia, bukanlah bekal atau potensialitas yang berguna untuk mencapai Tuhan.

Bentar, bentar, Dhia! Sudah mulai enak neh diskusinya. Kalau bilang jangan terjebak dengan jalan ilmu, bahwa ilmu tidak dengan sendirinya mengantar manusia kepada Allah. Lalu, harus gunakan jalan mana? Kamu tu e, jangan bikin aku bingung.

Jalan cinta.

Hah, cinta?

Iyah, karena cinta. Bertemu dengan Allah didasarkan pada kerinduan. Dan kerinduan hanya lahir dari cinta.

Weleweleeeeeee, filsafat lagi loe.

Ah, filsafat gimana. Semuanya karena cinta. Itulah satu-satunya urusan manusia dengan Allah. Sementara umat manusia sedunia di zaman akhir-akhir ini, berabad-abad yang mereka sebut abad-abad kecerahan dan kemajuan, yang sekarang mereka sebut abad milenial digital, abad akselerasi informasi, dan sebagainya, semua itu yang mereka bangun adalah segala sesuatu yang tidak laku di hadapan Tuhan. Mata uang peradaban mereka tidak ada harganya di loket surga.

Wouwww, berarti yang laku hanya mata uang cinta. Hahahahaahahah, ayo ayo waeeeee

Hahahahaahahaha, cinta, semua karena cinta. Sudah sangat berterus terang Allah mengungkapkan kesungguhan dan kesetiaan cinta-Nya. Hanya saja secara terang-terangan dan mantap rata-rata ideologi dan konsep pembangunan abad 21 dan abad milenial digital ini mengedepankan manusia yang malah mengejek dan melecehkan kesungguhan cinta-Nya, komitmen dan kesetiaan-Nya.

Buktinya?

Banyak! Coba kamu hitung sendiri waktumu! Berapa yang diperuntukkan bagi Allah dan berapa yang diperuntukkan bagi smart phone-mu?

Terang di Kegelapan Siang

Dhia, Dhia…

Kenapa Za? Do you agree?

I do. Kamu telah mengubah pola pikirku, Dhia. Serius, aku benar-benar surprise! Berubah banget. Kalau hanya cinta yang bisa ke surga dan bertemu Allah, lalu apa guna ilmu yang diwajibkan untuk kita kejar.

Thanks for your compliment, Za. Sama-sama-lah, kita saling mencerahkan. Tentang ilmu, menurutku gak sia-sia kita mengejarrnya dan gak bertabrakan dengan cinta.

Maksudnya?

Ilmu membantumu untuk menyuburkan cinta, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, jalan ilmu menuntunmu ke jalan cinta.

Indah banget. Kamu gak sedang berpuisi kan?

Hahahahaahahaha, Za, Za. Omong biasa koq dibilang puisi, bagaimana kalau puisi beneran?

Tapi bagiku, masih abstrak. Gimana sih ceritanya, ilmu menjadi cinta?

Aku gunakan bahasa simbolik saja. Ilmu membuat kita manusia menjadi terang di kegelapan siang. Pada siang hari, manusia memproduksi peradaban yang semuanya tidak menuju Allah. Tidak mengarah kepada cinta. Hanya kepada kepuasan dirinya sendiri, orang-orangnya sendiri, kelompoknya, agamanya, dan daerahnya. Karena gak menghasilkan cinta, maka aku sebut semua itu adalah kegelapan.

Ohhhhhh. Lalu apa tugasku dengan ilmuku?

Kamu harus menjadi terang di tengah-tengah kegelapan siang. Menjadikan dirimu jalan cinta. Menjadi saksi bahwa ilmu yang engkau peroleh dapat engkau gunakan untuk mengembangkan cinta. Jadilah terang!

Sulittttttttt banget, Dhia. Aku gak berani. Nanti dilawan oleh semua orang. Gak kuat aku. Benar. Gak kuat aku!

Aku tahu. Ini ya aku kasi tahu. Umumnya ada beberapa alasan mengapa orang takut menjadi terang di siang hari.

Okey, explore a bit, please!

Pertama, berdasarkan beberapa pengalaman di antara orang-orang terang, kalau mereka menceritakan terang, masyarakat di sekitarnya menyimpulkan bahwa si pencerita itu orang gila, atau orang sesat, atau orang kafir, atau orang takhayul, atau orang bida’ah. Masih untung kalau sekadar dituduh sebagai orang lucu atau tukang ngibul.

Terus, terus.…

Nah, yang kedua, kebanyakan orang-orang itu tidak memiliki alat untuk memahami, apalagi memercayai apa yang diungkapkan oleh orang-orang terang. Ketiga, mereka menyangka bahwa terang adalah yang tampak pada mata mereka.

Apa itu terang bagi mereka?

Tentu gak seperti yang kita maksudkan.Terang bagi mereka adalah sesuatu yang membuat benda-benda bisa dilihat oleh mata mereka. Dan apa itu benda bagi mereka? Ialah segala hal yang bisa mereka lihat dengan mata telanjang. Benda-benda itu ialah uang dan kemewahan.

Paham, paham. I understand now, Dhia.

Hah, bawah-mu lagi berdiri ya, hahahahahahahaha.

Hahahahaahahaa, masih ingat aja loe bapak tua pengajar MPP kita, yang bilang under artinya di bawah, stand artinya berdiri, hahahahaahahaha.

Hahahahahaahahahaaa, maaf ya Za. Just kidding!

My pleasure, Dhia. Terima kasih untuk shering yang mencerahkan ini. God bless u. Muahhhhhh!

Eitttsssss, social distancing. Gak boleh ciuman, awas covid-19.*


(Taman Aries, Jakarta, 22 Juli 2020)